f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
akal

Ketika Akal dan Hati Bersatu

“Nggak ada otak kau nih!”. Bagi saya pribadi, kalimat tersebut adalah kalimat makian yang paling keji. Kalimat itu secara tidak langsung mengandung makna bahwa kita ini hewan. Dan dari kalimat itu pula, terkandung kata makian lain yaitu, “Nggak ada akhlak” atau bahasa milenialnya; akhlakless.

Tidak membahas lebih lanjut mengenai makian, karena saya tahu bahwa makian adalah salah satu hal yang harus kita jauhkan dari lisan. Tapi, apakah kita sudah benar-benar memahami siapa orang yang berakal? Bagaimana ciri-cirinya? Dan mengapa setiap orang harus mendayagunakan akalnya?

Mengutip dari Al-Qur’an surat Az-Zumar ayat 18, “(yaitu) mereka yang mendengar perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat”. Dari ayat tersebut dapat kita ketahui bahwa orang yang berakal adalah orang yang mengerjakan apa yang terbaik dan memberikan manfaat bagi sekitarnya. Sederhananya, orang berakal dapat terlihat dari akhlaknya, baik akhlaknya kepada sesama manusia maupun kepada Allah Swt.

Dalam Al-Qur’an, orang berakal mendapat sebutan Ulul Albab. Mereka adalah orang-orang yang mendayagunakan akal sehat dan fitrahnya yang lurus sebagai pedoman hidup. Maka, sudah sepatutnya manusia Ulul Albab menjadifigure dan kriteria manusia yang pantas menjadi role model dalam menjalankan kehidupan di dunia.

***

Akal merupakan anugerah dari Tuhan kepada manusia sebagai unsur pembeda antara manusia dengan hewan, manusia dengan tumbuhan, manusia dengan setan, dan manusia dengan makhluk ciptaan Allah lainnya. Dengan akal, kita dapat menentukan mana perbuatan yang harus kita lakukan dan mana perbuatan yang harusnya kita tinggalkan. Dan dengan akal pula, kita mengerjakan segala sesuatu tidak hanya memandang segi estetisnya saja, melainkan juga melihat etika yang terkandung di dalamnya. Sebagai anugerah, pendayagunaan akal merupakan wujud terima kasih kita atas pemberian-Nya.

Baca Juga  Hasad “Penyakit Hati yang Perlu Dihindari”

Sebagai insan kamil, kita tidak hanya memperoleh anugerah berupa akal saja melainkan hati juga. Konektivitas yang baik antara akal dan hati akan melahirkan perbuatan yang mendatangkan maslahah. Kesinambungan antar keduanya harus terus kita asah agar dapat berfungsi dengan baik, salah satu caranya adalah dengan berpikir positif (positive thinking) terhadap segala sesuatu. Benar kata Bung Pram, bahwa berbuat baik itu harus mulai sejak dalam pikiran.

Memiliki akal positif dan hati yang jernih merupakan dambaan semua orang. Siapa sih orang yang tidak ingin menjadi pribadi yang baik? Siapa juga yang tidak ingin memiliki kemampuan untuk menyelarasakan penggunaan pikiran dan perasaan? Buya Hamka menyebutkan bahwa orang berakal adalah orang yang ketika berpikir memberikan hikmah dan ketika berbuat mendatangkan maslahah. Adapun ciri-ciri orang berakal menurut Buya Hamka adalah sebagai berikut:

***

Pertama, orang berakal selalu mengukur harga dirinya. Pengukuran harga diri ini tidak pernah dilakukan dengan cara membandingkan diri dengan orang lain, akan tetapi membandingkan diri yang sekarang dengan dia yang kemarin. Karena ia sadar bahwa tinggi atau rendahnya harga diri berasal dari apa yang ia lakukan sepanjang hari. Oleh karena itu, penting  bagi dirinya untuk menuliskan kekurangannya sebagai pengingat dan bahan evaluasi dalam melanjutkan hidup di kemudian hari.

Kedua, orang berakal selalu menjauhkan diri dari perbuatan buruk. Jangankan melakukan perbuatan buruk, mendekatinya saja sudah tidak mau. Karena dengan akal sehatnya, ia tahu betul kalau perbuatan buruk akan mendatangkan dampak yang buruk pula bagi dirinya. Ia  juga tidak pernah memandang kecil sebuah keburukan, sekalipun keburukan tersebut kecil dalam pandangan orang lain. Meskipun ia sangat membenci keburukan, bukan berarti ia juga membenci pelakunya. Sebab ia sadar bahwa pelaku keburukan adalah orang pertama yang harus diselamatkan.

Baca Juga  Perintah Al-Qur’an yang Dilupakan Warganet: Bertutur Santun

Ketiga, orang berakal suka melihat orang lain berakhlak baik. Karena baginya, semakin banyak orang baik semakin tentram pula kehidupan. Apabila ada orang yang lebih mulia akhlaknya, tidak segan-segan ia belajar darinya. Selain itu, ia juga suka berteman dengan orang yang luas wawasannya. Sebab ia percaya orang yang berteman dengan penjual parfum, niscaya ia akan tertular baunya atau paling tidak mencium bau wanginya.

Keempat, orang berakal tidak mudah kecewa. Jika ada cita-citanya di dunia yang belum juga tercapai, tidak sekalipun terlintas rasa kecewa di hatinya. Ia mensyukuri apapun yang ada dalam genggamannya. Karena kepercayaannya sederhana; semua yang menjadi haknya tidak akan pernah meninggalkannya, dan apapun yang melewatkannya itu berarti bukan haknya.

Kelima, orang berakal sadar mana kemauan yang berasal dari nafsu dan mana yang dari akal. Dengan kejernihan akalnya, ia tahu mana yang hanya sekedar keinginan dan mana yang memang menjadi kebutuhan. Apabila ia berada di persimpangan antara keduanya, ia bertanya pada hatinya. Hal ini bukanlah perkara yang mudah, tapi bagi orang-orang yang telah mengenal diri dengan baik, maka ia akan dengan tepat menentukan pilihan.

***

Bagi saya, tidak ada alasan lain mengapa kita harus mendayagunakan akal dan menyelaraskannya dengan hati selain karena kita ini manusia. Fitrah manusia yang tercipta sempurna dengan hati dan nafsunya. Hati yang menuntun pada kebaikan, dan nafsu yang bisa saja menjerumuskan pada kerusakan. Ibarat kendaraan akal adalah gas dan hati adalah remnya. Maka kalau boleh meminjam kalimatnya Mbah Nun, hidup itu harus pintar ngegas dan ngerem. Dan satu hal yang perlu kita ingat bahwa satu hal yang tak boleh terpisah dari akal adalah hati.

Bagikan
Post a Comment