Kakek
“Garuda Pancasila
Akulah pendukungmu
Patriot Proklamasi
Sedia berkorban untukmu
Pancasila dasar Negara
Rakyat adil makmur sentosa
Pribadi bangsaku
Ayo maju-maju, ayo maju-maju
Ayo maju-maju.”
Sayup-sayup terdengar lagu Garuda Pancasila dari kamar kakek. Dengan antusias beliau ikut bernyanyi mengikuti irama lagu tersebut, walaupun liriknya tidak terlalu ingat lagi. Lagu berikutnya adalah lagu Rayuan Pulau Kelapa. Aku ingat sekali di sekolah dasar dulu ketika pelajaran kesenian aku sangat suka lagu ini. Ah, memori masa kecilku mengalir dalam lamunan.
***
“Hayoo, Lila! Kamu mikirin apa sampe mangap gitu?” tanya Kakekku yang ternyata sudah ada di ruang tamu.
Aku tersenyum malu. “Nggak mikirin apa-apa, Kek. Lila suka lagu ini, eh keinget pas SD dulu, hehee,” jawabku malu.
Beliau duduk di sampingku seraya menyalakan rokok kreteknya.
“Kakek juga suka lagu ini. Dan semua lagu nasional kita, Kakek suka sekali.”
Dihirupnya pelan rokok berlogo jambu tersebut, menghembuskan asap lalu beliau mulai bercerita.
“Lagu-lagu tersebut seakan memberi energi lagi untuk Kakek. Membuat Kakek teringat ketika ikut membela Negara kita ini jaman dulu, membantu Kakek mengenang teman-teman seperjuangan.” Beliau terdiam sejenak, kemudian mengisap rokoknya lagi dan menerawang. “Kakek masih ingat sekali ketika dulu belum banyak orang yang punya televisi atau radio, surat kabar juga masih beberapa saja yang terbit, lagu-lagu tersebut diperkenalkan melalui selebaran-selebaran yang ditempel di dinding. Kakek dan teman-teman menghapal lagu-lagu itu dan mencatat ulang untuk diperbanyak….”
“Yaa… begitulah caranya biar seluruh masyarakat tetap semangat untuk berjuang melawan penjajah.” Cerita beliau membuatku makin mengaguminya. Di usianya yang ke delapan puluh lima, beliau masih gagah seperti di foto pernikahannya dengan nenek.
***
“Tapi, Kek. Kenapa sekarang tidak ada lagu-lagu nasional lagi yang diciptakan?” tanyaku ketika Kakek hendak mengganti kaset lagu nasional yang diputarnya di radiotape tua kesayangannya.
Beliau tersenyum kepadaku. “Kakek juga nggak tau, Lila sayang.”
“Mungkin para pengarang lagu kehabisan ide jaman sekarang ini,” lanjut beliau yang menikmati lagu berikutnya, Ibu Pertiwi.
Kakekku seorang pejuang. Beliau rela meninggalkan sekolahnya di pulau Jawa kala itu untuk ikut berjuang melawan penjajah di daerahku, Pulau Sumatera. Beliau yang gagah dan tampan, dengan berani ikut membantu daerah yang diduduki oleh Belanda untuk balik menyerang agar tidak takut untuk bangkit. Di daerah itu pula Kakek bertemu dengan Nenek, seperti kata pepatah – pucuk dicinta ulam pun tiba.
Nenekku kala itu masih sekolah keputrian di tingkat menengah atas, bertemu kakekku yang bertugas menjaga di Rumah Sakit milik pemerintah. Entah bagaimana lengkapnya mereka bisa menjadi sekawan lalu serius menjadi pasangan. Masih terpajang foto masa muda mereka di ruang tamu, yang kini menjadi tempat beliau menghabiskan waktu siang hingga petang.
***
“Tok..tok..tok..!”
“Pos!”
“Iyaa…sebentar.”
“Siang, dek. Benar ini alamatnya Bapak Masni Wijaya?” tanya Pak Pos begitu aku membukakan pintu.
“Itu nama kakek saya, Pak. Benar.” Wah surat untuk Kakek ternyata. “Suratnya buat Kakek, ya, Pak?”
“Iya, ini ada surat untuk Bapak Masni Wijaya dari Presiden, dek.”
Presiden mengirim surat untuk Kakek? Apa aku sedang bermimpi di siang hari? Setelah menerima surat tersebut, aku langsung menghambur ke ruang tengah, tempat Kakek sedang bersantai di kursi malasnya.
“Siapa yang dateng, Lila?”
“Kek! Ada surat buat Kakek!” Antusiasku hampir membuatku terpeleset.
“Oh, ada surat. Untuk Kakek? Masih ada ya, yang ngirim surat jaman sekarang, haha.”
“Dari Presiden, Kek. Suratnya dari Presiden!” jawabanku membuat beliau terkejut seraya menyuruhku untuk membuka dan membacakan surat itu.
***
“Kepada Yang Terhormat Kapten Masni Wijaya.
Saya, selaku Presiden Republik Indonesia berterima kasih atas perjuangan dan pengorbanan Saudara semasa Indonesia dilanda penjajahan. Oleh karena itu, Saya mengundang Saudara untuk hadir dalam acara:
“Penghormatan Bagi Pahlawan Bangsa”
Jumat, 10 November 2014
Pukul 19.00 – 21.00
Di Istana Kepresidenan Republik Indonesia
Terima kasih, atas jasa-jasa Saudara.
Semoga Tuhan senantiasa menjaga kita.
Tertanda, Presiden Republik Indonesia.”
Beliau menitikkan airmata haru. Surat yang begitu singkat itu mengalirkan ingatan beliau, mengaburkan pandangan yang selama ini menatap kosong ke kenangan lama. Hanya dengan selembar surat, kebahagiaan dapat diraih kembali, memang hanya selembar surat, namun bagi beliau itu merupakan pengakuan dan penghormatan yang sangat besar. Terbayang Kakek kembali mengenakan seragamnya dulu, yang selama ini tergantung di sudut lemari tanpa tahu kapan akan dipakai lagi.
“Kek, Lila bangga sama Kakek!” pelukku erat.
***
Senyumnya yang membalas perkataanku. Beliau belum mampu berkata-kata. Terkejut. Takjub. Masih tidak percaya. Malam itu menjadi malam yang tidak terlupakan. Beliau bertemu beberapa teman lamanya, pasukannya, dan terutama bertemu Presiden yang memberikan medali bagi seluruh pejuang yang hadir di sana. Apalah arti sebuah medali. Namun dengan medali itu, semangat beliau kembali hadir.
“Sari, aku diundang ke Istana Presiden,” lirih terdengar suara Kakek sambil memandang foto Nenek dengan mata berkaca-kaca.
Aah, jika Nenek masih hidup, pasti akan senang sekali bisa hadir mendampingi Kakek ke sana. Menggandeng lengan sembari tersenyum bahagia atas penghargaan dari Negara ini. Nek, biar Lila yang menemani Kakek ke sana ya.
Dosen UIN Raden Fatah Palembang; PWNA Sumsel
