f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
tega

Anak Anda Cinta Anda Apa HP Anda?

Oleh: Mulyanto

….
Saya punya kegamangan lumayan akut mengenai pembentukan karakter anak. Saya mendatangi ibu saya.

“Anakku nggak nurut aku, Bu. Sudah kami turuti kemauannya. Mainan dibelikan, HP dikasih nggak kenal waktu, makan dan jajan di-nyah-nyoh. Tapi anakku masih nggak taat suka membangkang. Tak kira diumpan macem-macem bisa nurut. Eh, ini nggak.”

“Nggak salah kamu yang berpendidikan tinggi menanyakan hal ini pada wanita tua yang keriput ini, Nak?”

“Aih, ibu jangan merendah begini. Tolong beri aku pencerahan, Bu.”

“Baiklah. Semoga Ibu tidak keliru memberi arahan.”

“Nah gitu dong. Ini sambil tak pijit pundaknya ya!” Saya bilang. Ibu mesem wibawa lalu membetulkan posisi duduknya dan aku berdiri di belakangnya sambil mijet siap mendengarkan nasihat Ibu.

“Anakmu sekarang umur berapa, Le?”

“Mau lima tahun, Bu.”

“Menurutmu dia perlu nurut kamu apapun yang kamu mau saat ini?”

“Mestinya kan begitu, Bu.”

“Oke. Pertama-tama kamu perlu tahu nasihat khalifah Ali bin Abi Thalib, sahabat sekaligus mantu Rasululloh.”

“Gimana nasihatnya, Bu?”

“Bahwa mendidik anak ada tiga fase. Fase anak usia 7 tahun pertama didiklah laksana raja. Fase anak usia 7 tahun kedua didiklah laksana tawanan perang. Fase anak usia 7 tahun berikutnya didiklah laksana seorang sahabat. Gitu, Le!”

Saya tercenung. Ibu terus mengoceh. “Apa sudah kau perlakukan anakku yang masih umur kurang dari 5 tahun ini laksana raja? Jangan jawab dulu. Kalau kamu mau anakmu nurut rasanya kamu mendidik ala tawanan perang. Belum saatnya. Hehe.”

Usai mengkekeh Ibu lanjut ngoceh. “Sudah benar kamu beri umpan macam-macam. Mainan, HP, jajan, dll. Tak salah. La wong dia raja kok. Sudah kadung. Kamu juga sih memposisikam raja di kerajaan yang kamu bentuk.”

Baca Juga  Aku Sempurna

“Kerajaan apa itu, Bu?”

“Maksudnya, jika saja kerajaanmu kau setting sederhana, mainan sederhana, tanpa HP, tanpa TV, jajan secukupnya ya, menyibukkan diri dengan yang manfaat, beribadah bersama, mengaji, ngafalin alQuran, dll. Bisa jadi rajamu di usia 5 tahun ini sudah hafal juz 30. Kan bagus ini.”

“Iya juga ya.”

“Iya iyalah. Kamu dulu usia TK Ibu masih ingat sudah hafal yasin dan separo juz 30. Ibu dulu meski hanya janda tapi ibu tak ingin menyusahkanmu. Ibu menjadikan kamu sebagai raja di istana yang sederhana. Tak ada radio apalagi TV apalagi HP. Jajanmu bahkan kurang. Tapi kamu bahagia. Dan nurut sama ibu. Kamu raja yang santun dan periang.”

“Ya Allah. Begitukah, Bu?”

“Iya.”

“Anakku bahkan bila HPnya habis baterai, ngamuk, Bu. Aku susah. Dipanggil nggak noleh. Disuruh belajar yang ringan saja nggak nurut. Suruh ngaji nangis. Ya aku pukul pakai sapu lidi, kadang. Nakal sih.”

“Ini kesalahan berikutnya. Kalau anak dipukul secara tak sadar kamu telah mendidiknya jadi pemarah. Tahan. Ngalah. Sudah kesalahan sejak awal. Rajamu kamu beri umpan HP, TV, game. Jadi harus turuti terus sampai status raja berubah jadi tawanan perang.”

“Ya Allah… tapi tolong beri pencerahan bagaimana mengatasinya, Bu?”

“Ibu bukan ahlinya, Nak. Senyampang anakmu masih mau berkompromi sama kamu yang dia masih mau kamu ajak kerjasama. Mandi mau sama kamu. Mau tidur dengan ditemanimu. Makan mau bareng kamu, dll. Ini itu masih melibatkan kamu, kamu berangkat kerja mau salim cium peluk kamu, kamu datang ditagih HPnya setelah salim, itu artinya anakmu masih cinta sama kamu. Anakmu masih sayang sama kamu.”

Baca Juga  Menghadirkan Pendidikan Toleransi di Tengah Keluarga

“Ibu tahu dari mana kalau anakku nagih HPku, sepulang aku kerja?”

“Anaknnya Fulan tetanga sebelah ya begitu. Seolah rindu HP ayahnya daripada ayahnya. Pulang kerja yang diminta HPnya. Hee.”

“Iya anakku juga gitu, Bu.”

“Memberikan umpan hati akan mendapatkan hati, Nak. Memberi umpan HP akan mendapatkan stres.”

“Jadi aku harus gimana, Bu?”

“Terus berusaha jadi orang tua panutan. Yang kata dan perbuatannya layak diimitasi anak. Bila berkata lembut bila bertindak menyamankan anak.”

“Bismillah, Bu.”

“Terus didik dengan sabar dan perkataan mulia. Nanti tarik aneka fasilitas, tapi tunggulah sampai anakmu berstatus tawanan perang, sambil sedikit-sedikit kurangi kecanduannya pada HP. Alihkan ke olahraga. Main bola, badminton di halaman rumah, main sepeda, silat, renang, dll. Kalau kamu pingin anak sabar, kamu harus paling sabar. Jangan jadi orang tua yang marah-marah mulu. Kalau anakmu mau nurut kamu juga layani dia sepenuh hati. Tahan, jangan main tangan. Anak akan merekam bahwa dia dipukul. Nanti hatinya mengeras karena dendam. Jadilah contoh teladan mulia. Karena contoh lebih hebat daripada ‘pidato’. Memang sesederhana itu mendidik anak agar sabar dan penurut. Tapi memang sulit sekali praktiknya. Dan jangan lupa selalu doakan agar anakmu jadi anak yang sholih. Yang kelak berguna dan jadi penolong agama Allah. Semoga berhasil ya, Le!”

“Matur sembah nuwun, Ibu.” Aku lantas menanamkan moncong bibirku di ubun-ubun Ibuku sambil memeluknya. Dulu Ibu sering begitu terhadapku. Barakallah.

….
Pamekasan, 30/5/2020

*) Penulis adalah seorang ayah asli Sumenep bertinggal di Surabaya

Bagikan
Comments
  • Terima kasih, akan terus saya ingat
    * 7 tahun pertama perlakukan anak seolah dia raja di kerajaan yg kita bangun dlm kesederhanaan
    * 7 tahun kedua, kita didik anak bak tawanan perang, penuh disiplin
    * 7 tahun ketiga kita perlakukan anak seperti seorang teman, sahabat.

    Juni 2, 2020
Post a Comment