Perempuan: Cinta Sejati atau Eksploitasi

5 menit baca
Teks:
WhatsApp

Beberapa hari lalu saya menuliskan tentang memperjuangkan kemerdekaan perempuan dalam pandangan Nawal Elsadawi. Meraih kemerdekaan untuk perempuan tidak semudah itu. Nawal dalam buku yang sama menceritakan betapa kuatnya perlawanan yang ia terima selama menyuarakan kemerdekaan atas hak-hak perempuan. Berbalut kata cinta sejati yang berbalut tujuan akhirnya eksploitasi begitulah kira-kira realitas perempuan Arab dalam pandangan Nawal.

Nawal menuturkan bahwa masyarakat Arab memiliki kebiasaan untuk tidak memverifikasi kembali warisan-warisan pemikiran dari generasi-generasi terdahulu khususnya hal-hal yang membicarakan seks, wanita dan cinta. Masyarakat menilai pemikiran turun-temurun merupakan jawaban dari langit yang tidak perlu ada bantahan kembali. Padahal realitas yang terjadi ialah pemikiran-pemikiran tersebut berasal dari masyarakat patriarkat. Yang ingin menguasai sebuah kelompok dan pria dapat mengendalikan wanita.

Sebelum menceritakan begitu banyak bentuk eksploitasi yang perempuan alami. Nawal mengajak para pembacanya untuk mengerti terlebih dahulu definisi cinta yang seharusnya wanita dan pria alami dalam memadu kasih dalam hayatnya.

***

Asas dari sebuah kehormatan dan cinta ialah meniadakan sifat untuk menguasai orang lain. Oleh karena itu apabila seorang pria menganggap wanita hanyalah harta yang dapat ia kuasai ini bukanlah suatu hubungan yang memiliki kehormatan. Karena kehormatan memiliki arti setara dan adil dalam menerima hak-hak manusia. Maka makna dari cinta yang terhormat ialah membangun hubungan dengan dasar keadilan dan kesetaraan.

Pada dasarnya syarat dari cinta sejati ialah kesetaraan antara kedua belah pihak. Memiliki hubungan dengan tujuan eksploitasi bukanlah sebuah bentuk dari cinta sejati dari tiap pasangan. Sampai di sini Nawal beranggapan hubungan yang selama ini terjadi dan lagu-lagu cinta yang oleh penyanyi Mesir senandungkan bukanlah cinta sejati antara pria dan wanita melainkan hanya  cinta buta, cinta nafsu, cinta romantis.

Sebuah bagian yang tidak terlepas dari cinta ialah tindakan. Nawal mendefinisikan cinta romantis atau hub uzri sebagai rasa sakit karena status dari tindakannya terasingkan. Cinta yang mengedepankan perasaan daripada tindakan hal ini yang selalu menjadi pengalaman seorang wanita.

Sebagaimana penuturan dari Nawal, perempuan Arab selalu bertekuk lutut pada tekanan mental, psikologi dan seksual yang seakan perempuan tidak memiliki hak terhadap semua itu selain pasrah dan menerima tindakan pengorbanan. Alasannya seorang laki-laki lebih berhak untuk memutuskan tindakan ketimbang wanita yang harus patuh tindakan dari laki-laki.

***

Selama ini masyarakat Arab menganggap wanita hanyalah memiliki sifat pasif yang selalu melekat padanya. Padahal kenyataannya sifat ini lahir karena masyarakat selalu membebankan hal itu kepada wanita. Seakan wanita tidak bisa mengekspresikan diri sendiri karena bagi masyarakat manfaat yang terdapat dari wanita hanya pada fisik luarnya saja. Masyarakat hanya menyediakan pilihan bagi wanita agar memanfaatkan diri dan kulit luar yang membungkusnya dan dapat mempertahankan kemulusan, kemolekan, dan kepolosannya.

Bagi Nawal, masyarakat akan terus menerus untuk melakukan eksploitasi terhadap tubuh perempuan. Menyebarkan iklan-iklan yang mengajak wanita untuk selalu merawat tubuhnya secara khusus. Karena hanya itu yang bermanfaat dari tubuh seorang perempuan dan para perempuan senantiasa harus memperhatikan kulit tubuhnya. Karena jika membicarakan wanita mereka mengibaratkan seonggok daging dan kulit sebagai penutupnya dan merawatnya merupakan keharusan dengan segala macam krim agar kelihatan menarik.

Pernyataan mengejutkan dari Nawal yang mengatakan anggapan wanita hanya seonggok daging dan kulitnya harus senantiasa mendapatkan perawatan. Namun penampakan luar bukanlah milik perempuan dan sesuai keinginannya tetapi para kapitalis yang menguasai pasar busana. Membayangkan hal ini, perempuan ibarat sudah jatuh tertimpa tangga lagi, sudah tidak memiliki hak atas dirinya bahkan hak untuk busana juga tidak bisa.

***

Para kapitalis yang menurut Nawal selalu saja dapat menguasai perdagangan dan industri yang selalu memikirkan keuntungan tanpa memikirkan kebutuhan-kebutuhan dasar. Selagi tidak mengganggu perputaran mesin laba dan tidak menimbulkan amarah publik yang mengganggu pekerjaan. Dampaknya ialah segala produk khusus untuk wanita tidaklah penting.

Iklan-iklan yang bertebaran di daerah kecil maupun besar di Arab yang mempertontonkan lukisan seorang wanita yang merangsang dengan pose telanjang atau setengah telanjang, bergolek, duduk atau berdiri, dengan memeluk seorang pria lalu mengecup dan menatap penuh hasrat pria tersebut.

Bentuk lain dari eksploitasi wanita Arab melalui film-film, buku-buku, majalah, televisi. Industri ini memanfaatkan wanita dengan cara menampilkan seksualitas wanita sebagai topik utama dan mendapatkan keuntungan dari hal tersebut. Serta mengabaikan nilai-nilai moralitas atau dengan kata lain wanita tidak memiliki harga diri lagi.

Para penguasa industri selalu saja mencari cara agar dapat mengeksploitasi tubuh seorang wanita. Setiap wanita memaksakan diri untuk selalu mengikuti tren, model dan busana. Hal ini menurut Nawal, wanita telah kehilangan dirinya yang seharusnya menjadi subyek dari kehidupan. Namun yang terjadi wanita hanya menjadi obyek lebih buruknya hanya menjadi bagian dari obyek saja.

***

Eksploitasi-eksploitasi yang terjadi seperti di atas menurut Nawal merupakan hal yang wajar karena posisi wanita yang telah kehilangan unsur-unsur pokok kehidupannya, kehilangan kualitas dalam dirinya dan menjadi obyek bahkan alat semata. Seorang perempuan bagi masyarakat hanyalah alat dalam dunia periklanan, menjadi alat kesenangan untuk melampiaskan nafsu dan hasrat seksual atau sebagai wadah untuk melahirkan anak dan produk yang dapat diperjual belikan atas nama pernikahan.

Nawal Elsadawi telah menggambarkan bentuk kekejaman dan ketidakadilan yang selalu wanita alami. Maka, tak letih pula  perjuangan untuk mendapatkan hak-hak wanita untuk menyuarakannya agar setiap wanita mendapatkan kemerdekaan dan tidak mengalami ketidakadilan yang selalu saja terjadi hingga saat ini.

2 thoughts on “Perempuan: Cinta Sejati atau Eksploitasi”

Leave a Comment