f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
nakal dulu baru sukses

Reorientasi Konsep Nakal Dulu Baru Sukses

Beberapa tahun yang lewat, gagasan “Nakal Dulu Baru Sukses” sempat tercetus kembali sebagai sebuah motto kolektif muda-mudi kinyis-kinyis yang ingin menghabiskan masa mudanya hanya dengan bersenang-senang saja. Kalau saya tidak salah ingat, Nakal Dulu Baru Sukses (NDBS) kembali bergema setelah Younglex dan Awkarin merilis sebuah lagu berjudul “Bad” di Youtube. Younglex dan Awkarin memang bukan pencetus dari NDBS itu. Tetapi, merekalah salah dua orang yang berhasil menghidupkan dan memopulerkan kembali NDBS—bukan YNTKTS—dalam jagat muda-mudi lewat lagunya yang… (uhuk) bagus itu.

Siapa yang sangka, influence dari NDBS ternyata luar biasa hebat. Bahkan sampai-sampai, oleh beberapa remaja, NDBS itu telah menjadi way of live dan termaktub dalam kehidupan sehari-hari mereka—tidak terkecuali dalam kehidupannya di sekolah.

Untuk menyebut contoh, NDBS sering sekali digunakan oleh kawan saya yang tidak pernah serius belajar dan berkelakuan ngaudubillah itu untuk membenarkan perilaku yang tidak tepat. Seolah ada jaminan bahwa sebagian dari perilaku nakal bisa menjamin kesuksesan. Menariknya, gelagat dan respon mereka selalu sama tiap kali diingatkan oleh guru: “Gakpapa, gua mah nakal dulu baru sukses!”. Jawaban ini tentu membuat kita bertanya-tanya. Memangnya apa itu Nakal Dulu Baru Sukses (NDBS)?

Remaja dan Nakal Dulu Baru Sukses

Nakal Dulu Baru Sukses sebenarnya adalah sebuah konsepsi narasi yang menarik untuk ditelaah. NDBS adalah sebuah ide mengenai transformasi diri dan sebuah spirit pembuktian, bahwa, orang yang dulunya nakal akan tetap bisa sukses. Ada proses perubahan dari yang tadinya minus menjadi plus. Sekilas memang NDBS terdengar sangat optimistis, tetapi kendatipun begitu, kian hari makna dari NDBS itu semakin bergeser. Menurut hemat saya, sekurang-kurangnya hari ini narasi NDBS bisa kita maknai dari dua sisi yang berlainan. Ia bisa bermakna positif, tetapi juga bisa bermakna negatif.

Pertama, NDBS dalam makna positif adalah sebuah ide yang bisa dipakai sebagai cara muda-mudi kinyis-kinyis (Baca: Anak remaja) itu untuk menikmati sekaligus mengeksplor banyak hal. Ya. Memang betul. Jean Piaget dalam Psikologi Perkembangan mengatakan bahwa masa remaja memang adalah masa-masa di mana anak mengalami fase eksploratif.

Baca Juga  Alasan Mendidik Anak Melalui Kisah Teladan Nabi

Di fase ini, anak memang sedang gemar-gemarnya mencari tau banyak hal, memperoleh pengalaman baru, dan mengobrak-abrik pengetahuan yang ia telah peroleh sebelumnya. Spirit NDBS ini oleh mereka, dijadikan sebagai bahan untuk tidak khawatir dalam melangkah dan berani mengambil keputusan-keputusan tidak biasa. Singkatnya, oleh mereka, menjadi nakal adalah sebuah konsekuensi logis dari keputusan yang diambil dalam rangka menuju sukses.

*

Kedua, NDBS dalam makna negatif adalah sebuah ide yang bisa dipakai sebagai cara anak untuk menormalisasi kemalasan, perilaku tidak menyenangkan, dan hal-hal yang hedonis atas nama “masa depan”. Ini jelas berlainan dengan definisi NDBS yang pertama. Dalam konsep yang satu ini, NDBS lebih diartikan sebagai alasan anak untuk bertindak careless, kontraproduktif, dan justru malah berorientasi pada kemunduran. Masa depan dalam konsep NDBS yang negatif ini adalah sebuah label yang dikorbankan agar anak bisa merasa baik-baik saja. Oleh karenanya, tidak jarang, NDBS ini malah justru membuat anak terjerat hal-hal yang tidak diinginkan.

Memiliki spirit transformatif selayaknya konsepsi awal NDBS adalah hal yang bagus. NDBS mungkin mirip dengan konsepsi hijrah yang banyak beredar. Niat awalnya baik. Konsepsi dasarnya bagus. Hanya saja, beberapa orang gagal mengaplikasikannya secara komprehensif sehingga terjadi pergeseran makna.

Di sekolah, NDBS perlu untuk dibentengi bersama sehingga tidak menjadi “penyakit” akibat salah kaprah itu. Guru dalam hal ini perlu menjadi teman baik siswa agar tau kebiasaan-kebiasaan yang berdampak terhadap pergaulan mereka. Guru harus bisa menjadi teman, sekaligus mitra anak untuk berkembang.

Menjadi Mitra Anak

Anak nakal sering sekali mendapatkan label tidak menyenangkan di sekolah. Anehnya, label itu seringkali datang dari gurunya sendiri. Padahal sebagai pendamping peserta didik, guru ikut punya andil dalam membentuk iklim belajar yang nyaman untuk anak, bukan sebaliknya. Artinya, selain memiliki keahlian pedagogis dan retoris di depan papan tulis, guru juga perlu memiliki pendekatan untuk menjadi teman dan mitra anak di luar aktivitas mengajar. Guru harus dijauhkan dari citra ngomel, nyubit, dan nyabet. Tetapi, dekat dengan citra ngobrol, ngajak, dan nemenin. Oleh karenanya, dalam hal ini, guru penting untuk bisa merubah orientasi pendidikan dari yang tadinya hanya berpusat pada akademik, jadi berorientasi pada anak.

Baca Juga  Mereka Anak Hebat

Menjadikan anak sebagai orientasi utama pendidikan adalah salah satu gagasan penting yang perlu dibangun di sekolah. Ada beberapa alasan mengapa hal tersebut amat vital. Pertama, berorientasi besar hanya kepada akademik akan menciptakan anak yang seperti robot. Mereka hanya tau belajar dan belajar tanpa mempertimbangkan aspek sosial.

Kedua, berorientasi besar hanya pada akademik akan menciptakan iklim belajar yang timpang sebab guru akan cenderung memberi atensinya kepada mereka yang pintar saja. Bukan sebaliknya. Kasus ini sering terjadi. Saya kira tidak sedikit guru-guru di negeri ini yang justru malah jauh dari anak nakal dan anak bermasalah, padahal tujuan mendidik dan mencerdaskan ini harus merata.

Salah satu kendala besar dalam mendidik anak-anak nakal dan bermasalah ini biasanya terletak pada pendekatan. Seringkali mereka hanya diberi pendekatan pembiasaan-behavioris yang sangat mengandalkan stimulus-respons. Mendidik mereka, kadang hanya dimaknai sebagai kegiatan menghukum atau memberikan beban kognitif yang tidak esensial untuk perubahan perilakunya. Ketimbang menjadi teman dan mintra mereka, guru kadang-kadang malah jadi oposisinya. Dalam hal ini oleh karenanya, saya kira kita perlu untuk mengembalikan spirit positif NDBS. Memberikan treatment positif terhadap masa depan anak dan semangat menggapai kesuksesan.

Mengembalikan Spirit NDBS Positif

Nakal Dulu Baru Sukses (NDBS) menurut hemat saya akan bisa menjadi alternatif menarik untuk diterapkan kepada anak-anak nakal dan bermasalah. Memang betul bahwa NDBS dengan makna yang positif belum memiliki kerangka ilmiah. Tidak ada jaminan bahwa ketika sekarang anak nakal, maka masa depannya pasti sukses. Tidak ada jaminan pula bahwa ketika sekarang anak nakal, maka di masa depan cita-citanya akan tercapai. Tetapi kendatipun demikian, optimisme untuk sukses itu harus tetap dibangun agar anak tidak kehilangan harapan. Oleh karena itu, menurut hemat saya, dalam hal ini penting untuk kita menanamkan pada anak beberapa hal berikut.

Baca Juga  Perintah Al-Qur’an yang Dilupakan Warganet: Bertutur Santun

Pertama, sukses itu hak siapa saja. Tidak ada patokan bahwa orang yang sukses adalah melulu mereka yang hidupnya lurus. Jadi, it is okay kalau anak sering dicap sebagai anak nakal. Justru malah karena hal tersebut, anak jadi punya peluang untuk bisa menangkis omongan orang, bahwa anak yang sering dicap nakal juga bisa sukses.

Kedua, sukses itu perlu tahapan. Oleh karenanya, biarkan anak untuk eksplorasi banyak hal, tetapi jangan lupa ingatkan bahwa masa depan tidak akan pernah dimenangkan oleh mereka yang malas—sebab nakal tidak sama dengan malas. Ingatkan anak untuk jangan takut dalam mengambil hal-hal ber-resiko. Jadikan resiko sebagai tantangan untuk pelan-pelan menata masa depan.

Ketiga, untuk bisa sukses, orang perlu untuk berdamai dengan banyak hal—termasuk masa lalunya. Jangan biarkan anak overthinking terhadap label anak nakal yang disematkan kepadanya. Biarkan masa lalu jadi masa lalu, berikan stimulus positif bahwa masa depan mereka masih cerah dan sangat bisa untuk diubah.

***

Ketika membaca tulisan singkat ini, mungkin anda akan bertanya-tanya: Apakah saya orang yang sukses sehingga bisa-bisanya membuat tulisan seperti ini. Anda mungkin juga bertanya: Apakah saya sudah jadi guru dan pendamping yang baik sehingga kok bisa-bisanya sangat enteng untuk berargumen sebagaimana anda baca di atas. Jawabannya tentu saja: Belum.

Tulisan ini saya buat sebagai upaya untuk merefleksikan sekaligus mereorientasi NDBS ke dalam konotasinya yang positif. Sebagai calon guru dan calon pendidik saya mengerti betul bahwa ini adalah tugas yang berat. Oleh karenanya, perlu usaha yang panjang dan tidak main-main. Mari kita jadikan pendidikan sebagai alat yang ramah untuk mencapai kesuksesan anak. Mari ciptakan pendidikan yang betulan mampu menjadikan anak yang dulunya nakal, menjadi sukses di masa depan. Tabik!

Bagikan
Post a Comment