Dari Anak-Anak, Melatih Kejujuran itu Menyehatkan!
Suatu hari, saya menemukan robekan kertas dengan nilai buruk. Itu adalah nilai harian sekolah anakku yang pertama. Kutanyakan padanya, kenapa dirobek? Dari raut wajah dan gestur tubuhnya terlihat ketakutan dan diam seperti berpikir mau menjawab apa.
Tanpa menunggu jawaban darinya, aku pun menghampiri dan memeluknya. Kuangkat wajahnya dan kutatap matanya lekat-lekat sambil berkata, “Ingat-ingat ya, Mama lebih malu punya anak pembohong daripada sekedar nilai jelek. Kalau hanya nilaimu jelek, besok bisa belajar lagi.” Anakku pun hanya mengangguk dan menangis dalam pelukanku. Namun yang pasti, sejak saat dia tidak pernah lagi berbohong pada kami, orang tuanya, dengan ceria berbagai nilai buruk dia berikan atau ceritakan kepada kami.
Peluang Ketidakjujuran
Jujur adalah sebuah kata yang sederhana namun sangat sulit terkadang dimiliki oleh jiwa-jiwa tertentu. Dalam berbagai peristiwa, nyatanya sifat jujur ini justru mencelakai diri sendiri. Maka munculah istilah Jawa “jujur tapi ajur“ (jujur tapi hancur). Di berbagai institusi misalnya, orang-orang yang jujur justru sering hancur oleh sistem, entah dimutasi, diasingkan atau bahkan yang dipecat. Fenomena-fenomena inilah yang terkadang juga membuat munculnya perilaku tidak jujur.
Perilaku-perilaku ketidakjujuran di berbagai lini memang sering kita jumpai. Dari lingkungan terkecil yaitu sebuah keluarga sampai lingkungan yang lebih. Berbagai peristiwa ketidakjujuran yang menjadi konsumsi publik pun sering kita dengar ataupun baca. Termasuk perilaku-perilaku ketidakjujuran yang sengaja ditutupi. Namun, publik tahu atau pura-pura tak tahu juga menjadi bagian dari paparan hidup kita.
Betapa menyedihkannya setelah kita sadar bahwa perilaku-perilaku ketidakjujuran bisa dilakukan siapa saja. Bisa anak, istri, suami, pejabat, elit politik, orang-orang yang kita pandang agamis juga mereka-mereka dari kalangan akademis, intinya ketidakjujuran dapat dilakukan siapa saja, tidak pandang bulu.
Ketidakjujuran dalam Berbagai Literatur
Perilaku ketidakjujuran atau kebohongan, ternyata sudah dapat ditemukan saat usia anak-anak sejak dini. Hal ini dikemukakan Victoria Talwar dan kawan-kawannya, yang meneliti dengan cara anak-anak diminta untuk tidak mengintip mainan yang tersedia saat mereka ditinggal sendirian. Namun yang terjadi, ternyata anak-anak tersebut tidak tahan untuk mengintip mainan dan mencoba memainkannya, dan ketika mereka ditanya mereka pun berbohong dan tidak mengakui tindakannya.
Robert Feldman, Profesor Psikologi di Universitas Massachusetts Amherst, menyatakan bahwa seseorang berbohong disebabkan untuk menghindari kecanggungan, mempengaruhi orang lain, mempertahankan kebohongan yang terjadi sebelumnya, menghindari akibat negatif, menyenangkan orang lain dan mendapatkan hasil yang positif. Inilah hal-hal yang disinyalir mengakibatkan banyak orang berbuat bohong.
Dampak dari Ketidakjujuran
Sebenarnya bagi orang-orang yang memiliki hati nurani yang jernih, perilaku-perilaku ketidakjujuran justru memiliki efek yang tidak bagus. Berbagai perasaan bersalah, penyesalan dan dikejar rasa takut, akan sering dirasakan dan berdampak pada rasa tidak tentram yang mengikuti mereka sepanjang waktu.
Belum lagi jika kebohongan-kebohongan itu justru harus ditutupi dengan kebohongan-kebohongan lain agar konsisten. Maka justru akan memunculkan rasa tidak nyaman yang akan merusak psikis mereka sendiri. Jika terus menerus di dera rasa bersalah, bukan tidak mungkin malah menyebabkan psikosomatis (sakit psikis yang mengakibatkan sakit fisik).
Namun hal yang lebih mengerikan dari dampak ketidakjujuran adalah jika hal tersebut sudah mendarah daging dan merasa biasa saja dan enteng saja untuk tidak jujur, pasti hal ini sangat memprihatinkan.
Melatih Kejujuran Sejak dari Keluarga
Tempat pembelajaran hidup paling awal adalah keluarga, termasuk mengajarkan budaya jujur pada anak-anak dan anggota keluarga yang lain. Jujur akan menjadi sebuah karakter jika dilakukan terus menerus. Saya pernah mendengar istilah “the muscle of character“ yang menyatakan membangun karakter atau sikap positif itu seperti melatih otot yang harus dilakukan secara kontinyu, terus menerus melalui pembiasaan yang diulang-ulang sehingga menjadi kuat dan lebih kuat lagi.
Jika keluarga adalah sekolah pertama tentang belajar jujur, maka sejak awal setiap anggota keluarga harus belajar pula tentang kebesaran hati untuk menampung jiwa-jiwa yang jujur. Kejujuran terkadang pahit di awal, ada luka, sakit hati, ketakutan yang harus siap kita tanggung. Dibutuhkan jiwa yang kuat pula untuk belajar menerima pahitnya jujur. Bagi pasangan suami istri misalnya, harus mau belajar menerima keburukan pasangan kita dengan tegar jika salah satu di antaranya berbuat salah. Kebesaran hati masing-masing anggota keluarga akan membuka pintu jujur untuk selalu ada di antara mereka.
Hal yang pahit dalam keluarga, misalnya terjadi perselingkuhan, maka suami atau istri yang melakukan akan belajar untuk mengakui atau terpaksa harus mengakui jika ternyata “ketahuan”. Dan hal ini bukan hal sepele karena hal besar pun dipertaruhkan untuk tetap bertahan atau ditinggalkan. Tapi bagaimanapun pahitnya memang harus dilalui entah menjadi lebih baik atau berakhir, tapi yang pasti tidak ada beban lagi yang harus ditanggung masing-masing, meskipun memaafkan juga terkadang membutuhkan waktu.
Melatih Kejujuran dengan Mengurangi Tekanan
Untuk orang tua terhadap anak-anaknya, hendaknya juga memberi kelonggaran dan mengurangi tekanan-tekanan. Pada era ini, kebanyakan kemampuan anak lebih ditekan pada pencapaian-pencapaian akademik, yang mungkin anak kita lebih unggul di bidang-bidang lain yang tidak terlayani di bidang akademik mereka. Sehingga, kadang pencapaiannnya tidak memuaskan dan hal-hal inilah yang terkadang membuat anak-anak berperilaku tidak jujur, nyontek misalnya atau menyembunyikan hasil nilai studinya karena takut.
Di keluarga kami memang sudah terbiasa untuk jujur satu sama lain meskipun pahit. Berbagai pengakuan kesalahan yang pernah saya atau suami lakukan pernah kami telan semua pahitnya. Tapi kami meyakini dan membuktikan, dengan kejujuran tidak ada lagi beban yang harus kami bawa sepanjang waktu. Terkadang kita memang harus menelan pahitnya obat demi sebuah kesembuhan dan salah satunya dengan kejujuran maka kita bisa sembuh dari berbagai luka masa lalu.
Mahasiswi S3 Pendidikan Anak Usia Dini Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
