f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kucing kecil

Kucing Kecil dan Kebahagiaan

Pagi masih lumpuh tertahan sinar matahari yang terikat mendung. Tiga gelas air putih telah habis terteguk oleh gadis belia yang berusaha menahan kantuk. Sudah sejak malam gadis berwajah bundar itu menunggu di stasiun.

Memori tahun lalu saat dirinya ketinggalan kereta membuatnya sadar. Dalam setiap pekerjaan, kegiatan, atau apapun itu membuatnya mengambil langkah satu atau dua kali lebih cepat. Jika waktu matakuliah dimulai pukul 08.00, maka dirinya akan datang satu jam bahkan dua jam lebih cepat.

Rekor tercepatnya dini hari tadi. Saat bulan masih kantuk bersemayam di angkasa dan bertengger di antara bintang gemintang, gadis belia itu telah tiba di stasiun sejak pukul 22.00. Padahal keretanya baru akan berangkat pukul 07.30 esok hari.

“Bu, Nina sudah sampai di stasiun.” Tulis gadis bernama Nina singkat kepada ibunya via wa.

Nina paham benar jika memberi kabar kepada ibunya dengan cara menelpon pasti akan kena omelan. Meski ibu Nina tahu betul dengan trauma yang dialaminya, tapi menunggu sejak malam hari di stasiun seorang diri bagi seorang gadis pasti akan meninggalkan kekhawatiran dan tentunya semprotan untuk beberapa saat. Memilih untuk tidak memberi tahu jadwal kereta sebenarnya dan hanya menggunakan pesan teks adalah pilihan paling bijak. Walau dalam pepatah Cina sekalipun mengatakan orang-orang bijak, sebijaksana apapun, adalah manusia yang tidak akan luput dari kesalahan.

Stasiun, Dini Hari

Jarum jam terus bergulir. Kantuk Nina linear dengan matanya yang sedari tadi terus terbuka sibuk mengawasi. Kini waktu menunjukkan pukul 06.15. Kurang lebih sekitar satu setengah jam lagi hingga dirinya dapat tidur nyenyak di dalam kereta.

Nina bergerak kesana-kemari. Mengitari seisi stasiun. Menipu diri yang meronta meminta tidur. Perjalanannya terhenti. Nina duduk sejenak di kursi panjang yang ramai oleh sekitar. Keringat berhasil terkumpul dari usahanya berkeliling stasiun. Sedikit bisa menahan rasa kantuk yang hampir membludak. Nina merebahkan dirinya ke punggung kursi. Menatap lamat jam tangannya. Masih kurang 45 menit lagi sebelum kereta menghantarkannya pulang ke rumah.

Baca Juga  Setitik Cahaya di Sarang Setan

Seekor kucing kecil dengan bulu putih bercampur oranye mendekati Nina. Kucing kecil itu mengitari kaki Nina dengan manja. Ekornya naik turun seakan meminta gendong. Nina membiarkan kucing kecil itu bermain-main dengan kakinya. Kira-kira apa yang sedang dipikirkan kucing itu tanya Nina dalam hati. Atau seeokor kucing tidak memikirkan apa-apa? Tidak. Mungkin saja sebaliknya. Mungkin seekor kucing dapat memikirkan apa-apa. Nina tersenyum kecil. Ia merasa senang.

Sejurus kemudian, Nina merasa kaget bisa merasa senang karena hal sepele. Dan yang semakin membuatnya kaget, rasa kantuk yang menyiksanya pergi tanpa jejak.

Postingan Instagram

Tiba-tiba hal itu membuatnya teringat sesuatu. Nina kembali teringat dengan postingan teman-temannya di Instagram. Seringkali dirinya mendapati teman-temannya mengupload beragam foto dengan caption bahagia itu sederhana.

Ada yang mengkombinasikannya dengan pemandangan, makanan, ataupun momen saat berkumpul. Kadang makanan yang mereka sertakan bukanlah makanan yang relatif terjangkau. Bila pemandangan, tentu lokasinya pasti sangat jauh dan sulit untuk ditempuh. Dan apabila berkumpul, pasti itu karena kepanitiaan, organisasi, atau apalah karena adanya kepentingan tertentu.

Huh, Nina mendengus. Para pengunggah itu hanya tukang pamer yang bersandiwara dengan topeng kerendahan hati di dunia maya. Tidak lebih baik dari lakon wayang di pagelaran budaya.

Kucing itu masih manja tengkurap di kaki Nina. Sesekali kucing kecil itu menjilati tangan mungilnya. Lalu mengeong manja mengadah ke arah Nina. Sangat menggemaskan. Nina berpikir untuk memotret lalu diunggah ke Instagram disertai kalimat sakti yang sering membuatnya gregetan.

Dirogohnya kantong untuk mencari ponsel. Tidak ada. Kedua saku celananya hanya berisi lembaran uang dan sebuah struk belanja. Nina berpikir sejenak. Ia ingat. Ternyata ponselnya ditaruh di dalam tas. Nina mengurungkan niat. Dirinya terlalu malas untuk mencari ke dalam tas. Raganya terlanjur letih berjalan mengitari stasiun. Niatnya tidak cukup kuat menjadi pelakon ternyata.

Baca Juga  Kisah Para Pria Bersarung (1)

Nina kembali mengamati si kucing. Kucing kecil itu berhenti bermain dengan kaki-kaki Nina. Kaki-kaki mungil kucing kecil itu kompak berjalan meninggalkan Nina. Nina mengamati seksama mencari tahu. Tidak tahu apakah si kucing menjadi grogi karena diperhatikan gadis belia seperti Nina atau mungkin merasa bosan.

Kucing yang Kelaparan

“Mau ke mana kamu kucing?” gumam Nina pelan.

Si Kucing berhenti setelah berjalan beberapa meter. Nina yang membuntuti ikut terhenti. Kucing kecil itu menengok ke arah kursi yang tepat ada di sampingnya. Dalam hitungan detik, badannya hilang dari permukaan. Kucing kecil itu telah masuk ke bawah kursi. Nina dihantui rasa penasaran. Kucing kecil itu mendekati kursi yang sedang diduduki sepasang kekasih.

“Hei kucing kecil. Ayo bermain lagi,” kata Nina. Wajahnya telah rata dengan ubin.

Nina kaget. Bukan karena melihat hal yang menyeramkan. Tapi lebih kepada karena terkesima. Ternyata Kucing kecil itu mendatangi induk dan saudara-saudaranya. Kini Nina mengerti mengapa kucing kecil itu berhenti bermain dengan kakinya. Ternyata perut mungilnya kelaparan sehabis bermain.

Nina jadi teringat dirinya yang juga harus segera istirahat karena berjaga dengan malam. Nina bangkit dari tidurnya. Mencari kursi terdekat yang tidak berpenghuni. Nina meraih ransel di punggungnya. Mencari sesuatu yang bisa dimakan. Melihat kucing-kucing lucu yang lahap meminum susu dari sang induk ikut melahirkan rasa lapar pada perut Nina. Satu roti isi tuna berhasil didapatkan. Bersanding tepat dengan ponsel Nina. Nina mengeluarkan roti dan ponselnya bersamaan. Sebagian tuna di dalam roti dikeluarkan. Sisanya dimakan habis oleh Nina.

“Ah, kenyang,” ucap Nina nikmat.

Nina beranjak dari kursi. Mendekati kursi yang dihuni kucing kecil bersama induk dan saudaranya. Tangannya kali ini tidak kosong. Tangan kanan terisi potongan tuna yang telah disisihkan. Tangan kirinya memegang erat ponsel yang siap untuk mendokumentasi.

“Ini kucing kecil.” Nina jongkok memberi potongan tuna ke bibir kursi.

Baca Juga  Mengenal Masyarakat Jahulu (Part 1)

Sesaat kemudian, kucing kecil itu keluar. Mengajak saudaranya yang lain. Nina girang bukan main. Kucing-kucing itu semuanya imut dan lucu. Menyenangkan jika bisa membawa satu sebagai oleh-oleh saat di rumah nanti. Tapi, petugas stasiun pasti tidak akan membiarkan niatnya. Tidak boleh membawa hewan naik ke atas kereta. Apalagi hewan itu hasil pungutan dari dalam stasiun. Uh, Nina menggerutu. Sudahlah tidak penting. Yang penting sekarang bagi Nina ialah mendokumentasikan sekumpulan kucing mungil yang sedang makan dengan syahdu. Nina memotret dan merekam setiap inci dari pergerekan kucing kecil dan saudara-saudaranya.

“Makannya jangan rebutan.”

Bahagia Memang Sederhana

Cahaya matahari terlihat masuk dari bilik stasiun. Menyiram lembut dinding-dinding stasiun. Sinarnya menerpa kucing-kucing kecil yang tengah asik makan. Nina berdiri. Melangkah meninggalkan kucing kecil yang masih sibuk berebut potongan tuna. Kareta tujuan kampung halaman Nina juga telah tiba beberapa menit yang lalu. Siap mengantarkan Nina dan penumpang lain tiba di masing-masing haluan.

Nina tersenyum tipis. Kebahagiaan bercampur aduk dalam dirinya. Bahagia yang sebenar-benarnya. Tidak lama lagi dirinya akan pulang ke rumah. Melepas segala rindu yang telah tertimbun selama di perantauan. Mata Nina yang telah bergumal dengan malam kini dapat diistirahatkan sepanjang perjalanan. Berat mulai datang menghampiri kelopak matanya yang baru saja berbinar akan sesuatu. Senyum Nina kembali berkembang karena dirinya mengingat hal yang paling penting yang membuatnya bahagia. Akhirnya, dirinya mempunyai sesuatu yang dapat dipamerkan di dunia maya. Ah, bahagia itu memang sederhana.

Bagikan
Post a Comment