Kreatifitas Pendidikan di Masa Pandemi: Penunjang Keterampilan Anak
Jika di masa lalu orang yakin bahwa di dunia yang konstan –bersifat terus menerus adalah sebuah perubahan. Baik di era globalisasi dan informasi, seperti di masa pandemi saat ini. Maka sebenarnya perubahan itu sendiri telah mengalami perubahan. Artinya perubahan di masa kini dan masa yang akan datang tidak hanya konstan, namun perubahan ini akan menjadi pesat, serentak dan kuat.
Seiring berjalannya waktu adanya perubahan akan merubah paradigma pikir tentang lingkungan dan kemampuan yang dimiliki, baik personal maupun komunitas. Maka di sinilah arti peran adanya kompetensi. Selanjutnya seiring perubahan ini, sistem yang menyertainya pun mengalami proses perubahan. Yang akhirnya managerial skiil pun harus menyesuaikan. Apa itu manajerail skill yaitu suatu kemampuan individu dalam mengoptimalkan kemampuan atau keterampilan dengan multi fungsi. Atau, secara umum dibahasakan sebagai kemampuan dalam mengoptimalkan keterampilan yang dimiliki.
Di masa pandemi saat ini, adanya Covid-19 tidak hanya berdampak pada satu bidang saja namun sudah membuat perubahan dalam berbagai aspek kehidupan. Termasuk dalam bidang pendidikan. Pembelajaran mengalami pergeseran dengan pembiasaan baru. Sebagaimana data dari sumber berita 2020 sebagai berikut:
Pembiasaan Pembelajaran Baru

Dari sumber data ini menyebutkan bahwa harapan akan pembelajaran dengan pembiasaan baru ini sangatlah beragam. Artinya melihat kondisi yang ada sekarang, orang tua akan melihat kondisi yang menyertai anak untuk memilih dan memberikan yang terbaik. Sehingga upaya –upaya evaluasi/ pembenahan dalam pembiasaan baru ini di harapkan optimal dalam realisasinya.
Dari fenomena ini akan terbaca pula bahwa ada hal yang menjadi penguat anak dalam mengoptimalkan kemampuannya. Yakni melalui pemantapan ketrampilan yang nantinya akan bermuara pada kompetensi yang dimiliki anak. Ketrampilan yang dimaksud dipacu oleh kreativitas yang ditumbuh kembangkan atau skill education. Artinya, keterampilan yang didukung kreativitas yang dimiliki akan mengubah paradigma dari sekedar mengusung ilmu pengetahuan menuju POA (planning of action). Yakni sebuah karya nyata yang dimulai dengan tahapan yang terarah.
Ragam keilmuan hadir seiring hadirnya tokoh hebat yang menginspirasi sebut saja orang sukses yang membuktikan dengan temuannya seperti Thomas Alva Edison, Albert Einstein sampai sosok inspirator hebat dari Indonesia seperti Bapak B.J Habibie. Begitupun hadirnya tokoh muslim yang menguatkan sejarah peradaban Islam dengan ragam ilmunya seperti Ibnu Khaldun dan lainnya. Semua mampu menerjemahkan ilmu pengetahuan kemudian diusung dalam rintisan dan penemuan yang menunjang ketrampilan dengan hadirnya karya besar para tokoh tersebut dan pastinya melekat bagi anak.
Melihat konteks saat ini sebagaimana sumber dari data berikut menyebutkan bahwa: Pembelajaran jarak jauh yang dilakukan melalui online (belajar dari rumah) mendapat respon yang beragam dari orang tua. Dari mulai pembahasan tentang kualtas pembelajaran sampai tingkat kejenuhan anak/ orang tua dalam melaluinya. Nah, apakah semua akan berjalan dengan tertib dan lancar apabila tidak dibarengi dengan kesiapan, meskipun mau tidak mau siap tidak siap semua proses tetap berjalan dengan pembiasaan baru?
Penguatan dan Dukungan Pembelajaran dengan Persiapan

Kondisi ini akan mempertanyakan kesiapan pembelajaran akan seperti apa, yang di daerah atau pedusunan pasti akan mengalami situasi yang berbeda dengan yang dipusat/perkotaan. Lantas, bagaimana menyikapinya?

Menjawab kondisi ini dapat dimulai dengan langkah awal yakni penguatan dan dukungan kesiapan perubahan pembiasaan baru dari semua kalangan. Bukan hanya dari anak/siswa, orang tua saja. Namun lingkungan sekitar dalam hal ini pendidik dan pemerintah melalui kelembagaan pendidikan dengan kebijakan aturan yang mampu menguatkan penerapan POA (planning of action) dengan kreativitas sebagai pembelajaran berkelanjutan.
Pertama, menerapkan learning by doing. Aktivitas ini akan memudahkan anak dalam merekam hal-hal pembelajaran secara langsung. Kedua, melibatkan anak dengan melakukan pembiasaan yang berulang. Dalam hal mengikuti uji coba/praktek meski di rumah, kompetisi/lomba meski dengan keterbatasan kondisi secara online, mengaktifkan budaya baca-tulis melalui Karya Tulis Anak/ KTA, dan mengoptimalkan kegiatan penunjang/tambahan lain. Ketiga, mengagendakan karya anak menjadi database yang akan menguatkan anak dalam karya –karya berkelanjutan dan mampu menjadi magnet kebaikan/inspirasi bagi yang lain.
Sebagai starting poit untuk dikaji lebih lanjut, skill education atau pendidikan kreatif merupakan sarana pengembangan komprehensif akan potensi yang dimiliki oleh anak seperti melatih kecerdasan lingusitik, logika matematika, visual spasial, musikal kinestetik, naturalis, interpersonal. Lebih dahsyat lagi, kecerdasan spiritual yang menjadi dasar dari pengembangan keterampilan lainnya. Menjadi harapan bersama, ke depan akan bertumbuh generasi kuat berkualitas (QS An Nisa:9) yang memiliki manajerial skill yang kreatif dan edukatif. Semoga…

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Mahasiswa Program Doktoral Universitas Airlangga Surabaya
