f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
macet

Nilai Positif Kemacetan dan Terkonfirmasinya Level Keberadaban Kita

Dalam satu tahun Jakarta tidak pernah sepi, kecuali di hari lebaran dan pada waktu tengah malam. Itu pun terjadi hanya di beberapa tempat saja. Selain itu, ya tetap seperti biasa, ramai.

Beda hal ketika diberlakukannya social distancing, PSBB, WFH dan sebangsanya untuk semua orang Jakarta untuk pertama kalinya. Jakarta seperti kota mati. Jalanan sepi, hanya satu-dua kendaraan saja yang terlihat melintas—Ya, suatu keadaan sepi yang terpaksa.

Anda mungkin mendengar, bagaimana masyarakat berteriak dan menggerutu: karena sumber penghidupan mereka terbatasi oleh aturan baru ini. Pun para gelandangan dan anak-anak jalanan semakin berhamburan di sudut-sudut dan simpang-simpang jalanan Jakarta.

Raut wajah mereka sendu mengisyaratkan kepahitan hidup. Yang biasanya mereka bisa mengemis dan mengamen di lampu merah, ketika aturan itu berlaku segalanya menjadi ambyar. Maka duduklah mereka di trotoar jalan di beberapa tempat. Menanti bantuan datang secara ajaib.

***

Tiba-tiba saya dan kawan-kawan seakan merindukan kemacetan. Kami bersedih menengok sepanjang stasiun Gondang, dia sepi-parah. Menjelang pukul 21.00 putaran Tugu Tani bagai jalanan seram di film-film zombie.

Pada saat itu, saya menyadari bahwa kemacetan adalah berkah bagi sebagian orang, atau mungkin bagi banyak orang. Meskipun kadang kita tidak menyadarinya dan lebih sering mengutukinya.

Tak pelak, bahwa macet tidak selalu tentang ketidakbaikan. Dengan adanya macet, setidaknya ada dua hal yang terkonfirmasi. Pertama, kemacetan mengindikasikan bahwa ada aktivitas masif yang berdampak ke perputaran roda ekonomi. Kedua, kemacetan mengkonfimasi level keberadaban kita, seberapa jauh kita tetap mampu menghormati orang lain meski dalam keadaan terdesak.

Kemacetan mengindikasikan bahwa sebuah kota itu hidup, ada aktivitas di luar rumah yang terjadi. Semakin macet suatu kota semakin kita mengetahui ada pertemuan masif antar orang, ada transaksi yang lalu-lalang. Akhirnya, uang tidak cuma ngendon di bank dan di dalam dompet-dompet tebal.

Baca Juga  Perilaku Biadab Orang Terhormat

Apalagi, katanya, penduduk Jakarta ada sekitar 10 juta. Jika siang sekitar 13 juta orang (dalam keadaan normal). Itu artinya, ada 3 juta manusia yang bolak-balik ke Jakarta setiap hari dalam banyak tujuan. Coba bayangkan, imbas ke perputaran ekonominya?

Ujung-ujungnya, gelandangan, pedagang kaki lima, toko-toko, dan kafe-kafe sederhana sampai yang paling mewah, mendapatkan berkah dari ramainya aktivitas ini.

***

Saya pikir benar juga kata Jalaluddin Rumi. Bahwa dalam setiap ketidakbaikan selalu ada kadar kebaikannya, begitu pun sebaliknya. Secara pragmatis mau pun secara value, tidak ada kebaikan dan keburukan yang murni seratus persen.

Kalau kemacetan ini kita ibaratkan seorang penjahat atau mafia, apakah mungkin tidak ada sama sekali kadar kebaikan dalam dirinya? Sebab kenyataannya tidak seperti itu.

Kita mungkin pernah mendengar nama Olo Panggabean dari Medan (yang sering disetarakan dengan Herkules). Kawan saya yang ibunya pernah bekerja sebagai juru masak di tempat Olo Panggabean mengatakan bahwa Olo Panggabean adalah orang yang dermawan, banyak membantu masyarakat yang membutuhkan.

Saya bisa saja tidak percaya dengan pernyataan kawan saya itu jika cuma dia saja yang mengatakannya. Tapi jauh sebelum kawan saya ini bercerita, ketika saya masih sekolah di Riau, orang-orang juga sering menceritakan tentang kedermawanan Olo Panggabean.

Dalam banyak kasus, dan mungkin Anda pernah menyaksikan dan mengalaminya sendiri. Selalu saja ada kadar kebaikan dalam diri orang yang tidak baik.

***

Kembali ke soal kemacetan.

Kalau kemacetan adalah bencana bagi kita yang tidak menyenanginya, mengapa kita tetap memaksakan diri tinggal di wilayah yang terkenal macet? Bukankah ini berarti kita memiliki tujuan, misalnya, tujuan pragmatis hendak memperbaiki kualitas hidup secara ekonomi (meski di luar itu ada yang ke Jakarta untuk kuliah). Yang jelas kita tidak hampa orientasi datang ke Jakarta ini.

Baca Juga  Pentingnya Sikap Tawazun dalam Bermasyarakat

Satu hal yang kadang tidak kita sadari, bahkan terkesan paradoks. Kita menginginkan Jakarta dan kota lainnya terhindar dari keramaian yang mengakibatkan kemacetan, singkatnya kita ingin jalanan sepi atau bahkan kosong melompong. Tapi bukankah roda ekonomi tidak dapat berputar masif dalam ruang-ruang sepi? Kalau ekonomi mengkerut imbasnya ke semua sektor, kan?

Sebenarnya, kita bisa saja sedikit menikmati kemacetan yang disuguhkan oleh ibu kota negara ini. Kalau kita mau sedikit beradab.

Maksud saya begini, rasa penat di tengah kemacetan tidak selalu disebabkan oleh macet. Kadang ketidaksabaran dan ketidakhormatan antar pengendara yang membuat kepala kita terasa penat. Orang-orang membunyikan klakson dan memanuver kendaraannya secara tidak beradab. Alih-alih memberi pengertian atas situasi ini, justru kita pasang wajah garang ke pengendara lain. Di titik ini, sempurna sudah kepenatan hidupmu yang penuh beban itu!

***

Di lain sisi, lagi-lagi terjadi paradoks dalam diri Homo Jakartensis. Kita memuji orang-orang di luar negeri a.k.a. Jepang—karena mereka bersikap secara beradab di tengah antrean. Foto-foto kendaraan berjejer rapi saat macet di luar negeri sana, sering kita jadikan senjata untuk merundung negeri sendiri. Lucunya, kekaguman kita itu hanya berhenti di “masturbasi memperbandingkan”, tanpa mau memulainya dari diri sendiri.

Okelah! tidak usah jauh-jauh ke luar negeri. Kita tengok saja Yogyakarta. Meskipun banyak yang mengeluh tentang Jogja tak senyaman dulu. Tapi bagi kami orang Jakarta, Jogja tetaplah nyaman.

Tentu di sana ada juga yang namanya macet, atau sekurang-kurangnya jalanan padat kendaraan. Tetapi macetnya adalah suatu macet yang beradab. Jarang sekali saya temui kendaraan yang membunyikan klakson dan memanuver kendaraannya seenak-udel-nya (Eh! atau mungkin kebetulan aja setiap kali saya ke Jogja suasana hati orang Jogja lagi gembira). Bisa jadi!

Baca Juga  Pendidikan Kespro dalam Islam

Tapi intinya begini, berkendara secara beradab tumbuh dari kesadaran diri sendiri. Sia-sia rasanya masalah ini diturunkan ke dalam level kebijakan kalau ketidakberadaban dalam berkendara nyatanya memang sudah menjadi budaya kita.

Ngomong-ngomong, siapa di antara kita yang ngga pernah menerobos lampu merah?

Bagikan
Post tags:
Post a Comment