Kata “Wanita” yang Masih Sering Disalahpahami
Dalam sebuah diskusi daring di platform ini Sabtu lalu (6/2/2021), saya dicecar pertanyaan penting: “Apakah kata wanita boleh digunakan?” Saya jawab, “Boleh!”
Kali ini izinkan saya mempertanggungjawabkan jawaban itu.
Lema “wanita” ternyata masih menjadi bola panas. Ia terus menggelinding dan menghantui mereka yang kukuh beranggapan bahwa kata itu dibentuk dari “wani ditata” (berani ditata). Mereka membandingkan dengan perempuan yang asal-usulnya dari kata “empu”, sebuah gelar kehormatan. Pendek kata, perempuan dimaknai sebagai makhluk yang mulia atau memiliki kemampuan.
Melihat perbedaan yang bertolak belakang itulah, mereka menolak untuk menggunakan kata “wanita”, bahkan sampai mengharamkannya. Yang lebih ekstrem, kalangan feminis “garis keras” konon juga ingin merevisi kata “wanita” yang tercantum dalam kitab suci Al-Qur’an.
Keratabasa
Perlu ditegaskan, kata “wanita” yang diyakini sejumlah orang, khususnya kalangan kaum hawa, tidak dibentuk dari “wani ditata” atau bahkan “wani ing tata”. Yang pertama mengandung makna yang merendahkan, yang kedua justru memiliki posisi terhormat.
Itulah yang dalam bahasa Jawa disebut bab keratabasa, dan keratabasa bukan etimologi atau asal-usul kata. Ia hanyalah gejala othak-athik gathuk (asal cocok). “Philosophia” yang terdiri atas “philos” dan “sophia” itu baru etimologi.
KBBI daring memaknai keratabasa sebagai perihal menerangkan arti kata dengan memperlakukannya sebagai singkatan, biasanya untuk lelucon, atau disebut etimologi rakyat. Karena hanya guyonan, konsepnya tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Orang Jawa memang pandai dalam hal othak-athik gathuk sebuah kata. Bahkan terkesan dipas-paskan. Misalnya, rokok. Kata ini dikeratabasakan menjadi “moro-moro takok” (datang-datang bertanya). “Endi rokoke? (Mana rokoknya?),” kata seseorang kepada temannya ketika berjumpa, berharap diberi sebatang rokok sebagai tanda persahabatan.
Bagaimana tidak asal cocok kalau makanan hasil kenduri itu lantas disebut “brekat” (berkat) karena “dideleh mak brek, terus diangkat” (ditaruh berbunyi brek, terus diangkat untuk dibawa pulang). Juga piring, “sepi yen miring” (kalau sudah ditaruh miring, berarti tidak ada isinya).
Meski begitu, ada pula yang tampak “masuk akal”, seperti guru (digugu lan ditiru), gerang (tua) yang berarti segere wis arang-arang (kesehatan mulai berkurang, rentan sakit), ataupun maling (njupuk amale wong sing ora eling = mengambil harta orang yang tidak ingat).
***
Nah, kalau wanita haram karena berasal dari “wani ditata”, penggunaan bapak pun seharusnya bisa digugat karena, dalam keratabasa, berarti “bab apa-apa pepak”. Artinya, bagi bapak, persoalan apa pun bisa diselesaikan. Bagi seorang ibu belum tentu, misalnya.
Dari sisi logika berbahasa, wani ditata (berani ditata) pun jelas tidak presisi. Kata berani bermakna “mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya, kesulitan, dan sebagainya; tidak takut”. Kata ini hanya lebih tepat dipasangkan dengan kata kerja aktif. Misalnya, berani menantang maut, berani melawan kapitalisme, berani maju, berani menerjang banjir, berani bertarung, dan sebagainya. Tidak logislah frasa berani ditata. Berani kok ditata, berani itu ya menata. Berani itu berpasangan dengan kata kerja aktif.
Sama dengan berhasil/sukses, yang bertemu dengan kata kerja aktif: berhasil meraih juara, sukses merebut kemenangan, berhasil menerbitkan buku, sukses meraih beasiswa. Tidak ada, misalnya, juara berhasil diraih Indonesia. Yang berhasil “juara”-nya atau “Indonesia”-nya?
Wanodya
Dalam khazanah sastra Jawa, wanita sejatinya berasal dari wanodya. Hal itu kalau tidak salah terekam dalam Kamus Bausastra Jawa karangan W.J.S. Poerwadarminta. Hingga kini saya masih belum menemukan buku tersebut.
Wanodya dalam KBBI dimaknai sebagai gadis remaja. Nama lain wanodya adalah wedok, wadon, pawestri, putri, retna, kusuma, memanis, dan dayita, yang masing-masing memiliki peran istimewa.
Wanodya bisa jadi maknanya lebih lembut, lebih mengandung makna keibuan, kata seorang teman, dosen-esais yang perhatian akan budaya Jawa. Bisa jadi juga lebih dekat dengan alam dan lebih dekat dengan makna ibu bumi dalam pandangan kosmolog dan feminis Vandana Shiva. Wanodya juga bisa jadi ada hubungannya dengan wono yang berarti hutan. Yang jelas, secara etimologis, wanita tidak berasal dari ”wani ditata” seperti yang diyakini sejumlah pihak itu.
Sudah Lazim
Media massa pun kini lumrah menggunakan wanita sebagai sinonim ataupun variasi perempuan. Bahkan, kata wanita diperlukan untuk dipasangkan dengan pria, karena perempuan sudah berpasangan dengan laki-laki. Maka, sudah menjadi alamiah kalau pria dengan wanita, sedangkan laki-laki bersama perempuan.
Dulu memang kata “wanita” kerap dilekatkan pada istilah yang tidak baik, seperti wanita tunasusila (WTS). Namun, istilah itu kini sudah jarang ditemui dan diganti menjadi pekerja seks komersial (PSK). Ada pula istilah tenaga kerja wanita (TKW) yang kini lebih sering disebut tenaga kerja Indonesia (TKI).
Kata “wanita” kini semata-semata lebih digunakan sebagai padanan perempuan, lebih tepatnya perempuan dewasa. Coba saja telusuri media mainstream macam Jawa Pos, Kompas, Republika, Detik, Kumparan,dan sebagainya. Mereka tidak mengharamkan penggunaan kata wanita. Bahkan di dalam judul sekalipun. Sebab, menurut Ivan Lanin, kata itu netral. Masyarakatlah yang bias.

Editor Jawa Pos, Pegiat Jaringan Intelektual Muhammadiyah.
