f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
budi pekerti

Belajar Budi Pekerti dari Sebuah Dongeng

Ada rasa haru, bahagia dan bersyukur ketika suatu hari mendapati anak-anakku begitu manis di mataku. Mereka sudah mampu merapikan tempat tidur, menata buku-buku sekolah yang biasanya berantakan dan setiap hari memaksa emaknya harus turun tangan sambil berorasi secara singkat, padat dan jelas. Lebih bahagia lagi melihat mereka senyum-senyum dan minta didongengi kembali malamnya sebelum tidur. Aku menyanggupi.

Untuk membuat mereka menjadi selalu manis di mataku tentu butuh waktu. Apalagi di usia yang masih kanak-kanak, hal-hal kecil yang berhubungan dengan pekerjaan rumah sehari-hari belumlah menjadi kewajiban bagi mereka. Meskipun begitu, akan menjadi sangat penting jika kita mau melatih mereka secara pelan-pelan disesuaikan dengan kemampuan anak. Ya, minimal beres-beres mainan, merapikan rak sepatu atau sandal, menyiapkan baju sendiri dan lain-lain.

Peristiwa di atas sudah lama terjadi namun dampaknya sangat berarti di sepanjang usia mereka. Mungkin karena budaya dongeng mendongeng sudah kukenal sejak kecil dalam keluarga, sehingga untuk urusan mendongengi anak-anak aku merasa tak keberatan. Tak jarang sengaja kucari-cari kisah apa yang harus aku dongengkan agar pas dengan suasana pada saat itu.

Dongeng yang kita kenal selama ini adalah kisah-kisah jaman dahulu yang diceritakan secara turun temurun, meski tidak benar-benar nyata dengan tujuan mengajarkan nilai-nilai moral sekaligus menghibur. Bisa berupa cerita atau kisah tentang putra putri kerajaan jaman dahulu, kisah tentang binatang atau tentang keduanya.

Banyak kisah terkenal dan menjadi legenda di tanah air. Misalnya, legenda Sangkuriang, Dampo Awang, Malin Kundang, Ande-Ande Lumut, si Kancil dan masih banyak lagi. Dari manca negara misalnya, kisah Cinderella, Putri Salju, Pinokio dan lain sebagainya. Kisah-kisah tersebut rata-rata mengandung nasehat bahwa kejahatan pasti akan dikalahkan oleh kebajikan.

Di luar cerita-cerita yang sudah populer tadi, sebenarnya kita mampu merekayasa cerita sendiri untuk menyampaikan atau mengenalkan pada anak nilai-nilai moral. Kita ramu agar lebih menarik dengan tambahan bumbu di sana sini tanpa mengurangi isi cerita aslinya. Jika anak-anak kurang antusias dengan cerita yang kita dongengkan, kita bisa membelokkan cerita dengan bebas.

Baca Juga  Bagaimana Orang Tua Merusak Anaknya?

Bisa juga kita membuat cerita yang dikemas agak panjang secara seri. Atau bila kita menginginkan tujuan pendidikan moral itu cepat sampai ke anak, dongengnya bisa dibuat sekali tamat. Sebagai contoh, agar anak kalau makan tak selalu bersisa dan berantakan, kita bisa membuat dongeng dengan judul Tangisan Sebutir Nasi, misalnya.

Tidak ada aturan khusus yang mengharuskan mendongeng ke anak dengan ketentuan begini atau begitu. Selama ceritanya menarik bagi anak dan bisa menghibur, tema apa saja bisa jadi bahan untuk mendongeng tanpa meninggalkan tujuan awal yaitu menanamkan akhlak atau budi pekerti.

Seiring kemajuan teknologi yang begitu pesat dan dahsyat ternyata ada hal-hal tertentu yang nyaris tergerus dan musnah. Dulu, ketika masih duduk di SD ada mata pelajaran etika atau adab atau sopan santun. Adab ini jauh lebih penting sebelum kita menuntut ilmu. Karena saking pentingnya dalam kehidupan masyarakat, hal yang satu ini benar-benar dijunjung tinggi.

Saat ini jarang kita jumpai ada anak yang ketika dipanggil bapak atau ibunya langsung datang menghadap. Menoleh pun kadang tidak karena sedang asyik memegang gadget. Satu lagi yang nyaris hilang adalah budaya turun dari sepeda bila sedang lewat di depan orang tua lalu membungkuk hormat. Yang kita lihat sekarang justru kalau perlu dipercepat laju sepedanya.

Itu hanya sebagian kecil contoh yang membuat kita cukup prihatin dengan perkembangan kepribadian anak jaman sekarang. Jika bukan orang tua, guru dan orang-orang terdekat, siapa lagi yang memberi pelajaran tentang adab atau etika? Karena itu saat kita mendongeng tak lupa sambil menyelipkan aneka pelajaran budi pekerti unggah-ungguh. Akan lebih seru lagi jika kita mampu berimprovisasi dalam mendongeng. Anak-anak akan lebih tertarik dan tidak merasa bosan.

Baca Juga  Gajahwong, “Oh Anak Berkarakter”

Hampir setiap anak suka dengan dongeng. Tapi tidak semua orang tua mampu atau mau mendongengi anak. Ada yang ingin mendongengi tapi tak punya bahan cerita atau tak punya waktu karena sibuk dengan pekerjaan. Sebaliknya, ada yang sampai kehabisan bahan cerita dan akhirnya dibuatlah cerita rekayasa yang penting keinginan anak didongengi sebelum tidur, telah terpenuhi.

Sesungguhnya bahan untuk mendongeng ada di sekitar kita. Dari membaca buku-buku yang ada dan dari peristiwa atau momen yang terjadi hari itu bisa kita kemas menjadi sebuah dongeng. Diceritakan kembali dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak dan bahasa yang mengandung hiburan. Dengan perumpamaan binatang dan tumbuh-tumbuhan akan lebih diterima oleh anak. Bukankah dongeng yang sejak kecil kita kenal menceritakan tentang binatang yang bisa bicara? Tumbuhan juga?

Dengan melihat ekspresi saat mendengarkan dongeng, kita bisa tahu anak ini suka atau tidak. Bila gelisah dan tidak nyaman dengan posisi duduknya, berarti dia sedang memikirkan sesuatu dan tidak fokus pada dongeng. Tapi bila mereka menyimak hingga melongo atau sambil senyum-senyum, ketika sampai pada cerita yang menurutnya menyenangkan, berarti dia suka dengan dongeng tersebut.

Yang paling tahu tentang anak adalah orang terdekatnya yaitu orang tua. Pendidikan pertama yang diserap oleh anak juga pendidikan dari orang tua. Masa tumbuh kembang anak tak lepas dari peran orang tua yang mengasah, mengasuh dan mengasihi. Dari hasil gemblengan orang tua terbentuklah karakter anak yang bervariasi, karena sifat-sifat anak yang satu tidak mungkin sama dengan yang lain meski digembleng orang yang sama.

Dari sebuah dongeng, kita bisa mengajarkan banyak hal, karena tidak semua anak mampu menerima nasehat-nasehat secara langsung. Ada yang justru lewat dongeng akan mengena di hati dan tidak merasa diatur dengan petuah ini itu.

Baca Juga  Laki-Laki Memiliki Andil Menekan Stunting

Ada kalanya anak minta cerita yang membahagiakan selain cerita-cerita sedih. Biasanya cerita tentang pangeran tampan yang rendah hati atau putri cantik yang baik hati dan dermawan. Yang seperti ini akhir ceritanya selalu menyenangkan.

Tapi bila minta cerita sedih dan menyayat kalbu, bisa dipilih diksi yang mengharukan dan menyentuh hati sebagai pemanis ilustrasi, untuk menggambarkan suasana yang ada dalam sebuah cerita sedih. Dengan menyimak kisah sedih, berharap bisa melatih empati anak untuk peduli kepada yang lemah dan bersyukur atas segala kemudahan yang didapatkan selama ini.

*

Membiasakan mendongeng sebelum tidur merupakan salah satu cara dari banyak cara untuk menanamkan ke anak tentang pelajaran budi pekerti. Juga tentang keikhlasan dalam berbagi dan tentang hal-hal lain yang mengandung nilai-nilai kebaikan, lewat tokoh yang ada dalam sebuah dongeng.

Karena dengan mendongeng, pesan-pesan moral yang ada di dalamnya akan lebih mudah tersampaikan dan berharap mampu membentuk pribadi anak agar menjadi manusia yang berbudi luhur, bermanfaat bagi lingkungan baik ke sesama manusia, hewan maupun mahluk lainnya.

Sebuah dongeng telah membuktikan bahwa anak-anak adalah perekam terbaik karena hingga dewasa masih ingat isi cerita dalam dongeng yang pernah didengarnya. Mungkin aku akan terus mendongeng untuk anak-anak Indonesia, cucu-cucuku atau bahkan cicitku kelak.

Bagikan
Comments
Post a Comment