Konsepsi Bakti Anak pada Orang Tua

5 menit baca
Teks:
WhatsApp

Suatu ketika saya pulang dari bepergian menggunakan taksi online. Selanjutnya, seperti biasa tanya jawab seputar keluarga dan anak yang pada akhirnya berujung tentang pengalamannya mempunyai pelanggan seorang perempuan yang terbilang cukup berada. Perempuan yang diperkirakan hampir menginjak 70 tahun itu sudah menjadi langganan setia karena hampir setiap minggu diantar untuk melakukan terapi ke dokter orthophedi. Perempuan itu memiliki tiga orang anak lelaki yang sudah ia biayai kuliah sampai ke luar negeri. Sekarang, ketiga putranya masing-masing sudah berkeluarga. Namun sayang, tidak seorangpun menantunya yang baik akhlaknya, malah anak-anak perempuan itu sudah jarang mengunjunginya yang sudah tinggal sendiri dan hanya bertemankan seorang tukang kebun.

Suatu ketika, perempuan itu menangkap pembicaraan salah seorang menantunya yang berniat menitipkannya ke panti jompo. Tentu saja perasaan marah, kecewa berkecamuk menjadi satu dalam perasaan perempuan paruh baya itu. Terlebih lagi anak kandungnya mendukung sang istri untuk memasukkan ibunya ke sebuah panti jompo. Terbayang, tentunya tak terbendung air mata pasti mengalir deras di pipi perempuan yang sudah keriput seiring bertambahnya usia itu. Singkat cerita, perempuan itu menghibahkan rumahnya yang senilai  8 miliar itu kepada sebuah yayasan dan ia sudah menyerahkan semua berkasnya pada salah seorang notaris kepercayaannya tanpa sepengetahuan ketiga anak-anaknya, Masyaallah. Saya yang mendengar kisah itu, tak terasa meneteskan air mata. Tak terbayang betapa sedihnya perempuan itu.

***

Ada juga kisah yang tak kalah memilukan, seorang ibu yang sudah sepuh, mengantarkan dirinya sendiri ke panti jompo dengan alasan anak-anaknya sudah jarang mengunjunginya lagi, padahal rumah mereka berdekatan. Sangat miris sekali.

Melihat kejadian-kejadian di atas, saya berpikir, alangkah mudahnya manusia melupakan jasa orang lain. Terlebih orang tersebut adalah ibu kandungnya sendiri. Padahal dalam sebuah hadis Rasulullah Saw., yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu, mengulang kata “ibu” sebanyak tiga kali untuk dipatuhi. Hadis ini menunjukkan betapa Rasulullah Saw. menekankan manusia untuk selalu berbuat baik kepada ibunya; karena derajat kemuliaan orang tua yang harus didahulukan untuk dimuliakan adalah ibu, kemudian barulah bapak. Hal ini terjadi karena sang ibu telah mengalami kesulitan dan penderitaan dengan menahan rasa sakit yang luar biasa, bahkan ada yang sampai mempertaruhkan nyawanya ketika melahirkan;  kemudian menyusui dan mengasuhnya hingga membesarkannya dengan penuh kasih. Saya jadi teringat dengan kisah Malin Kundang yang durhaka, kemudian ibunya mengutuknya menjadi batu. Walaupun kisah tesebut hanya sebuah cerita rakyat, namun dapat kita jadikan pembelajaran.

Bukankah kita wajib berbuat baik kepada kedua orang tua yang telah melahirkan dan mengauh kita? Berbuat baik menurut Immanuel Kant adalah suatu yang tanpa batas. Meminjam istilah filsasat Immanuel Kant (1724-1804), seorang filsuf berasal dari Konigsberg, yang membedakan antara akal budi (verstand) dengan rasio (vernunft). Bagi Kant, akal budilah yang selama ini manusia fungsikan dalam menanggapi dan memahami sesuatu yang menjadi pengetahuan. Dorongan dari “akal budi” inilah yang memberi kewajiban berupa kebaikan dari diri sendiri, tanpa adanya motif dan dorongan dari berbagai arah. Masih menurut Kant, bahwa segala hal yang timbul sebagai akibat dari suatu tindakan atau perilaku tidak memperlihatkan etika yang sebenarnya; sebab masih memandang perlu adanya sebab akibat yang timbul dari perbuatan tersebut. Kewajiban yang menjadi dasar tindakan manusia haruslah menjadi sesuatu yang meniscayakan dalam setiap perbuatan.

***

Birrul wâlidayn adalah perbuatan baik anak terhadap kedua orang tuanya sebagai bentuk kebaktian, sehingga kedua orang tua mendapatkan kebahagiaan. Dengan demikian, berbuat baik dilakukan dengan ikhlas dan kebaikan (ihsan) kepada orang tua dalam hal perkataan, perbuatan, dan niat. Secara istilah, birrul wâlidayn adalah berbakti, taat, berbuat ihsan, memelihara keduanya, memelihara di masa tua, tidak boleh bersuara keras apalagi sampai menghardik mereka, mendoakan keduanya terlebih lagi setelah wafat, dan sebagainya, termasuk sopan santun yang semestinya terhadap kedua orangtua

Keduanya merupakan pengaruh besar dalam perkembangan seseorang dalam menjalani kehidupan. Memberikan pengabdian dan sikap baik kepada kedua orangtua merupakan suatu keistimewaan setiap muslim. Sebab, Islam mendorong pemeluknya untuk berbakti kepada kedua orang tua seperti dalam nash-nash Al-Qur’an dan Sunah Rasulullah. Pengorbanan orang tua dalam medidik anak dan merawat merupakan jasa yang tidak dapat kita balas dengan apapun.

Kebaikan seorang anak terhadap orang tua pun tidak sebanding dengan perjuangan dan pengorbanan yang telah orang tua lakukan. Untuk itu Allah Swt. memerintahkan agar berbuat baik kepada orang tua melalui Firman-Nya pada QS. Al-Isra (17): 23, “…jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang…”

Kandungan ayat ini menunjukkan bahwa kaum muslimin memiliki kewajiban untuk berbakti kepada kedua orang tua dengan kebaktian yang sempurna dengan menjaga mereka sebaik mungkin hingga usia tuanya dengan sikap lemah lembut dan penuh penghormatan. Senada dengan ayat ini adalah Surat Al-An’âm (6) ayat 151, yang mewajibkan seorang anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya.

***

Transformasi akhlak Islam dalam diri manusia dimulai sejak usia bayi bahkan sedari masih dalam kandungan ibunya. Kemudian setelah lahir, tumbuh besar melewati fase anak-anak, remaja, dewasa, hingga tua.

Saya pernah mendengar ceramah salah seorang ustad di radio Islami, yang mengatakan jika bakti seorang anak (Birrul wâlidayn) dinilai dari tiga hal, yaitu; pertama, apabila orang tuanya sudah tua dan pikun. Kedua, apabila orang tuanya sudah tak lagi memiliki harta yang banyak. Ketiga, apabila orang tuanya menderita sakit. Ukuran kesabaran dari ketiga hal di atas merupakan batu ujian yang harus seorang anak lewati, jika dia bisa melakukannya dengan sabar dan ikhlas, maka dia lulus. Sebaliknya jika dia tidak sanggup untuk bertahan, maka dia gagal. Pemahaman yang masuk di akal, sebab jika orang tua masih memiliki segalanya dalam hal fisik (masih muda dan kuat); masih memiliki harta (kedudukan), kesehatan, maka tentunya seorang anak masih merasakan kenikmatan untuk tidak perlu mengurusinya, bahkan kemungkinan anak tersebut masih ditopang oleh orang tuanya karena belum mampu untuk mandiri.

Bagikan:
Penulis 1 Tulisan

Erlies Erviena

Penulis dan kontributor aktif di Rahma.ID, menyajikan inspirasi, pemikiran, dan pandangan yang mencerahkan bagi perempuan dan keluarga muslimah.

1 thought on “Konsepsi Bakti Anak pada Orang Tua”

Leave a Comment