f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Nikmatnya Membandingkan Anak

“Berapa nilai rata-rata rapormu, sayang ?” dengan nada lembut seorang ibu muda bertanya pada anaknya. “90,” sambil menebak-nebak reaksi Ibunya. “Alhamdulillah. Temanmu yang sama-sama les itu dapat berapa?” naaaaaah kan, mulai nih membandingkan anak dengan temannya.

Percakapan seperti ini sangat sering terdengar di masa sebelum pandemi, dan kemudian sekedar berpindah ke layar hp selama pandemi. Anak tidak menyadari, bahwa dirinya sudah dibandingkan dengan anak lain, jauuuh sebelum ia mengenal nilai rapor. Sekitar 10 tahun sebelumnya, beginilah percakapan ibunya dengan teman-temannya, ketika masih berstatus janin.

“Udah naik berapa kilo mbak? Kayak belum hamil aja?” padahal dalam hati resah, baru hamil dua bulan badan sudah mengembang sempurna macam sourdough yang didiamkan 12 jam.

Nanti ketika ternyata bayinya lahir lebih kecil daripada bayi mbaknya, lain lagi komentarnya.

“BB nya berapa jeng, kok besar banget ya? Anakku cuma 3 kg nih.”

Jadi maunya gimana Buuu? Serba salah deh ah.

Siapa yang Suka Membandingkan Anak?

Orang bilang, membandingkan anak adalah tindakan orang tua yang tidak belajar parenting. Orang tua yang tidak bersyukur memiliki anak yang dilahirkan sempurna. Termasuk perbuatan yang tidak menyenangkan. Bisa kena pasal harusnya.

Coba ketik membandingkan anak di Google , maka akan muncul puluhan penjelasan pakar maupun “pakar” mengapa orangtua dilarang membandingkan anak. Lengkap dan gamblang. Ada penjelasan yang komprehensif, ada yang sekedar terjemahan dari artikel parenting berbahasa Inggris, ada juga yang comot sana sini. Intinya relatif sama, membandingkan anak dengan anak lain itu tidak baik, yes?

Lalu mengapa orangtua masih saja membandingkan anak dengan kakaknya, adiknya, teman sekelasnya, sepupunya, sepupu dari ayah, sepupu dari ibu, tetangga kiri, kanan, depan, belakang? Mengapa sulit sekali bagi orangtua untuk berhenti membandingkan? Mengapa orang tua seperti ketagihan membandingkan dan sulit sekali berhenti dari kebiasaan ini?

Baca Juga  Part 1: Benarkah Surat an-Nisa’ Ayat 34 Melegitimasi Ketidakadilan Gender?

Naaah, bukankah orang ketagihan itu biasanya karena merasakan nikmat? Coba cek sama orang yang sulit berhenti merokok, kenikmatan kan yang membuat mereka ketagihan? Soal pengaruhnya pada kesehatan, mereka sudah tauuuu.

Sadarkah kita, bahwa pembicaraan semacam ini sudah sejak jaman dahulu kala menghiasi hubungan orangtua dan anak. Dengan mengatakan, “Lihat tuh temenmu nilainya A semua, kalau dia bisa, kamu pasti bisa, cuma kurang usaha aja,”. Orangtua seakan memangkas ringkas tugasnya. Tugas menjadi contoh, mengarahkan, membimbing, menemani, seakan selesai tuntas dengan satu kalimat saja.

Maka pantas dicurigai, bahwa “kenikmatan” saat membandingkan anak inilah biang keroknya. Orangtua tidak perlu repot, tidak perlu memahami dan menggali potensi, kelebihan dan kekurangan anak, cukup dengan membandingkan dengan orang lain. Hal ini bukan dilakukan oleh orang yang tidak kenal ilmu parenting. Jangan tanya berapa webinar parenting yang diikuti, lengkap dengan sertifikat dan goody bagnya. Puluhan. Sebagian  juga rajin membaca artikel parenting, bahkan ikut WAG parenting idaman bangsa.

Mengapa Sulit untuk Berhenti Membandingkan?

Pada saat orangtua membandingkan anak dengan orang lain, bisa jadi ini merupakan manifestasi kecemasan dalam dirinya, yang belum terselesaikan dengan baik. Mereka menyimpan kekhawatiran berlebihan apakah anaknya nanti akan bisa mencapai masa depan yang gemilang? Atau setidaknya berhasil dalam hidup dan tidak bergantung pada siapapun? Apakah kelak dia mendapat jodoh yang baik? Apansetelah lulus kuliah dia bisa bekerja dan mendapat penghasilan yang mencukupi? Apa anaknya bisa diterima dengan baik oleh lingkungannya?

Jika orangtua mampu mengolah kecemasannya, ia akan mendampingi dan menyiapkan anak untuk belajar lebih baik, mengajaknya bergaul dengan banyak orang agar anak lebih siap menghadapi tantangan di sekolah, dalam pergaulan dan masa depannya.

Baca Juga  Ketika Anak Dianggap Sebagai Investasi

Tetapi, tidak sedikit orangtua yang gagal mengatasi anxiety over uncertainty. Kecemasan akan ketidak pastian di masa yang akan datang. Terlebih di masa pandemi ini, masa depan seperti berkabut tebal, sulit memprediksi jalan mana yang tepat dan mudah untuk dilalui.

Tanpa bantuan untuk mengenali kecemasannya, orang tua akan terus merasa nyaman dengan perilakunya membandingkan anak dengan orang lain, bahkan sampai anaknya dewasa. Sementara tanpa disadari, anak akan mengembangkan negative thinking, self doubt, rendahnya penerimaan diri, sekaligus mudah cemburu pada keberhasilan orang lain.

Dampaknya Terasa hingga Dewasa

Jika kita lihat ada rekan kerja yang sulit sekali menerima kenyataan bahwa si anu dipromosikan untuk jabatan yang diincarnya, jangan buru-buru menghakimi. Bisa jadi seumur hidupnya selalu dibanding-bandingkan dengan orang lain oleh orang tuanya, lalu merasa diri selalu kalah dan dikalahkan orang lain. Lelah hayati, Bang!

Dalam keseharian, ketika melihat keberhasilan orang lain, alih-alih mengevaluasi usahanya atau dengan legwo menyadari kemampuannya bukan di bidang tersebut. Anak akan berpikir bahwa dirinya memang sudah ditakdirkan gagal, atau karena temannya memiliki fasilitas yang lebih baik, makanya bisa lebih bagus nilainya. Ia ragu akan kemampuannya sendiri. Padahal kalau saja perhatian difokuskan pada potensi yang bisa dikembangkan, bukan pada beratnya persaingan, ia akan memiliki peluang yang lebih besar untuk berhasil.

Oleh karena itu, orang tua dengan taraf kecemasan yang sudah mengganggu relasinya dengan anak, memang perlu dibantu mengenali dirinya sendiri. Terkadang tidak mudah  melihat bahwa masalah dan solusinya ada pada diri kita. Jika kita menemukan masalah seperti ini, tidak perlu kita sendiri yang menyelesaikan, belum tentu kita mampu memahami situasi kawan kita secara komprehensif. Jasa konseling, coach dan psikolog tentu bisa menjadi pilihan untuk mereka yang ingin memperbaiki diri. Demi masa depan generasi muda gemilang yang lebih berbahagia.

Bagikan
Post a Comment