Sultanah Safiatuddin! Bukti Bahwa Wanita Tidak Hanya Soal Kasur, Sumur, dan Dapur
Halo pembaca di mana pun anda berada. Apa kabar? Tak terasa tinggal menghitung hari, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 2021 Indonesia memasuki usia ke-76 tahun kemerdekaan. Meskipun masih dalam situasi pandemi covid-19. Tetapi mudah-mudahan hal tersebut tidak menyurutkan semangat kita warga Indonesia khususnya untuk menyambut HUT RI dengan antusias. Seperti para pahlawan yang gigih membebaskan bangsa ini dari belenggu penjajahan.
Berbicara soal pahlawan, penulis ingin berbagi kisah tentang salah satu pahlawan dari Tanah Rencong. Beliau adalah putri dari Sultan Iskandar Muda yang lahir pada tahun 1612 yaitu Sultanah Safiatuddin. Terlahir sebagai seorang wanita tidak membuatnya lemah. Sultanah Safiatuddin berhasil membawa Kesultanan Aceh Darussalam meraih kejayaan pada masa pemerintahannya. Berikut ini merupakan lima hal menarik dari pemimpin wanita pertama Kesultanan Aceh Darussalam tersebut.
Pemimpin yang Tegas, dan Berani
Menurut Sri Rahayu Puji Lestari (2021) dalam Skripsinya yang berjudul Strategi Sultanah Safiatuddin Dalam Memimpin Pemerintahan Kesultanan Aceh Darussalam Tahun 1641-1675 M. Skripsi tersebut menjelaskan bahwa setelah Sultan Iskandar Tsani meninggal dunia, terjadilah kekosongan kekuasan di Kesultanan Aceh Darussalam. Situasi ini menyebabkan Aceh mengalami krisis terkait penentuan pemimpin berikutnya. Pasalnya, perkawinan beliau dengan Sultanah Safiatuddin tidak mendapat seorang putra.
Sementara itu, segala kegiatan administratif dalam maupun luar negeri tetap harus berjalan sebagaimana mestinya. Belum lagi konflik eksternal di mana bangsa barat masih berambisi untuk menaklukkan Kesultanan Aceh Darussalam. Meskipun terpilihnya Sultanah Safituddin sebagai pemimpin sempat menuai pro dan kontra dari ulama wujuddiyah dan juga kelompok elite atau populer dengan sebutan Orang Kaya.
Seperti yang kita ketahui bahwa posisi wanita merupakan pertimbangan yang selalu hangat dari dulu hingga kini. Akan tetapi, Sultanah Safiatuddin mampu menyelamatkan Kesultanan Aceh Darussalam dari krisis dan menjadikannya maju di tengah kondisi politik yang carut-marut.
Sultanah Safiatuddin patut menjadi teladan oleh pemimpin di era sekarang. Di mana ketika negeri sedang darurat di situlah peran pemimpin sebagai penguasa jalannya roda pemerintahan suatu negara penting untuk memperbaiki situasi. Sikap tegas dari seorang pemimpin dalam mengambil keputusan sangat penting untuk menyelamatkan negara dari krisis dan ancaman pihak manapun.
Seperti yang Sultanah Safiatuddin lakukan, beliau mengesampingkan ego, tidak terbebani penolakan dari berbagai pihak mengenai terpilihnya beliau menjadi pemimpin karena masalah gender. Sikap berani mengambil keputusan ia tunjukkan dengan menerima amanah untuk memimpin Kesultanan Aceh Darussalam. Ia rela mengorbankan kepentingan pribadi demi menyelamatkan negerinya dari serangan bangsa barat.
Peduli dengan Pendidikan Anak Negeri
Selama memimpin Kesultanan Aceh Darussalam, Sultanah Safiatuddin berupaya agar anak negeri bisa memperoleh pendidikan. Langkah konkret yang beliau lakukan yaitu dengan mendirikan perpustakaan dan Jami’ Baiturrahman (Universitas Baiturrahman). Lebih lanjut, menurut Essi Hermaliza (2009) dalam artikelnya yang berjudul Ratu Safiatuddin dalam Lintasan Sejarah.
Artikel tersebut menjelaskan bahwa beliau memperjuangkan anak negeri untuk belajar sampai ke Mekkah, Madinah, Baghdad dan India, serta menggerakkan para ulama menulis ilmu dari luar negeri untuk dikembangkan kepada anak negeri dan diterjemahkan ke dalam bahasa melayu.
Uraian di atas menunjukkan betapa seriusnya Sultanah Safiatuddin memperjuangkan Kemerdekaan Pendidikan bagi anak negeri. Ya, memberikan bekal generasi bangsa dengan ilmu pengetahuan adalah hal yang sangat penting demi tercapainya kemajuan sebuah bangsa. Bangsa yang maju adalah bangsa yang cerdas generasinya. Upaya mencerdaskan anak bangsa terus berlanjut hingga kini. Anggaran 20% dari APBN untuk pendidikan merupakan bukti bahwa pemerintah serius dalam memerangi kebodohan.
Di era pandemi covid-19 seperti saat ini ketika situasi serba sulit karena pembatasan aktivitas di luar rumah demi mencegah penularan covid-19, pemerintah tetap berupaya agar Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tetap terlaksana meskipun berlangsung secara online. Langkah positif tersebut kemudian banyak perusahaan lakukan hingga tokoh masyarakat yang turut memberikan konstribusinya membantu anak negeri agar bisa menuntut ilmu tanpa terhantui biaya pendidikan yang tinggi.
Itu merupakan hal yang baik, dengan adanya sinergi antara pemerintah dengan berbagai pihak, semoga tujuan kemerdekaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945 bisa tercapai. By the way, ada yang masih ingat tujuan kemerdekaan itu apa saja? Boleh kita buka kembali ingatannya agar tidak luntur tertelan waktu.
Pemimpin yang Cerdik
Menurut Nordin., dkk (2018) dalam Human Sustainability Procedia (INSAN 2018 E-Proceeding) hor Bahru, Johor, Malaysia, 7-8 November 2018) yang berjudul Kepemimpinan Wanita Dalam Kesultanan Aceh Dar Al-Salam. Isi dari tulisan tersebut menjelaskan bahwa beliau menyarankan pemisahan urusan agama dengan urusan pemerintahan. Dalam urusan pemerintahan, baginda memberi keutamaan kepada pendidikan, ekonomi dan keagamaan.
Pada tahun 1668, misalnya, baginda mengutus ulama-ulama Aceh ke negeri Siam untuk menyebarkan agama Islam. Baginda mendorong para ulama cerdik dan pandai mengembangkan ilmu pengetahuan melalui penulisan kitab-kitab agama. Dalam aspek ekonomi, beliau mengeluarkan mata uang emas dan menetapkan cukai bagi pedagang asing yang berdagang di Aceh.
Pemimpin yang Mencintai Literasi
Hal menarik dari seorang Sultanah Safiatuddin adalah selain pemimpin, beliau juga seorang penulis. Sebelum menjadi pemimpin, beliau banyak menghabiskan waktunya untuk menimba ilmu pengetahuan. Ia senang menulis syair. Kecintaannya terhadap dunia literasi ini beliau teruskan saat memimpin Kesultanan Aceh Darussalam. Di masa pemerintahannya, ilmu pengetahuan berkembang pesat dan menjadikan Aceh Sebagai Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan di Asia Tenggara.
Melindungi dan Mengangkat Kedudukan Kaum Wanita
Selain pendidikan, ekonomi, dan agama. Beliau juga sangat peduli dengan kedudukan kaum wanita. Menurut Hasyim, A. (1977) dalam bukunya yang berjudul Tanah Aceh Merdeka di Bawah Pemerintahan Ratu. Buku tersebut menjelaskan bahwa beliau merekrut beberapa wanita untuk menjadi anggota legislatif yang diberi nama Majelis Mahkamah Rakyat.
Tugas majelis tersebut adalah membantu Sultanah Safiatuddin membuat Undang-undang di Kesultanan Aceh Darussalam. Guna melindungi kaum wanita dari kemungkinan diusir suami karena perceraian dan tidak bisa pulang ke rumah orang tuanya karena alasan tertentu sehingga mereka terjerumus ke dalam kehidupan yang kelam seperti menjadi pengemis misalnya, maka beliau menyusun Undang-undang Khusus Tentang Kaum Wanita.
Maraknya kasus perceraian, KDRT yang menimpa wanita, banyaknya anak hamil di luar nikah, kasus pelecehan seksual terhadap wanita yang terjadi saat ini merupakan bentuk pelanggaran terhadap hak asasi perempuan yang harus dihilangkan dari negeri ini.
Diperlukan Undang-undang yang tegas dan juga kesadaran diri terutama dari kaum laki-laki untuk menjaga dan melindungi kaum wanita. Kemudian, bagi wanita itu sendiri ia juga harus mawas diri. Jangan sampai berbuat sesuatu yang membuat orang lain tertarik untuk melakukan tindakan buruk terhadap dirinya.
instansi : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.
