f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
penjual

Sudah Sadarkah Penjual Produk Pangan Terhadap Kebersihan Produknya?

Oleh : Syifa Rosyiana Dewi*

Kesadaran Penjual Tentang Menjaga Kebersihan

Di pertengahan bulan April saya masih berpikiran positif tentang penjual makanan di pinggir jalan. Sampai akhirnya saya mengalaminya sendiri. Waktu itu pulang kantor bersama suami, kami berencana membeli donat kentang di pinggir jalan. Sudah membayangkan betapa nanti lezatnya donat yang akan kami makan.

Sampai di penjual donat, si penjual tersebut sedang melayani pelanggan sambil mengobrol dengan salah satu temannya. Saya masih mengantri dengan gembira. Tidak lama, saat mengambil donat dan memasukkan ke adukan gula putih, si penjual batuk berdahak. Batuknya itu dalam kondisi dia sedang mengayak donat dan gula, yang secara tidak langsung ada kemungkinan droplet dari batuknya itu mencapai gula dan donat-donat yang diayak. Rasanya runtuhlah kepercayaan saya pada donat itu.

Secara visual, gerobak jualan donat ini terlihat rapi bersih. Namun, si penjual tidak menggunakan masker dan sarung tangan saat melayani pembeli. Sangat disayangkan. Setelah kejadian batuk itu, saya mengundurkan diri dan tidak jadi membeli. Yang saya heran, masih saja, seorang pembeli lainnya tetap berniat membeli.

Cerita lainnya, dialami seorang teman, dia juga berniat membeli lumpia pinggir jalan. Kejadian yang sama pun terjadi. Bapak penjual batuk dengan kondisi tidak menutup bagian mulutnya dengan tangan maupun masker. Sampai akhirnya dia juga turut mengundurkan diri tidak jadi membeli.

Streetfood juga Harus Bersih

Menurut saya, kondisi ini cukup memprihatinkan. Saya tidak tahu, para penjual itu tidak menggunakan masker karena memang tidak tahu tentang fungsi kegunaannya, tidak menerima edukasi tentang Covid-19, atau memang bebal merasa kebal terhadap virus. Padahal sebagai penjual semestinya kita bertanggung jawab atas kualitas produk yang kita jual.

Kesadaran tentang menjaga kualitas makanan yang kita jual itu yang terkadang masih belum disadari masyarakat. Jika tetap terus seperti itu maka bagaimana rantai penyebaran virus akan terputus. Sungguh ironi.

Baca Juga  Menyikapi Makanan: Pilih yang Halal dan Baik

Kalau dikulik-kulik ada banyak hal yang membuat makanan pinggir jalan tidak sehat. Dari segi pemilihan tempat, pinggir jalan yang namanya di pinggir jalan pasti banyak debu dan asap jika makanan yang akan dikonsumsi tidak disimpan dengan baik dalam boks tertutup secara tidak langsung akan mencemari. Dari segi penjual, kadang ada yang suka buang sampah sembarang, cuci piring tidak bersih, lap tangan digunakan untuk bermacam-macam, setelah memegang uang langsung pegang dagangan, dan lain sebagainya.

Untuk masuk dalam kategori makanan sehat masih jauh. Belum lagi kalau ngomongin bahan yang digunakan, penggunaan minyak yang digunakan sampai berkali-kali, bahan pengawet yang tidak aman, juga daging oplosan. Sebenarnya terlalu banyak resiko.

Saya sendiri, sekalipun penikmat makanan jalanan, saya kerap kali pilih-pilih. Jika dirasa tidak bonafide tidak usah ketimbang besoknya diare berhari-hari. Bukan bermaksud sok, tapi ini demi kesehatan.

Sekali lagi, para penjual jalanan harus merubah kebiasaan itu jika ingin tetap diminati banyak pelanggan. Hal ini juga penting sebagai salah satu tanggung jawab penjual terhadap makanan yang dijualnya.

Kesadaran Daya Beli Makanan Setelah Covid-19

Semenjak pandemi Covid-19 kesadaran daya beli masyarakat pun berubah. Masyarakat cenderung pilih-pilih. Sebelumnya mungkin sudah pilih-pilih, tetapi sekarang lebih pilih-pilih lagi. Hal itu wajar terjadi. Karena kondisi sekarang memaksa kita lebih aware pada apa yang kita konsumsi.  

Orang mulai beralih, yang tadinya kerap jajan di luar jadi apapun makanannya yang penting masak sendiri. Orang cenderung hidup sehat karena tidak makan sembarang dan memperhatikan kualitas makanannya. Kalaupun akhirnya membeli, akan memilih warung yang jelas kebersihannya.

Membaca keadaan ini, saya kira omset warung-warung pinggir jalan juga tidak seramai biasanya. Anggapan warung pinggir jalan tidak sehat memang sudah lama santer terdengar sebelum covid-19 ada. Namun, kini masyarakat baru benar-benar menyadarinya setelah dimasuki pandemi.

Lalu apa ini salah masyarakat karena memilih konsumi makanan rumahan? Saya pikir tidak. Menurut saya sekarang saatnya para pedagang pinggir jalan itu yang berubah. Merubah mindset dan pemikiran orang bahwa makanan pinggir jalan itu tidak sehat.

Baca Juga  7 Teman Manis Rendah Gula untuk Buka Puasa

Sebenarnya mau restoran besar atau pinggir jalan kalau bisa sama-sama menjaga kualitas makanannya dengan menjamin kebersihannya saja saya yakin masyarakat tidak akan berpindah kelain hati. Semua tergantung si penjual mau berubah atau masih sama saja.

Cerita Pedagang Bakso Positif Covid-19

Sempat heboh di media salah seorang pedagang bakso yang harusnya masih dalam tahap isolasi mandiri tetapi nekat berjualan bakso. Bagaimana ya, saya juga tau mungkin bapak itu sangat membutuhkan uang untuk hidup tetapi berjualan di tengah dirinya sendiri harus isolasi itu bukanlah tindakan yang bijak. Apalagi saat sang bapak harus dijemput paksa saat berjualan bakso.

Sudah berapa orang yang ia layani dan mungkin saja terbawa virus, karena diketahui penjual bakso itu positif Covid-19. Kejadian semacam ini justru menambah luka di hati konsumen. Mungkin saja saat bapak itu telah dinyatakan bebas covid-19, orang-orang masih tidak bisa lupa atas apa yang dilakukannya.

Dalam agama Islam juga diajarkan “Apabila kalian mendengar tentangnya (wabah penyakit) di sebuah tempat, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, dan bila kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar daripadanya sebagai bentuk lari daripadanya”. (HR.Bukhari dan Muslim)

Sudah jelas bahwa Allah memerintahkan kita menjauhi wabah dan jangan menularkan wabah juga. Sebagai umat muslim tidak elok rasanya terus memikirkan sendiri bahkan bersikap seolah tak punya Tuhan dan seenaknya. Kejadian itu benar-benar jadi pelajaran untuk kita lebih berhati-hati lagi.

Pentingnya Perlindungan Konsumen

Makanan atau jajanan pangan telah diatur dalam UU no 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Standar pangan pun telah diatur dalam pasal 86 ayat 1 dan 2 UU pangan yaitu setiap orang yang memproduksi dan memperdagangkan pangan wajib memenuhi standar keamanan dan mutu pangan yang ditetapkan Pemerintah.

Baca Juga  Ceruk Daging Sapi Halal

Ada larangan juga terkait, penjualan makanan yang mengandung bahan berbahaya seperti, (1) Bahan beracun yang mengganggu kesehatan manusia. (2) Mengandung cemaran yang telah keluar dari ambang batas yang telah ditetapkan. (3) Mengandung barang yang dilarang digunakan. (4) Mengandung bahan yang bau, kotor, busuk, tengik, terurai, dan mengandung bahan nabati yang berasal dari bangkai. (5) Diprosuksi dengan cara dilarang, dan kadaluarsa.

Aturan tersebut semestinya sudah disosialisasikan kepada para pedagang yang menjajakan pangan. Namun sayangnya di Indonesia hal ini masih belum terlaksana dengan baik. Pemerintah juga masih banyak kecolongan karena masih ada nyatanya penjual daging oplosan juga berbahaya diluaran sana.

Dengan adanya pandemi Covid-19 sejatinya sudah harus menyadarkan masyarakat pentingnya kebersihan. Bumi semakin menua dan alam semakin berubah. Jika asupan yang kita makan juga tidak baik lalu bagaimana kita akan bertahan di era pandemik seperti sekarang?

Tak Luput dari Peran Konsumen

Saya pun berdiskusi banyak dengan suami tentang masalah ini dengan suami. Lalu kami memutuskan untuk mengedukasi penjual-penjual langganan kami terhadap kebersihan produk. Diawali dari memberikan masker, memberi tau bahwa sekarang masker ini penting digunakan. Cuci tangan yang bersih. Dan menggunakan sarung tangan atau alat bantu lain ketika melayani pelanggan.

Saya sadar bahwa misi kebersihan ini tidak akan berhasil tanpa kerjasama semua pihak. Contohnya saja jika konsumen tetap mau makan sembarang dan tidak pilih-pilih atau tidak mengedukasi, penjual tidak akan merasa bahwa kebersihan tidak terlalu penting.

Lewat tulisan ini, saya mengajak semua pihak untuk bersama-sama menyadarkan orang di sekitar kita pentingnya menjaga kebersihan pangan yang kita konsumi. Dari hal kecil ini diharapkan akan berdampak besar pada kehidupan kita di masa depan kelak. 

*) Syifa Rosyiana : Jurnalis muda dan juga redaksi Rahma.id, IG : @rosyianasyifaa

Bagikan
Post a Comment