f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pelakor

Narasi Egaliter dalam Rumah Tangga

Bagaimana membangun rumah tangga yang egaliter?

Keluarga menjadi representasi lembaga terkecil dari suatu masyarakat yang di dalamnya mempunyai beberapa anggota, umumnya terdiri dari ayah, ibu dan anak. Sama dengan institusi atau lembaga lainnya, di dalam suatu keluarga, juga ada nilai-nilai yang dibangun dan disepakati bersama antara anggota keluarga satu dengan lainnya.

Kesepakatan membangun nilai bersama itulah yang disebut sebagai konsensus. Maka untuk melanggengkan konsensus inilah memerlukan sebuah seni berkomunikasi. Maka ketika seseorang gagal berkomunikasi, konsensus tidak tercapai. Tidak tercapainya konsensus dalam pengambilan keputusan ini muncul dari beragam faktor baik internal maupun eksternal. Faktor internal berasal dari anggota yang ada dalam keluarga sedangkan faktor eksternal berasal dari luar anggota keluarga.

Tidak tercapainya konsensus dalam pengambilan keputusan bisa berakibat konflik ringan yang memiliki dampak akhir salah satunya adalah perceraian. Melihat bagaimana realita yang ada fenomena perceraian ini didasarkan oleh beragam alasan. Konflik yang terjadi seringkali ditengarai karena ketidakpahaman hak dan kewajiban masing-masing individu sehingga memunculkan apa yang disebut dengan ketidaksetaraan (inequality) dalam hubungan antara suami dan istri. Narasi ketidaksetaraan ini tidak muncul dari ruang hampa, tetapi narasi ini muncul melalui perjalanan sejarah Indonesia itu sendiri.

Kemunculan Inequality dalam Rumah Tangga. 

Di Indonesia, erat kaitannya dengan dikotomi antara domestik dan publik bahwa yang berkewajiban menyelesaikan peran domestik adalah seorang perempuan, dan pekerjaan publik adalah seorang laki-laki. Pembagian peran ini digaungkan dari beragam narasi di antaranya :

Salah satu faktor dominan—karena pembagian peran antara laki-laki dan perempuan begitu dipengaruhi oleh adanya rezim yang sedang berkuasa. Di zaman Orde Baru dapat kita jumpai adanya ‘Dharma Wanita’. Ketika dibaca dari sisi pengaruh yang dihasilkan, rezim ini memposisikan perempuan sebagai subjek domestik dalam lingkup keluarga atau mendomestifikasi perempuan.

Isi dari Dharma Wanita di antaranya (1) Wanita sebagai istri pendamping suami, (2) Wanita sebagai ibu rumah tangga, (3) Wanita sebagai penerus keturunan dan pendidik anak. (4) Wanita sebagai pencari nafkah tambahan, dan (5) Wanita sebagai warga negara dan anggota masyarakat. Tegaknya rezim tersebut tidak lepas dari hasil oleh pikir manusia yang ketika dikontekstualisasikan pada kondisi ketidaksetaraan ini; manusia sebagai subjek turut berperan menciptakan narasi ketidaksetaraan tersebut. Subjek yang menarasikan berlatar dari ideologinya masing-masing.

Baca Juga  Faktor Budaya Banyak Mempengaruhi Maraknya Perkawinan Anak

Perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan. Dalam konteks teori nature dan nurture, klasifikasi konsep gender ini hadir dalam dua landasan yang berbeda. Teori nature menganggap, perbedaan laki-laki dan perempuan bersifat kodrati (taken for granted). Kemudian, perbedaan anatomi biologis antara laki-laki dan perempuan menjadi faktor utama dalam pembagian peran sosial dua jenis kelamin tersebut.

Laki-laki berperan utama dalam masyarakat karena dianggap lebih potensial, lebih kuat dan lebih produktif. Sedangkan perempuan dengan organ reproduksinya (hamil, menyusui dan menstruasi), dinilai memiliki ruang gerak terbatas. Perbedaan itulah yang akhirnya menciptakan pemisahan peran dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki berperan di sektor publik dan perempuan di sektor domestik.

***

Teori nurture beranggapan adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan tidak ditentukan oleh faktor biologis melainkan hasil konstruksi masyarakat. Sehingga peran sosial di mana peran domestik mutlak milik perempuan dan publik mutlak milik laki-laki yang selama ini dianggap baku sesungguhnya bukan kehendak Tuhan dan tidak juga sebagai produk determinisme biologis, melainkan sebagai hasil konstruksi sosial (social construction).

Adapun hal-hal yang terkonstruksi lama yang diproduksi secara terus-menerus akan menciptakan apa yang disebut ‘budaya’. Melihat sejarah konstruksi sosial masyarakat dalam kehidupan rumah tangga, perempuan bekerja mengurus rumah tangga sedang laki-laki bekerja di luar rumah yang kemudian menjadi suatu kebiasaan sehingga membentuk pola pikir di manapun keberadaan perempuan di Indonesia khususnya.

Realita di masyarakat, dalam budaya jawa kodrat perempuan disyaratkan perempuan harus lembut, pasif, patuh, pemalu secara seksual, bahkan suka mengorbankan diri sendiri demi kepentingan orang lain (self-sacrificing) dan seorang pemelihara (nurturing).

***

Melihat bagaimana realita yang ada berkaitan dengan rumah tangga, yakni adanya fenomena perceraian. Dalam jurnal yang dituliskan oleh Widiantari dkk (2018)

Baca Juga  Pentingnya Membangun Karakter Positif Perempuan

“..the most reasons that causes divorce in Indonesia especially are disharmony, lack of responsibility, economic problems, and infidelity. A lot of studies about divorce indicate the influence of information globalization and industrialization.”

Berkembangnya teknologi digital sekarang ini permasalahan rumah tangga masih tetap sama, yang menjadikannya berbeda adalah meningkatnya cerai gugat di Indonesia dalam kurun waktu 5 tahun berdasarkan data BPS 2011-2015.

Indonesia is a country that embraces patriarchal culture, and the increase of cerai gugat (a divorce asked by the women) is an interesting phenomenon. The patriarchal culture take women’s position in the subordination of men, and decision makers in the family are husbands. The increasing of cerai gugat can be said as a form of resistance to patriarchal culture.

Narasi yang dibangun pada umumnya seminar parenting adalah komunikasi yang dibangun antarindividu dalam rumah tangga. Cara dalam berkomunikasi menjadi faktor signifikan untuk menjalankan bangunan rumah tangga yang lebih egaliter, karena dengan adanya komunikasi maskud dan tujuan dari pikiran seseorang akan mengalami penyesuaian dengan pencernaan dari pihak lain.

Membangun Paradigma Egaliter.

Penulis beri satu contoh aksi nyata dari sebuah institusi non formal yakni Sekolah Calon Ayah di Yogyakarta. Institusi ini membawa visi perubahan dalam paradigma atau cara pandang seseorang. Melalui cara ini harapannya terjadi transformasi berpikir dalam upaya membangun rumah tangga egaliter. Rumah tangga egaliter seperti apa yang ada pada Sekolah Calon Ayah? Berdasarkan konsep atau nilai Islam. Adapun tafsir atas egaliter dalam islam sendiri sangatlah beragam.

Salah satu penjelasan di website Rumah Fiqih Indonesia yang identik menjawab berbagai permasalahan sehari-hari perihal fiqih, topiknya berjudul “Istri Bukan Pembantu” di mana pada dasarnya Islam sangat memuliakan derajat para perempuan. Dengan demikian umat Islam tidak membutuhkan perayaan simbolis seperti adanya hari kartini atau Mother’s Day untuk menjadikan satu hari special seorang istri atau ibu tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Dalam islam menunjuk pada realitas bahwa hukum seorang istri memberi nafkah untuk suami tidak wajib.

Baca Juga  Berarti Perempuan Boleh Poliandri Dong?

Untuk bisa memahami sekaligus menjawab pertanyaan awal tadi, bahwa membangun rumah tangga yang lebih egaliter terletak pada proses dan kesadaran akan konsep untuk tidak saling mendominasi atau merasa superior atas yang lain. Adapun realita yang terkadang tidak sesuai dengan konsep rumah tangga dalam Islam, dikembalikan sejauh mana subjek mengimplementasikan konsep/nilai Islam tersebut. Karena realita berkaitan erat dengan latar belakang pengetahuan dan pengalaman seseorang dalam sebuah masyarakat.

Sebuah konsep tidak bisa dibenturkan dengan realita utamanya pada masyarakat bukan pada individu. Realita yang ada di masyarakat berhubungan erat dengan pengalaman orang perorang, sehingga tidak bisa kita simpulkan bahwa ‘islam ini gimana sih bla bla bla.. secara konsep dan realitanya berbeda..’ sebelum kita menyimpulkan demikian, agaknya kita perlu mempelajari bagaimana Islam secara konseptual sekaligus melihat realita masyarakat. Rahmania , kita berharap bisa lebih terbuka untuk melihat apa yang sejatinya menjadi konsep Islam dan perbedaan realita yang ada karena perilaku individunya.

Referensi :

Widiantari, Maria M, dkk. 2018. Divorce Pattern Shifting in Indonesia : Sosial Media Impact. Surakarta Sebelas Maret University.

Uyun, Qurtotul. 2002. Peran Gender dalam Budaya Jawa. Yogyakarta. Universitas Islam Indonesia. PSIKOLOGIKA Nomor 13 Tahun Vll 2002

UNICEF. 2007. The State of the World’s Children . Equality in the Householdhttps://www.unicef.org/sowc07/docs/sowc07_chap2.pdf

Smith, David G dan Johnson W. Brad. 2020 Gender Equity Starts in the Homehttps://hbr.org/2020/05/gender-equity-starts-in-the-home.

Bagikan
Post a Comment