Tak Sulit Menemukan Makanan Halal di Eropa
Rahmania pergi ke Eropa ? Bingung mendapatkan makanan halal ? Catatan saya ini mungkin dapat dijadikan bahan informasi. Beberapa minggu yang lalu, si mas mengundang saya untuk makan siang istimewa. “Abi baru gajian, gak usah masak untuk makan siang, Abi akan traktir makan di restoran”, begitu si mas berkata di pagi hari sebelum kami berangkat ke tempat kerja.
Selama hampir tiga tahun ini kami bekerja di gedung yang sama. Si mas melakukan riset untuk posdoktoralnya, saya menjalani studi doktral saya. Ada yang unik dari universitas di mana saya belajar. Selain gedungnya menyatu dengan apartemen masyarakat dan pertokoan. Kami juga dapat menemukan kebutuhan sehari-hari dengan cukup mudah, hanya dengan berjalan kaki. Termasuk untuk mendapatkan restoran dengan hidangan yang cukup beragam.
Menyantap Makanan Halal di Restoran
Kali ini, si mas akhirnya memilih sebuah restoran yang tahun sebelumnya kami datangi untuk perayaan hari pernikahan kami. Hehehe, tak mungkin kami sering – sering makan di tempat restoran seperti ini. Sekali – sekali bolehlah, menyenangkan istri. Rumah makan ini cukup unik. Nama restorannya, Cambridge.
Ketika pertama kali kami makan di sini, saya pikir ini bukan restoran. Karena di Indonesia, Cambridge identik dengan nama universitas atau lembaga pelatihan bahasa. Terlebih, ornamen restoran yang kental dengan elemen kerajaan Inggris, beserta Ratu Elizabeth dan Big Ben yang terkenal itu.
Begitu anda masuk di dalamnya, Anda akan disuguhui suasana seperti di dalam perpustakaan lengkap dengan deretan bukunya yang disusun diatas rak-rak buku kayu kuno. Sekilas anda seperti tidak sedang memasuki sebuah restoran. Itu sebabnya, salah satu pembimbing tesis saya, senang sekali mojok untuk membaca atau mengerjakan pekerjaanya di sini. Kadang lebih senang mengajak saya diskusi di sini sambil menyeruput kopi atau coklat panas.
Daripada bingung menentukan menu makanan, biasanya kami langsung mencari hidangan ikan. Karena itu adalah hidangan yang paling aman. Kami tidak perlu mecari tahu hidangan halal atau tidak. Namun kali ini, saya sampaikan pada si mas kalau saya ingin mencoba menu lain. Setelah kami menentukan tempat untuk bersantap, tak lama kemudian seorang pelayanan pria datang mendekati kami. Hmm, pria yang tampan saya bergumam dalam hati.
“Anda sudah menentukan pilihan ?” dia bertanya.
Saya hanya tersenyum. Si mas lalu bertanya, « Istri saya ingin hidangan daging, mohon maaf saya ingin tahu, apakah daging di sini halal?”.
Pelayan tersebut tidak menjawab malah balik bertanya, “Anda berdua dari Indonesia ?”.
Kami berdua mengangguk dan tersenyum yang lalu di ikuti penjelasannya yang ramah, “Ah, saya sudah menduga ! Saya dari Palestina. Anda tahu, daging yang dihidangkan di sini halal. Anda jangan ragu. Anda lihat para koki yang bekerja di dapur ?, dia melanjutkan sambil menunjuk ke arah rekan kerja mereka yang tampak dari sebuah jendela di mana makanan siap santap didistribusikan. Mereka pada umumnya berasal dari Palestina dan Libanon. Jadi, kami tidak mungkin menghidangkan hidangan Babi di restoran kami.
Saya menjadi sangat bersemangat. Artinya, kami tidak sulit lagi menemukan tempat restoran dengan hidangan yang sesuai keyakinan kami. Kami lalu meminta waktu untuk memilih Kembali. “Bun, tadi lihat pelayannya?”, si mas bertanya. “Tampan?”, saya menggoda. Si mas membenarkan ucapan saya sambil melanjutkan, “Kita hampir sulit membedakan antara pendatang dari Palestina dengan masyarakat asli Belgia. Warna kulit dan karakter muka mereka hampir mirip, warna rambutnya pun juga. Apalagi kalau Bunda lihat pendatang dari Syria. Mereka jika sudah berdandan tampak sangat berbeda dengan pendatang dari Maroko atau Ajazair bahkan Mesir yang cenderung lebih gelap warna kulitnya. Tak hanya prianya, perempuannya pun sama, lebih cantik!”.
Saya membenarkan sambil bercanda, “Bisa dibayangkan, betapa kesalnya masyarakat lokal menyaksikan kecantikan yang hanya diwakili oleh raut wajah saja !”. Si mas tertawa. Saya jadi teringat sebuah opini di koran le Soir yang menjelaskan tentang berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat pendatang ketika harus berintegrasi dengan masyarakat lokal.
Salah satu nara sumber menjelaskan bahwa perbedaan antara pendatang dari timur tengah dengan pendatang dari wilayah Eropa lainnya di Belgia adalah masyarakat muslim sangat eksklusif dalam hal pernikahan. Mereka sulit sekali untuk menikah dengan masyarakat lokal. Berbeda dengan pendatang dari wilah Eropa yang lainnya. “Ya bisa dilihat kecantikannya tapi tidak bisa dimiliki”, kira – kira demikian. Ya, seperti kita ketahui, biasanya persoalan agama menjadi isu yang sangat penting.
Pendatang Muslim di Eropa Memegang Keyakinan tentang Makanan Halal
Dalam hal pernikahan dan makanan tampaknya muslim pendatang masih memegang keyakinan mereka. Artinya, meskipun sebagian dari mereka tidak melakukan ibadah wajib seperti Ramadan dan shalat fardhu, dalam dua hal tersebut mereka sangat berhati-hati. Saya jadi ingat penjelasan seorang kawan mualaf yang sama sama mengikuti satu mata kuliah yang sama tahun yang lalu. Sebut saja Marwan seorang Perancis yang kemudian menikahi seorang perempuan keturunan Maroko.
Marwan fasih berbahasa Arab. Untuk ini, dia pernah tinggal di Mesir untuk memperlancar Bahasa Arab dan ilmu agamanya. Pekerjaannya sehari hari kini adalah seorang penyuluh agama Islam di sebuah penjara. Para tahanan yang Bergama Islam tersebut harus masuk penjara dengan berbagai kasus kriminal. Mulai dari tindakan kekerasan rumah tangga, Tindakan teror atas nama agama, hingga juali beli obat terlarang. Di dalam laporan akhir kerjanya, Marwan meneliti tentang pelaku juali beli obat terlarang di kalangan masyarakat pendatang muslim. Marwan tertarik untuk mengetahui bagaimana mereka menempatkan konsep agama di dalam kehidupan sehari hari. Salah satunya tentang makan halal.
“Ima, mereka itu mengatakan kepada saya bahwa untuk kebutuhan makanan mereka tetap memberikan nafkah yang halal bagi keluarganya. Mereka berdalih bahwa makanan akan menjadi bagian dari tubuh selamanya. Berbeda dengan kebutuhan hidup yang lainnya, seperti pakaian. Uang hasil jual beli obat terlarang yang dibelikan pakaian akan digunakan untuk sementara waktu saja. Jadi bagi mereka itu tidak bermasalah”.
Sambil menyantap hidangan, si mas melanjutkan obrolan,
“Coba perhatikan Bun, pelayan di restoran Palestina dan restoran Libanon mereka sering kali hilir mudik di restoran ini”. Ya, biasanya menu andalan kami adalah ‘durum’ sejenis sandwich yang dihidangkan ala Palestina, Libanon, atau Turki. Ketiganya memiliki cita rasa yang berbeda. jIka kami memilih hidangan tersebut, itu karena kami tidak memiliki pilihan makanan yang lain jika saya tidak sempat mempersiapkan makan siang dari rumah.
Dan ternyata, restoran Libanon, Palestina dan Cambridge ini pemiliknya adalah sama. Artinya, di satu wilayah itu saja mereka memiliki tiga restoran dengan menu yang berbeda dan sajian menu yang berbeda. Di restoran Cambridge ini memang tanda sertifikat halal memang tidak jelas di tempelkan di muka restoran. Tapi saya pernah mendapati penjual daging halal langganan saya hilir mudik di sekitar restoran. Dan, dia menjelaskan menjadi pemasok daging di beberapa restoran yang ada di wilayah kampus saya.
Mengapa Isu Makanan Halal Menjadi Sorotan Pemerintah Belgia?
“Sekarang Abi paham, mengapa isu halal menjadi sorotan pemerintah Belgia. Coba bayangkan, jika di satu wilayah saja ada tiga restoran dengan pemilik yang sama, bagaimana dengan tempat yang lain? Abi yakin mereka punya cabang di tempat yang lainnya dengan system yang sama. Belum lagi konsumen daging halal berdasarkan riset Abi tidak hanya masyarakat Muslim. Masyarakat non Muslim menjadi pelanggan setia di beberapa toko halal. Alasannya karena kualitas dan penyajian daging yang khas yang memang tidak ditemui di toko daging lokal,” begitu si mas menjelaskan.
Benar juga, begitu saya berkata di dalam hati. Di sini saja saya bisa hitung, berapa restoran yang dikelola pendatang Muslim. Ada lebih dari lima. Mulai dari tiga restoran ini, Otacos (makanan capat saji halal), warung makan khas Maroko tak jauh dari terminal dan tak jauh dari kamus, toko durum Turki, bahkan satu warung sandwich yang selalu diserbu mahasiswa hingga mengular antriannya menyajikan menu sandwich halal (ada tulisannya di ujung menu). Itu yang saya tahu. Meskipun mereka tidak menempelkan tanda halal, jika kita bertanya kepada mereka, mereka langsung akan menjelaskan kehalalan daging yang mereka sajikan. Ya, itu tadi. Makanan halal tampaknya masih dianggap hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan mereka. Dan memang demikian kenyataannya.
Mengapa Mereka Enggan Menempelkan Cap halal?
Dari beberapa pengalaman yang pernah saya temui, di Otacos misalnya, mereka sebenarnya sudah memiliki sertifikasi halal yang sah. Sertifikat itu hanya akan diperlihatkan jika pembeli meminta legalitas halal dari toko tersebut. Alasan tidak menempelkan kata halal karena menurut mereka, tak semua orang suka dengan tanda halal di depan toko mereka. Karena Sebagian besar konsumen mereka juga adalah masyarakat asli Belgia atau pendatang non Muslim. Dapat dibayangkan keuntungan berlipat lipat. Mereka pastinya sudah memiliki pelanggan tetap, yaitu masyarakat muslim dan juga non-Muslim yang kebetulan cocok dengan hidangan yang disajikan. Misalnya di restoran ini saja, kami mendapati Sebagian besar pengunjung adalah masyarakat asli Belgia. Ketika ditanya oleh pelayanan mengenai makanan yang telah disajikan mereka menjawab,
“Seperti biasa, selalu enak dan memuaskan”.
Artinya, mereka adalah pelanggan setia di restoran ini. Hal ini tampak tidak hanya berdasarkan jawaban yang saya kuping. Tapi juga cara pelayanan menyajikan tahapan demi tahapan menu yang di sajikan. Tampak sudah hafal hingga menu penutup dan jenis kopi yang biasa disediakan.
Hal ini mengingatkan saya pada debat tentang menu Halal di sebuah restoran cepat saji Quick di Perancis. Sejak dipersoalkan di sebuah kota bernama Roubaix di Perancis di tahun 2010, polemik tentang kehalalan restoran ini terus menjadi perdebatan dan berkembang dengan berbagai versi cerita. Mulai ada yang memitoskan kehalalan tersebut sampai membenarkan kemungkinan restoran cepat saji tersebut menjadi 100% halal. Bahkan isu ini masih hangat hingga sekarang!
Hal yang menarik sebenarnya jika kita telusuri lebih mendalam, latar belakang dari penyediaan menu halal tersebut adalah di samping karena pekerja Quick juga di antaranya imigran dari negara mayoritas muslim juga karena semakin meningkatnya permintaan sajian menu halal di restoran. Pemilik restoran hanya ingin membuat ‘in win solution yang akan membuat bisnis berjalan lebih baik. Pertama, dengan menyediakan daging halal, para pekerja mereka menjadi tenang dalam bekerja kedua karena jika harus menyediakan daging olahan halal dan non halal secara berbeda maka biaya produksi menjadi bertambah besar. Karena mereka harus menyediakan daging dari perusahaan yang berbeda.
Serangan Atas Dominasi di Negara Tujuan Imigrasi
Jadi, sebenarnya bukan tentang ‘serangan islamisasi’ tapi melaikan ‘serangan atas dominasi’. Hal yang sama terjadi sebenarnya di negara-negara tujuan imigrasi tak terkecuali Indonesia. Ketakutan yang sama muncul ketika masyarakat lokal tak mampu bersaing dengan pendatang yang lebih rajin dan giat bekerja. Masyarakat lokal yang terbiasa dengan berbagai jaminan kehidupan dari pemerintah menjadi gagap dan merasa risih dengan kehadiran budaya baru, tuhan baru, kebiasaan baru, Bahasa baru, meminjam penjelasan Huntington di bukunya Clash of Civilisation.
Tapi sayangnya, cara pandang seperti ini hanya menumbuhkan kebencian bukan refleksi untuk memperbaiki diri dan siap bertarung dengan objektif bahkan di negara sendiri. Orang – orang yang terpinggirkan ini kemudian menjadi murka dan semakin anti dengan orang asing. Dengan hal hal yang berbeda di sekelilingnya. Kruglanski dalam buku terbarunya ‘the radical’s journey’ menyebutnya sebagai ‘the globalisation losers’.
“Ini baru tentang pasar halal,” begitu si mas melanjutkan. “Bunda tahu toko baru yang akan dibuka di sebelah restoran maroko di depan restoran Vietnam ? Itu akan dibuka restoran baru, yang juga disewa orang dari pendatang Arab juga!”.
Ah sudahlah, kita nikmati saja hidangan halal di depan mata saat ini. Setidaknya saya tidak perlu sulit lagi mendapatkan restoran sedikit mewah jika kedatangan tamu dari Indonesia yang ingin bersantap di sini. Karena biasanya kami hanya makan di warung durum yang mungkin hidangan ‘ala’ mahasiswa yang terbatas dananya seperti kami.
Jadi, jangan khawatir dengan menu halal di mananpun Anda berkunjung di Eropa. Lihat saja pelayanan restorannya, bertanya pada mereka. Jika pun ragu. Anda tinggal memesan hidangan laut saja.
Bagaimana pendapat Anda atas penjelasan saya di atas? Yang pasti, hidangan kali ini lezat sekali! Alhamdulillah.

