f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
islamic

Pertaruhan Islam dalam Pusaran Politik Global

Bukanlah sebuah fenomena baru, bahwa Islam selalu menjadi sorotan dalam percaturan politik global. Misalnya yang masih hangat di tahun ini saja, ketika Presiden Turki, Recep Tayyib Erdogan mengkonversikan Museum Hagia Sophia menjadi Masjid, kemudian berujung kontraversi dan mendapat cekaman. Lalu akhir-akhir ini, Presiden Prancis Emmanuel Macron yang mendukung publikasi kartun dan karikatur Nabi Muhammad SAW.

Terlepas dari pro-kontra isi pidato Macron, pernyataan pidato tersebut sontak mendapat cekaman dari berbagai negara. Tidak tanggung-tanggung, mereka melakukan pemboikotan atas produk-produk Prancis. Hampir dari negara-negara yang melakukan pemboikotan adalah negara mayoritas berpenduduk muslim.

Seperti yang telah disinggung di awal bahwa dinamika ke-Islam-an dalam pusaran politik global bukanlah fenomena baru. Bahwa dunia Islam sangat rentan ikut serta – atau ada yang menyertakannya dalam pusaran konflik. Samuel P. Huntington telah memprediksi hal ini di dalam bukunya “The Clash of Civilitation (1996)” bahwa konflik masa depan adalah konflik antar peradaban, budaya, sejarah, nilai dan agama.

Dengan mengidentifikasi berbagai hal, Huntington akhirnya berpendapat bahwa terdapat beberapa peradaban besar di dunia; di antaranya China, Jepang, Hindu, Barat, Slavic-Orthodox dan Islam. Selanjutnya Huntington meyakini bahwa antar peradaban satu dengan yang lainnya mempunyai peradaban yang fundamental. Dan pada akhirnya mereka akan saling konflik satu dengan lainnya. Lebih spesifik lagi, benturan besar yang akan terjadi adalah antara peradaban Barat dan aliansi Islam dan China.

Prahara Islam vs Barat

Kita akui atau tidak, dunia saat ini telah di dominasi dan di hegemoni oleh Barat. Sistem politik, ekonomi internasional hingga yang terkecil seperti pakaian dan makanan yang kita konsumsi sehari-hari kebanyakan adalah produk barat.

Baca Juga  Fathimah Az-Zahra, Sosok Barbie Islam yang Harus Dikenalkan

Sehingga untuk menjawab pertanyaan di atas, kenyataan bahwa tedapat rasa ketidakpuasan atas hegemoni Barat. Dan hal ini berimplikasi pada munculnya gerakan revivalisme Islam, fundamentalisme hingga terorisme yang mengatasnamakan Islam. Kelompok ini selalu memposisikan Islam sebagai yang termarjinalkan (subordinat), dan barat sebagai penguasa (ordinat).

Pada perkembangannya, kelompok ini bertransformasi, mereka tidak bergerak sendiri. Melakukan ekspansi dan berjejaring melampaui batas-batas wilayah (transnasionalisme) untuk kekuatan basis gerakan; sebagai upaya perlawanan untuk meruntuhkan hegemoni barat yang telah mengkhianati Islam. Dengan demikian cita-cita mereka yaitu mendirikan sistem Khilafah bisa tercapai.

Pengamat meyakini bahwa peristiwa 9/11 adalah bukti kongkrit bahwa Islam adalah lawan dari Barat, juga merebaknya narasi Islam vs Barat. Tiga hari setelah peristiwa itu, Bush dalam konferensi persnya memberikan perhatian dunia, khususnya negara-negara mayoritas Islam dengan statementnya  “You are either with us or you are with terrorist”. Ajakan Bush untuk memerangi musuh besar AS yakni jaringan teroris Al-Qaeda yang di mana pemimpinnya adalah Osama bin Laden dan Islamic State Iraq and Suriah (ISIS).

Tidak hanya berhenti pada Al-Qaeda, tetapi meluas ke suluruh negara-negara muslim yang diduga sarang teroris. Misalnya, pemerintah Taliban yang juga ikut digulingkan karena dianggap melindungi sang teroris yang diburuh oleh AS itu.  Sederhananya, kelompok yang diduga memiliki hubungan dekat atau berjejaring dengan kelompok tersebut tak luput dari perburuan nomor wahid AS, seperti Hizbullah, JI, HAMAS dan Jihad Islam. Paling tidak, mereka selalu dicurigai dan diawasi secara terus menerus.

Kritik-Otokritik

Patut kita akui bahwa Islam telah mengalami stagnansi dalam mengahadapi ide-ide Barat itu. Proses penyesuaian Islam dengan globalisasi misalnya, sangat lambat hingga membuat masayarakat Islam pun merasa sengsara.

Baca Juga  Imam Hambali: Ahli Hadis & Ahli Fiqih

Seorang cendikiawan muslim, Nurcholis Madjid dalam Khazanah Intelektual Islam (1996) menyebutkan; sekiranya terdapat tiga sebab yang membuat Islam mengalami kesengsaraan dalam dunia modern saat ini. Pertama, faktor psikologis di mana kaum muslim merasa paling hebat tetapi pada realitasnya bangsa lain yang lebih unggul. Kedua, trauma atas konflik sektarian Islam dan Kristen yang terjadi sejak dulu. Dan Ketiga, faktor georgrafis negeri Islam berdekatan dengan Eropa hingga memicu dua sebab sebelumnya.

Pandangan di atas sekaligus sebagai refleksi, bahwa masyarakat muslim sudah seharusnya lebih hati-hati lagi dalam pergaulan global. Berani untuk melakukan kritik maupun otokritik terhadap fakta Islam dalam politik global saat ini. Terlebih lagi terhadap pandangan serta sikap sekelompok orang yang cenderung anti terhadap pluralisme dan keberagaman, yang kemudian berdampak memperburuk citra Islam sendiri.

Akhirnya, fenomena dunia Islam yang amat kompleks ini harusnya menjadi refleksi sebagai problem besar yang harus kita pikirkan kembali. Sebab harus kita akui, bahwa Islam masih kita dengar dengan ungkapan agama kekerasan, agama teroris dan sebagainya. Belum lagi persoalan politik pada internal negara-negara muslim yang sering kali justru memperburuk citra Islam sendiri.

Respon ummat Islam terhadap fenomena politik global tidak dengan menggunakan cara-cara kekerasan. Sebagaimana ajaran Islam yang menjunjung tinggi perdamaian dan persaudaraan antar sesama. Islam sebagai rahmat bagi semesta (rahmatan lil alamiin) harus kita perlihatkan di dunia Internasional. Satu-satunya hanya untuk memperbaiki citra Islam.

Wallahualam

Editor: Rifky Aritama

Bagikan
Post a Comment