Mata Paling Rasial
Judul : Mata Paling Biru
Pengarang : Toni Morrison
Jenis Buku : Novel
Penerbit : Basa Basi
Terbit : November 2019
Halaman : 284
Toni Morisson merupakan penulis terkenal dari Amerika Serikat yang sudah melanglangbuana di dunia Kesusastraan. Dia lahir pada 18 Februari 1931 di Lorain, Ohio, dan meninggal belum lama ini, 5 Agustus 2019.
Sepanjang perjalanannya, ia telah melahirkan banyak karya novel, cerita-cerita pendek, drama, puluhan artikel dan buku-buku non-fiksi. Karya terkenalnya, antara lain The Bluest Eye, Sula, Song Solomon, Beloved, Playing in The Dark: Whiteness and The Literary Imagination, dll.
Ia juga memenangi perhargaan bergengsi, seperti; National Book Critics Circle Award, Pulitzer Prize, dan penerima hadiah Nobel sastra pada tahun 1993. Panitia pemberi Nobel menyebut bahwa, dalam novel-novelnya memberikan kekuatan visioner dengan pengungkapan kata-kata puitis yang memberikan dampak secara esensial kepada kehidupan Amerika. Pada tahun 2012, ia kembali mendapat penghargaan Presidential Honnor of Freedom oleh Presiden Amerika Serikat, Barack Obama.
Tema-tema tulisannya, fiksi maupun non-fiksi sering berkisar pada kehidupan orang-orang kulit hitam Amerika; mengulas pengalaman rasial di hadapan orang-orang kulit putih yang kerap diremehkan, dipandang sebelah mata, tidak memiliki akses kehidupan layak dalam hal pendidikan, ekonomi, politik, sosial-budaya, atau kadang kala menjadi korban kekerasan.
***
Permasalahan ini tentu mengingatkan kita pada peristiwa yang belum lama ini terjadi. Yaitu kematian George Floyd pada 25 Mei 2020, yang disebabkan oleh kekerasan aparat polisi. Lantas memunculkan protes publik yang meluas di Amerika, bahkan seluruh dunia dengan jargonnya Black Live Matter.
Masalah rasial di Amerika seperti masalah turun menurun. Meskipun pada tahun 60an sudah mendapatkan pengakuan hak sipil dan bisa ikut serta dalam pemilihan umum, akan tetapi orang-orang kulit hitam masih mengalami diskriminasi.
Salah satu masalah sampai hari ini bagi orang kulit hitam Amerika, mereka masih banyak hidup dalam garis kemiskinan. Sehingga menyebabkan bias rasial dan struktur kelas, orang-orang kulit hitam sering dianggap sebagai pelaku kejahatan, seperti yang dialami oleh George Floyd sendiri.
Deskripsi tentang orang-orang kulit hitam selalu kesusahan dalam hal ekonomi, sehingga menciptakan bias rasial yang juga diceritakan dalam novel ini. Ada adegan seorang ibu rumah tangga kulit putih yang menganggap orang-orang kulit hitam itu pembuat onar dan banyak tingkah.
***
Novel ini berpusat pada seorang anak bernama Pecola Breedlove. Diceritakan oleh temannya, Claudia, bersama saudarinya Frieda; mengenang sebuah rangkain peristiwa dari musim gugur 1941 yang menimpa Pecola. Ditandai dengan bunga marigold tidak tumbuh, mereka bertengkar siapa yang salah ketika menanam tumbuhan itu.
Kekhawatiran mereka akan bunga marigold, seolah-olah mereka tunjukkan kepada Pecola yang mengandung anak ayahnya sendiri. Ketika mereka berdua tidak paham peristiwa yang sesungguhnya terjadi karena masih anak-anak. “Sungguh tak ada lagi yang mesti dikatakan – kecuali kenapa”. Dari situlah cerita sesungguhnya dimulai pada bab-bab selanjutnya.
Cara penceritaan novel ini mengingatkan saya (tentunya tidak selalu persis) pada beberapa novel, seperti; Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan, Cronicles of Death Foretold karya Gabriel Garcia Marquez, dan The God of Small Thing karya Arundhati Roy. Yaitu dengan menggunakan cara plot yang melingkar.
Pada bab pertama seperti disimpulkan keseluruhan cerita, kemudian bab-bab selanjutnya diceritakan secara detail setiap kejadian setiap individu yang terkait. Teknik ini tentunya untuk menarik perhatian pembaca agar tetap penasaran sampai akhir cerita. Perbedaan dari novel ini dengan novel-novel di atas menurut saya, Toni Morrison banyak menggunakan dialog batin di karakter-karakternya yang ditandai dengan kalimat miring.
***
Pecola, lahir dan tumbuh di sebuah keluarga miskin di Lorain, Ohio. Sebuah keluarga yang tidak harmonis. Ibunya bekerja sebagai pembantu di sebuah rumah orang kulit putih, sedangkan ayahnya tidak bekerja, dan hanya menghabiskan hidupnya untuk minum-minum datang ke rumah saat pagi hari saja.
Orang tuanya menjadi sering bertengkar. Walau secara sarkas, Toni Morrison sebut dengan mereka berdua setuju agar tidak saling bunuh. Ketika orang tuanya bertengkar, saling pukul, seolah Pecolah menyerap segala keburukan kedua orang tuanya. Dia mengerudungi dengan selimut, perutnya merasakan sakit, dia ingin berdiri dan pergi dari situ seperti kakaknya Sammy. Tetapi dia selalu tahu, dia tidak akan melakukannya.
Ketidakberuntungan Pecola seperti turunan dari kedua orang tuanya. Ayahnya, Cholly, saat berusia empat hari dibuang oleh ibunya sendiri dengan bungkusan koran, lalu ditaruh di tumpukan sampah dekat rel kereta api. Tante Jimmy menyelamatkan Cholly, lantas memukuli ibunya Cholly dengan gagang pisau cukur dan melarangnya mendekati anaknya setelah kejadian itu. Tantenya yang membesarkan Cholly, sebab ibunya pergi dan tak ada orang yang mendengarnya lagi.
…
Ibunya, Pauline sejak pindah ke Lorain mengikuti suaminya. Dia melihat orang-orang kulit putih di daerah ini lebih bergaya dari pada di kampung halamannya. Dia ingin sekali mengikuti pakaian yang mereka kenakan, perempuan-perempuan di kota ini memakai sepatu hak tinggi dan Pauline juga ingin memakainya. Tetapi, ketika ia mencobanya, justru hanya memperburuk kondisinya dan membuatnya tidak bisa jalan.
Ketika Pauline merias wajahnya, ia merasa tidak nyaman dengan permpuan-perempuan kulit hitam yang ia temui. Sebab hasil riasannya yang jelek hanya mengundang lirikan, ejekan, dan tertawaan. Saat kedua anaknya masih kecil, dan Cholly semakin pemarah dan mabuk-mabukan, dia mulai kerja di rumah orang kulit putih, dia mengambil tanggung jawab ekonomi.
Di luar rumah, bagi Pecola tidak lebih baik di dalam rumah. Di sekolah, Pecola sering jadi ejekan rasial anak laki-laki teman sekolahnya. “Hitam e mo hitam e mo papa kamu tidur telanjang”. Sebuah ejekan sepulang sekolah saat dia bertemu dengan Claudia dan Frieda.
Setelah mereka menolongnya, mereka berjalan dengan seorang anak kulit putih bernama Mureen. Lantas terjadi percecokan. Claudia begitu marah dan memukul Mureen tapi tidak mengenainya, Mureen lari ke seberang jalan sambil berteriak “aku cantik! dan kamu jelek! Hitam dan jelek. Aku cantik!”.
***
Ejekan, kecurigaan, bahkan tuduhan bernada rasial dalam gambaran novel ini, seperti sudah menjadi makanan sehari-hari bagi orang kulit hitam. Sebuah kejadian saat Pecola diajak seorang anak kulit putih yang nakal memasuki rumahnya dengan maksud jahil. Saat sudah masuk rumahnya, anak nakal itu memperlihatkan anak kucing hitam kemudian melemparkan ke muka Pecola.
Anak kulit putih itu tertawa sambil mengitari ruangan dengan gembira. Dia menahan Pecola dalam ruangan bersama anak kucing itu, sambil mengelus-elus tubuh kucing itu. Anak kulit putih itu melihatnya menyambar anak kucing di tengah saling rebut, Pecola dan anak kucing jatuh. Hewan itu menggelinjang kesakitan semakin lama semakin lemas dan mati.
Seketika peristiwa terjadi, ibu anak kulit putih itu datang dan melihat mereka semua. Pikiran si ibu melintas beberapa pengalaman hidupnya saat menyaksikan orang-orang kulit hitam. Mereka anak-anak kulit hitam itu; “berkeliaran di luar warung minuman keras di Mobil, merangkak di beranda perumahan di pinggiran kota, duduk di terminal bus membawa tas kertas dan merengek pada ibunya, sementara ibunya selalu berkata “diam” rambut acak-acakan, pakaiannya robek, sepatu tak diikat, dan (membawa) kue kotor. Dan anak-anak seperti itu ada di mana-mana. Mereka tidur berenam dalam satu tempat tidur, saling membasahi dengan air kencing ketika masing-masing dari mereka bermimpi tentang permen dan keripik kentang”. Bayangan si ibu ini seperti saya singgung di atas merupakan bias rasial karena perbedaan struktur kelas yang timpang antara orang kulit putih dan orang kulit hitam.
…
Petaka itu datang saat ayah Pecola mabuk pada suatu sabtu sore, dengan batas akal sehat dan tidak, ia melihat putrinya sedang mencuci piring. Alur emosi yang berubah-ubah “kelembutan itu membuncah dalam diri Cholly. Ia terjatuh dan berlutut, matanya menatap kaki putrinya. Cholly lalu merangkak dan mendekati putrinya”.
Setelah ayahnya menyetubuhi dirinya, Pecola sadar terbaring di lantai dapur merasakan rasa sakit di antara kedua pahanya, seketika yang terbayang dalam benaknya adalah wajah ibunya.
Kabar tentang perbuatan ini menyebar luas di Lorain. Orang-orang menggunjingkan perbuatan bejat ayah Pecola yang diperhatikan si narator Claudia dan saudarinya Frieda saat menjual permen ke tetangganya. Mereka ingin membela teman mereka; Pecola sisi lain memunculkan rasa malu dalam diri mereka, akhirnya mereka merasa kasihan kepadanya.
Orang-orang ini tampaknya tidak turut berduka atas Pecola, orang-orang itu lebih pada jijik, bingung, marah atau semangat untuk bergosip tentang cerita itu “tapi yang ada hanyalah gelengan kepala menggantikan kata-kata (rasa kasihan) itu. Kami mencari mata penuh perhatian, tapi yang kami saksikan hanyalah kabut”.
Di akhir, cerita ini dipenuhi hal-hal yang menyesakkan dada. Saat Pecola datang ke seorang pendeta, yang biasanya hanya didatangi orang-orang untuk pengakuan dosa atau nasehat keagamaan. Tapi Pecola datang untuk permintaan lain. “Aku tak bisa lagi pergi sekolah. Dan kukira kamu bisa membantuku …. mataku … aku ingin mata biru”. Perlu diketahui bahwa mata biru adalah jenis mata yang biasa dimiliki oleh orang-orang kulit putih.
Sejak kejadian pilu tersebut, keluarga Pecola tercerai-berai. Ayahnya memilih minggat. Begitu juga kakaknya, Sammy. Tersisa dirinya dan ibunya, kemudian mereka pindah di pinggiran kota Lorain, bayi yang dikandungnya mati karena lahir secara pematur.
***
Menurut saya, Pecola menempati tiga posisi marjinal. Pertama, dia sebagai orang kulit hitam kerap sekali direndahkan secara rasial. Kedua, dia sebagai perempuan dilecehkan oleh ayahnya sendiri. Dan ketiga, sebagai anak-anak, dia belum bisa menjelaskan kenapa dan bagaimana kejadian yang menimpa dirinya.
Menjelang bab terakhir ada sebuah bab yang bagi saya merupakan bab paling pilu, ketika Pecola seolah-olah berbicara dengan temannya. Sedangkan sebenarnya, dia hanya berbicara dengan dirinya sendiri. “Mataku lebih biru kan? … lebih biru dari mata Joana?… dan lebih biru dari mata Michelena? … mereka tidak mau. Bila kamu bersamaku, bahkan nyonya Breedlove gak mau bicara denganmu. Gak pernah … dia mungkin Merindukan Cholly”.
Dalam catatan penulis di tambahan bab, dijelaskan bahwa harapan memiliki mata biru adalah sebuah pengalaman pribadi ketika suatu saat teman penulis mengungkapkan kepadanya. Tentu saja penulis merasa geli dan membayangkan, jika temannya itu mempunyai sepasang mata biru betapa buruknya hal itu. Akan tetapi, harapan itu bukan datang tiba-tiba karena ada sebuah “gerakan reklamasi kecantikan rasial pada tahun enam puluhan”.
Saya kira kejadian yang dialami Toni Morrison saat masih kecil/remaja masih ada di sekitar kita, bagamana cantik atau tampan seolah dijadikan standar tertentu. Seperti kulit putih, mulus, atau langsing yang ujung-ujungnya diarahkan untuk membeli produk kecantikan.
Maka istilah “setiap orang itu cantik” atau “setiap orang itu ganteng” ada benarnya sekaligus sebuah kenaifan; jika masih ada dominasi budaya atau wacana yang ingin menjadikan standar tertentu, padahal sebenarnya, setiap orang berbeda-beda.
Alumni IMM DIY
