Perempuan di Tanah yang Dijanjikan
“Pada hari-hari yang kacau di masa lalu yang ada adalah kebebasan melakukan sesuatu. Sekarang kau diberi kebebasan dari sesuatu”
Judul : Kisah Sang Handmaid (The Handmaid’s Tale)
Pengarang : Margaret Atwood
Penerbit : Gramedia
Penerjemah : Stefanny Irawan
Halaman : 448
Novel ini menceritakan sebuah republik bernama Gilead; sebuah negara otoriter yang berdiri setelah menggulingkan pemerintahan Amerika serikat pada tahun 1980an. Tokoh utamanya adalah seorang perempuan Handmaid yang menjalani kehidupan sehari-hari di tengah kekuasaan absolut dan patriarkis.
Novel ini menyajikan gambaran mencekam dari perspektif narator melalui berbagai macam peraturan yang ketat nan kejam di negara itu. Cerita ini, bagi saya, mengundang untuk membandingkannya dengan novel-novel diktator atau distopia lain.; seperti novel terkenal, Goerge Orwell, 1984.
Saya merinci tiga hal yang melekat dari novel-novel diktator dan distopia termasuk Kisah Sang Handmaid ini.
Pertama, penguasa otoriter sering kali menjunjung sebuah moralitas secara kuat dan kaku, yang disandarkan pada ajaran agama, ideologi, atau budaya tertentu.
Tokoh utama di novel semacam ini kerapkali berasal dari warga negara biasa; yang tak mampu melawan walaupun dalam hatinya selalu menolak. Yang bisa meraka lakukan kalau boleh saya sebut dengan perlawanan “selemah-lemahnya iman”; yaitu dengan cara seolah-olah ingin menodai moralitas yang dibentuk negara tersebut.
Contohnya dalam novel Kitab Lupa dan Gelak Tawa karya Milan Kundera, bersamaan terjadinya invasi rezim Komunis Uni Soviet ke negaranya Cekoslovakia. Diceritakan dengan gaya semi biografi, Milan Kundera diminta untuk menulis ramalan bintang di sebuah surat kabar oleh temannya. Tentunya dengan nama samaran untuk sang bos yang menyukai ramalan itu, padahal ia setengah hidupnya mempelajari dan menyakini ajaran Marxisme. Cerita ini, secara diam-diam mendiskreditkan nilai-nilai yang menjadi keyakinan seseorang atau suatu negara.
Kedua, mengatur kehidupan warga negara secara ketat.
Contoh dari ciri kedua ini tidak boleh dilewatkan dari cerita novel 1984 yaitu sebuah alat yang disebut dengan Telescreen. Semacam alat pantau (saya bayangkan seperti CCTV) yang dipasang di mana-mana, tanpa terkecuali di dalam rumah; dimaksudkan untuk memantau seluruh gerak-gerik warga negara serta langsung terhubung dengan kantor pemerintah.
Dalam novel Tuan Presiden karya Miguel Angel Asturias yang menceritakan tentang pemerintahan diktator negara Guatemala, seluruh orang bisa melapor langsung kepada presiden sebagai “telinganya”. Bahkan seorang PSK bisa memata-matai seorang tentara yang bersimpati dengan pembelot negara saat di rumah bordil dan bisa langsung menyurati presiden.
Terlihat negara otoriter begitu berambisi untuk mengawasi seluruh warga negara dengan semua aset yang dimilikinya. Baik melalui aturan, aparatur negara, alat-alat teknologi seperti alat sadap atau Telescreen, dengan seluruh aktivitas semua warga negara.
Ketiga, teror sebagai alat penundukan.
Hampir seluruh novel diktator yang saya baca, teror merupakan alat ampuh untuk digunakan untuk menekan warga negara. Beberapa novel sejenis ini ada penggambaran tempat-tempat teror, seperti penjara dan kamp edukasi ulang atau ideologisasi ulang yang sebenarnya keduanya tidak bisa dipisahkan; serta eksekusi hukuman sering kali di depan publik, agar orang banyak bisa melihatnya, hal ini sebagai teror bagi siapapun melawan negara.
Paling terlihat di novel Tuan Presiden itu bagaimana tindakan teror dan kekerasan oleh negara memiliki dampak surealis nan ganjil; seperti kegilaan atau penglihatan-penglihatan aneh yang dialami oleh warga negara.
Novel Kisah Sang Handmaid tidak terlepas dari tiga hal tersebut. Akan tetapi yang menarik dan berbeda dari novel ini adalah sebuah perlakuan negara otoriter kepada perempuan.
Cerita berpusat pada seorang handmaid bernama Offred; bagian dari perempuan-perempuan yang dijadikan pelayan untuk memproduksi keturunan bagi komandan yaitu elit-elit pengusa negara.
Perempuan Handmaid setelah dididik atau lebih tepatnya dicuciotak di Red Centre diserahkan kapada keluarga-keluarga elit pejabat. Handmaid merupakan kelompok tersendiri dari kelompok lain seperti martha yakni pembantu rumah tangga perempuan; ada kelompok bernama guardian yaitu para penjaga keamanan di berbagai tempat seperti penjaga rumah, gerbang kota, atau sopir.
Offred menjalani kehidupan sehari-hari dengan aturan ketat. Seorang Handmaid harus memakai gaun merah panjang dengan topi seperti kerudung kepala yang memiliki “sayap” di sampingnya sehingga hanya memiliki pandangan lurus. Dalam tata bicara pun harus tidak asal jika menjawab dari orang lain dengan “diberkatilah kehidupan”, “semoga Tuhan bukakan jalan”, “di bawah Pengangawasan-Nya” seperti yang diajarkan oleh bibi-bibi di Red Centre.
Saat belanja atau keluar rumah seorang Handmaid tidak boleh sendirian; harus berdua dengan Handmaid lain. Ketika mereka berjalan di sekitar kota, diperlihatkan hukuman publik seperti orang-orang digantung yang dianggap pemberontak di tembok perbatasan kota. Atau jika mereka melanggar aturan akan dikirim ke tempat pengasingan yang mematikan karena terdapat radiasi nuklir.
Plot novel yang maju mundur.
Tergambar saat menjalani tugas sebagai Handmaid Offred sering kali flash back mengingat kejadian-kejadian saat Amerika yang belum dikuasi oleh Gilead. Hubungannya dengan suaminya, Luke saat terjadi kudeta dilakukan oleh kelompok fanatik Son of Jacob yang saat mencoba melarikan diri bersama satu anak mereka.
Pikiran itu terus membanyangi Offred. Bagaimana nasib suami dan anaknya. Apakah masih hidup atau sudah mati? Kadang Moira, temannya yang juga pendukung hak-hak perempuan, suatu ketika tertangkap dan dimasukkan ke Red Centre bertemu dengan Offred atau juga kenangan ibunya. Kebalikan dari temannya, dia pendukung nilai-nilai tradisional perempuan.
Walaupun setting novel ini berada di kekuasaan otoriter. Tapi, narator dalam hal ini Offred sering kali merefleksian permasalahan perempuan. Apalagi dia mengalami dua masa yang berbeda yaitu saat Amerika saat masih berdiri ditandai dengan kehidupan perempuan yang liberal dan masa Gilead berkuasa ditandai dengan kehidupan perempuan yang diatur secara ketat.
Saat Offred pulang bersama dengan Handmaid lain dari tempat pembelanjaan, mereka bertemu turis dari Jepang. Pakaian mereka begitu kontras dengan para Handmaid. “sudah lama aku tidak melihat para perempuan mengenakan rok yang begitu pendek, rok mereka panjangnya sedikit di bawah lutut dan kaki-kaki mereka terlihat di bawahnya, hampir telanjang dibalut stoking tipis … salah satu dari mereka memakai sandal dengan ujung terbuka dan kuku-kuku kakinya dicat merah merah muda”.
Bagi para perempuan warga negara Gilead, pakain seperti itu tidak akan diterima. Perempuan harus diatur sedemikian rupa seperti yang digambarkan di atas. Ketika keluar rumah mereka harus berjalan berdua dengan gaun merah yang menjadi tanda mereka. Tidak ada lagi laki-laki yang berteriak cabul kepada mereka, berbicara kepada mereka, tidak ada yang menyentuh mereka, tidak ada bersiul, dalam istilah bibi Lydia “pada hari-hari yang kacau di masa lalu yang ada adalah kebebasan melakukan sesuatu. Sekarang kau diberi kebebasan dari sesuatu”.
Perkara tersebut seolah memunculkan pertanyaan yang bagi saya selalu relevan setiap zaman.
Apakah perempuan perlu dikungkung atas nama moralitas agar mereka tidak menyebarkan dosa, syahwat, atau birahi? Ataukah diberi kebebasan mengatur dirinya sendiri atas nama hak mereka sebagai manusia?
Alumni IMM DIY
