Mengurai Akar Konflik-Konflik Sosial dalam Grup Whatsapp
Oleh : Sri Budiarti*
“Kok left dari grup kenapa?” demikian DM dari ku ke teman WAG (Whatshapp Group) alumni.
“Aku lagi banyak kerjaan, nanti kapan-kapan aku gabung lagi” begitu jawabannya. Aku tidak tahu itu alasan sebenarnya atau sekedar alasan yang dipakai oleh temanku untuk keluar dari WAG alumni.
Di era digital sekarang ini, hampir semua dari kita tergabung dalam satu atau beberapa WAG alumni, mulai dari alumni SD, SMP, SMA/K, perguruan tinggi, atau kursus/pelatihan tertentu. Tetapi berapa banyak di antara kita, anggota WAG alumni hanya sekedar menjadi penggembira, atau anggota pasif. Dan tidak jarang banyak dari kita keluar dari grup karena merasa tidak cocok atau sudah sangat sakit hati dan makan hati dengan para anggotanya?
Sejak kemunculannya di tahun 2009, WAG menjadi salah satu media kita dalam berinteraksi dengan orang lain tanpa bersusah payah dengan bertemu langsung. Kabar dan berita dapat lebih cepat disampaikan melalui WAG. Banyak kegiatan yang dulu tidak bisa kita kerjakan bersama menjadi sangat mudah dengan adanya WAG ini, salah satunya adalah berkumpulnya para alumni dari berbagai jenjang pendidikan dalam satu WAG. Dengan WAG silaturahmi menjadi lebih mudah kita lakukan. Janji untuk bertemu dalam satu reuni, saling memberi kabar kebahagiaan, mengirimkan empati dan doa untuk teman dalam satu WAG menjadi lebih gampang dilakukan.
Di awal, WAG alumni biasanya akan “gayeng” dengan postingan para anggotanya. Di sini mereka bisa melepas rindu, bertemu sahabat, teman sebangku, mantan, “musuh lama’, bahkan mereka yang dahulu namanya pun tidak kita kenal.
Dia yang Sekarang bukan Dia yang Dulu
Karena ini grup (mantan) teman sekolah, maka yang terbayang di benak kita adalah mereka yang dahulu kita kenal, teman-teman dengan semua keluguan, kelucuan, kebodohan, kenakalan, dan kenaifan mereka dahulu. Kita seringkali lupa bahwa mereka yang ada di WAG alumni sekarang ini berbeda dengan mereka yang kita kenal dahulu.
Pada dasarnya manusia tidak pernah berhenti bertumbuh, jiwa dan raganya. Raga kita bertumbuh, menjadi lebih tinggi, lebih gemuk, kulit lebih bersih, wajah lebih “glowing”, lebih langsing, tetapi ada pula yang tidak banyak berubah, sehingga kita langsung bisa mengenali teman kita begitu berjumpa. Begitu pula jiwa kita berkembang, dewasa dengan kematangan kepribadian yang berbeda.
Kehidupan masing-masing personil dahulu ketika masih berada di sekolah atau perguruan tinggi dengan kehidupan saat ini tentu bisa jadi berbeda, atau bahkan jauh berbeda. Karena perjalanan kita masih berlanjut setelah kita lulus. Entah melanjutkan pendidikan, bekerja, menikah, atau bahkan ada yang melanjutkan hidup dengan berpetualang.
Kehidupan selanjutnya membentuk kepribadian setiap orang dengan cara yang berbeda. Yang dahulu tampak biasa saja prestasinya, sekarang justru menjadi pribadi yang berhasil dalam kehidupan. Yang dahulu paling populer dengan kecantikan, kegantengan, kenakalan, kekayaan orang tua, bisa jadi saat ini menjadi pribadi yang biasa saja.
Di dalam WAG alumni, bisa jadi anggotanya sangat heterogen. Ada yang beruntung bisa menyelesaikan pendidikan di jenjang tertinggi, ada yang harus puas dengan ijazah seadanya. Ada yang menjadi petinggi di perusahaan ternama, pejabat di pemerintahan, pengajar di Perguruan Tinggi, atau berwirausaha. Tetapi ada pula yang hidup sederhana dengan penghasilan seadanya. Di sisi lain, setiap anggota memiliki kedudukan yang setara.
Kita lalai menyadari bahwa mereka yang kita hadapi saat ini adalah teman kita yang sudah bertumbuh jiwa dan raganya. Teman kita dengan kedewasaan dan kematangan kepribadian yang berbeda. Teman kita beserta semua atribut gelar pendidikan, jabatan, dan status sosial yang mereka dapatkan selama bertahun-tahun ketika kita berpisah.
Tentu perbedaan ini akan berdampak pada perbedaan karakter setiap individu, yang gampang terlihat dari perilaku sosialnya. Di samping itu, setiap individu memiliki alasan ketertarikan yang berbeda untuk bergabung di dalam grup.
Mereka yang terbiasa berinteraksi dengan kalangan yang homogen tentu akan berbeda sikap dan perilaku dengan mereka yang lingkungan pergaulannya heterogen. Faktor-faktor perbedaan di atas tentu terbawa saat berinteraksi di dalam WAG. Ada yang penyabar, tegas, jaim, baperan, serampangan, lucu, canggung, malu-malu, suka pamer, egois, galak, kekanakan dan perilaku unik lainnya.
Memahami Perbedaan, Menjaga Perasaan untuk Mencegah Konflik
Hal inilah yang seringkali kurang disadari oleh sebagian anggota WAG alumni. Atau hal ini disadari tetapi tidak cukup diantisipasi sewaktu-waktu dapat menjadi batu sandungan dalam berinteraksi setiap anggota dalam WAG alumni. Perbedaan pendidikan, tempat pendidikan, pekerjaan, sumber penghasilan, pengalaman, status sosial, status pernikahan, kematangan kepribadian, bahkan pandangan politik, dan keyakinan di satu sisi dapat menjadikan WAG lebih semarak, tetapi di lain pihak dapat menjadi kerikil kecil yang mengganggu.
Mengunggah foto liburan, barang branded, atau acara makan-makan di restoran bisa jadi adalah aktivitas yang lumrah bagi sebagian anggota, tetapi akan melukai perasaan anggota lain yang kondisinya serba kekurangan. Begitu pula kondisi psikologis setiap individu berubah-ubah karena mereka juga memiliki permasalahan dan kehidupan di luar WAG. Sebuah unggahan atau obrolan biasa, bahkan bisa menjadi tidak biasa dan berpotensi menimbulkan konflik di waktu yang berbeda.
Belum lagi perbedaan pandangan politik. Unggahan dari simpatisan salah satu kubu tentu berpotensi mendapat reaksi yang kurang mengenakan dari simpatisan kubu lawan. Begitu pula unggahan hoax, berita yang tidak jelas sumbernya, atau obrolan yang bersifat saru atau SARA dapat menjadi pemicu perdebatan panjang atau kegaduhan yang tidak perlu.
Tidak jarang sebuah WAG hanya berumur beberapa bulan jika para admin WAG tidak pandai mengelola perbedaan para anggotanya. Seringkali ada kerikil kecil yang kita temukan, yaitu perasaan “tersisihkan” dari satu atau beberapa anggota yang biasanya kurang disadari oleh anggota lain maupun admin dan pengurus grup.
Dalam perkembangannya, hal yang nampak jelas terlihat antara lain, posting dan obrolan hanya dilakukan oleh beberapa anggota saja. Anggota yang lain hanya sekedar membaca postingan, atau sekedar “nginjen”, atau bahkan bila membuka grup langsung clear chat.
WAG alumni yang tadinya bertujuan untuk menyambung silaturahmi diantara para alumni, justru menjadi sebaliknya. “Menambah sakit hati, menambah musuh, menambah dosa”, kata seorang teman yang keluar dari WAG alumni SMP beberapa waktu lalu. Bahkan tidak jarang, perbedaan sudah menjadi pertengkaran terbuka, pemutusan hubungan pertemanan yang berlanjut ke permusuhan pribadi. Dalam kasus lebih parah adalah muncul fitnah, penipuan keuangan di antara anggota, bahkan perselingkuhan yang berujung rusaknya keharmonisan suatu keluarga.
Maka sudah semestinya setiap anggota mengedepankan empati sebelum mengunggah sebuah foto atau berita agar unggahan tersebut tidak melukai perasaan anggota lainnya. Berfikir jernih sebelum bereaksi terhadap unggahan atau obrolan agar harmoni tetap terjaga. Di sinilah perlunya sikap kerendahan hati untuk memahami bahwa setiap individu memiliki kelebihan, kekurangan, dan keunikannya sendiri. Memahami bahwa keragaman anggota WAG alumni adalah sebuah keniscayaan. Agar WAG alumni dapat menjalankan perannya sebagai media silaturahmi.
*)Sri Budiarti, Ibu Rumah Tangga
