Serba-Serbi Kehidupan Onty: Kuliah Menjadi Ibu
Onty, istilah yang berasal dari kata aunty artinya tante. Onty merupakan nama panggilan milenial kepada seorang tante. Saya resmi dipanggil onty pada tahun 2019. Keponakan saya ada 2, satu berusia 3 tahun yang biasa disebut adek manis dan satu baru berusia 1 tahun yang biasa dipanggil adek kecil. Adek manis merupakan anak pertama dari kakak laki-laki saya, sementara adek kecil merupakan anak pertama dari kakak perempuan saya. Kedua berjenis kelamin laki-laki. Saya bersama adek manis selama di kampung halaman, kini sudah jarang bersua dengannya. Berbeda dengan adek kecil, ia hidup dengan saya di tanah perantauan sampai saat ini. Hidup bersama keponakan membuat saya belajar banyak hal. Apalagi mba dan mas saya bekerja dari pagi hingga sore hari. Hal tersebut membutuhkan bantuan dari orang sekitar untuk membantu menjaga anaknya, termasuk dari onty-nya.
Seperti yang dikatakan Cak Nun bahwa tanda dewasanya seseorang, yaitu melakukan sesuatu berdasarkan baik-buruk bukan berdasarkan senang atau tidak senang. Berbeda dengan anak-anak mereka melakukan sesuatu berdasarkan senang atau tidak senang. Dasar itulah yang dilakukan oleh keponakan saya dalam bertindak, mereka belum memahami banyak hal sehingga melakukan sesuatu berdasarkan kesenangan saja. Hal ini merupakan tantangan dan peluang bagi saya untuk belajar banyak dari mereka. Mereka adalah jiwa yang mampu berbahagia dengan hal sederhana. Berikut ini beberapa hal yang saya dapatkan selama bermain bersama kedua ponakan saya.
Mengenal dan Menerapkan Ilmu Parenting
Pada saat sebelum memiliki ponakan, saya tidak tahu-menahu perihal teori parenting. Ilmu ini saya peroleh ketika mba dan mas saya memberi arahan ketika mereka sedang tidak bisa menemani buah hatinya.
Pertama, hal yang harus saya lakukan ialah memberi ponakan saya susu selama 2 jam sekali. Mba saya telah menyediakan ASI di kulkas, saya cukup menghangatkan dan memberikan kepada adek kecil.
Kedua, menerapkan feeding rules ketika makan. Adek kecil beberapa kali tidak mau makan atau melakukan GTM (Gerakan Tutup Mulut). Maka dari itu, mba saya menerapkan aturan makan selama 30 menit.
Ketiga, pantang untuk mengatakan jangan kepada ponakan, gunakan pertanyaan agar mereka mampu berpikir atas perbutannya, seperti “Apakah yang kamu lakukan itu baik?”.
Keempat, membacakan buku saat malam tiba. Tentunya itu hanya 4 dari sekian banyak hal yang saya pelajari dan tidak muat untuk ditulis satu persatu.
Teori hingga praktik secara langsung tersebut tidak akan saya peroleh ketika saya tidak merawat ponakan saya. Ini merupakan ilmu yang akan selalu saya ingat hingga nanti memiliki anak.
Mengenal Lebih Dekat Dunia Ibu-Ibu
Pernah pada suatu siang ketika di rumah adek manis, saya dipanggil tetangga sebelah rumah untuk mengikuti kegiatan penyuluhan yang dilakukan oleh puskesmas setempat. Kegiatan diikuti oleh ibu-ibu kompleks dengan posisi duduk melingkar. Sebelum memulai kegiatan, petugas memberikan soal pretes. Wah, ini hal menyenangkan sekaligus menegangkan karena saya merasa berada di situasi ujian. Petugas puskesmas kemudian menyampaikan materi yang berkaitan dengan soal pretest. Kami sangat antusias mendengar bahkan beberapa ibu ikut bertanya. Di akhir kegiatan, dilakukan posttest dengan soal yang sama dengan pretest. Tentu saja saya lebih optimis karena sudah mendengar penjelasan dari petugas.
Dari sinilah saya bisa melihat sudut pandang yang berbeda dari ibu-ibu kompleks. Mereka antusias dalam kegiatan hingga konsultasi perihal masalah yang sang anak alami. Bahkan, mba saya menitipkan pertanyaan kepada tetangga sebelah untuk disampaikan ketika proses diskusi berlangsung. Pada saat menemani ponakan bermain dengan teman, saya juga belajar untuk mengenal ibu-ibu kompleks. Semata bukan hanya untuk basa-basi, tapi agar dapat saling bertukar pendapat mengenai perkembangan anak.
Mengetahui Perjuangan Seorang Ibu
Sebelum saya memiliki ponakan, saya merasa bahwa seorang ibu selalu baik-baik saja. Setelah saya melihat lebih jelas bagaimana kegiatan yang dilakukan mba saya yang jauh dari suami. Saya selalu kagum dengan seorang ibu. Seorang ibu mampu mengatur pola hidupnya dari bangun sampai tidur lagi dengan cara yang luar biasa. Pagi sebelum anak bangun, ia sudah mempersiapkan makanan, membereskan rumah, dan melakukan pekerjaan rumah lainnya. untuk anak. Ketika anak sudah bangun seorang ibu memulai kegiatan dengan memandikan hingga menyuapi sarapannya. Setelah itu, masih terus bekerja sampai sore. Pada saat sore haripun hanya bercengkrama dengan anak dengan waktu yang amat sedikit, sebab anak sudah lelah dan ingin segera tidur. Begitu seterusnya. Hal inilah yang membuat seorang ibu disebut 3x dalam sabda Nabi Muhammad Saw. Cinta itu adalah cinta terindah bagi setiap anak.
Melatih Keberanian dalam Bertindak
Titik terendah saya ketika merawat ponakan ialah ketika pademi Covid-19. Hal ini karena ayah dan ibu adek kecil terkena Covid-19. Alhamdulillah, Allah Swt. masih menyelamatkan adek kecil dari virus tersebut. Keluarga tak ada yang berani mendekat sebab mereka juga memiliki anak kecil. Saya satu-satunya orang yang dianggap mampu merawat adek kecil karena tidak memiliki tanggungan apapun. Usia adek kecil saat itu masih 3 bulan, ia baru bisa mengangkat kepalanya.
Kami berdua ditempatkan pada satu petak kamar yang hanya diisi kasur dan lemari pakaian sebab, ruang sebelah diisi oleh mba dan suaminya. Pada situasi genting seperti itu, apapun yang saya takutkan harus saya lakukan termasuk memandikan dan menyuapi adek kecil. Itu merupakan momen mendebarkan bagi saya. Kesulitan yang saya rasakan selama bersama adek kecil ketika ia terus-menerus menangis ketika maghrib tiba. Di ruang sebelah, mba saya memberikan komando terkait hal yang harus saya lakukan untuk si kecil.
Pada saat si kecil berusia 1 tahun, kami berdua pernah melakukan perjalanan cukup panjang selama kurang lebih 4 jam di dalam kereta. Kami hanya berdua, untung saja ia tak menangisi kealpaan ibunya. Hal ini karena mba saya tidak diperbolehkan masuk kereta karena belum vaksin 3, sementara kami berdua sudah berada di dalam kereta. Akhirnya, dengan berat hati mba melepas kepergian kami berdua kemudian menyusul dengan bus. Pada saat perjalanan sempat terbesit perasaan takut, takut jika si kecil menangisi ketiadaan ibunya. Akan tetapi, ketakutan itu hilang. Selama perjalanan si kecil sangat menikmati petualangannya. Ia selalu berdiri di dekat jendela kereta, setiap pemandangan tak ingin ia lewatkan.
Setiap momen yang saya habiskan bersama si manis dan si kecil adalah momen bersejarah yang amat berharga. Ada banyak pelajaran yang saya dapatkan dari mereka berdua. Mereka mengajarkan hal yang sebelumnya saya sukar lakukan. Hidup bersama keponakan adalah belajar yang melebihi puluhan SKS. Masuk ke dunia anak-anak menjadi bekal bagi saya yang kelak akan digunakan ketika memiliki anak. Ikut merawat serta membersamai tumbuh-kembang keponakan adalah hal yang tak ternilai harganya, sebab tidak ada sekolah untuk menjadi ibu. Pengalaman menjadi onty adalah guru terbaik bagi saya.
Mahasiswa Universitas Sebelas Maret yang memiliki hobi membaca. Penulis lahir di Banyumas pada 12 April 2000. Cita-citanya menjadi guru yang menginspirasi dan mendidik.
