Bahaya Fokus Memperbaiki Diri Sendiri
Malam terakhir Ramadan adalah masa untuk memperbaiki dan meningkatkan ibadah dengan salat malam; salat sunah; zikir; dan iktikaf. Di tengah hiruk pikuk masyarakat dengan berbagai problemanya, banyak dari kita memilih untuk menyendiri, fokus memperbaiki akhlak diri dan ibadah ritual untuk diri sendiri.
Yang terpikir dalam diri ini harus lebih baik dari pada sebelumnya. Harus menjadi pribadi yang paling bertakwa. Jika orang sekitar masih belum mau untuk beribadah, atau bahkan hanya untuk sekedar mempelajari ajaran agamanya, maka yang terpikir adalah biarlah orang lain demikian, yang penting diri ini tidak ikut-ikutan dan terus beribadah serta menjaga akhlak sebaik mungkin.
Dulu ketika masih masa sekolah, banyak mereka yang sekolah hanya untuk formalitas saja. Datang sekedar untuk berjumpa kawan maupun pacar. Mengerjakan PR dan tugas asal-asalan; mencontek; serta menyalin jawaban teman adalah hal biasa. Cabut saat jam pelajaran sudah menjadi hal yang lumrah. Melihat hal-hal negatif diatas pikir saya “Biarlah yang penting saya tidak ikut-ikutan, yang penting saya tetap belajar, menjaga moralitas dengan baik.”
***
Di dalam pergaulan pun terdapat beraneka ragam fenomena yang tak sesuai norma: hamil di luar nikah; penipuan; pencurian; dan berbagai perilaku anomali lainnya. Sering kali yang kita pikirkan adalah yang penting diri kita tak seperti itu.
Dalam hal menjaga kesehatan, yang penting kita disiplin patuhi protokol kesehatan, makan yang sehat, menjaga imun dan tak terpikirkan lainnya serta berharap diri akan sehat ketika diri kita menjaga kesehatan diri kita.
Kita berharap ketika memikirkan diri sendiri akan menguntungkan dan membawa kebaikan pada diri kita. Namun pada kenyataannya tidak demikian, kita sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk diri kita tapi kita bisa mendapatkan bencana dan kerugian yang diakibatkan karena kita hanya fokus pada diri kita sendiri. Misalnya, seseorang yang sudah patuh protokol kesehatan, namun ada orang sekitarnya abai atau tidak patuh terhadap protokol kesehatan selama covid. Akibat yang harus diterima adalah seorang yang sudah patuh tersebut akan bisa tertular oleh mereka yang abai.
Kita berusaha untuk menjaga moral diri dan keluarga kita. Namun ternyata, anak kita bergaul dan terpengaruh oleh mereka yang masih memiliki kebiasaan buruk. Maka keluarga kita pun juga bisa tertular memiliki kebiasaan buruk. Kita fokus ibadah ritual, namun sekitar kita banyak yang melakukan kriminal. Maka, walaupun kita baik akan tetapi bisa menjadi korban kriminal.
Kita fokus mengumpulkan uang untuk diri kita dan keluarga, sementara yang lainnya kesulitan makan, sehingga dalam keadaan terdesak harus melakukan kriminal. Mengambil hak orang lain atau pekerjaan yang merugikan lainnya. Siapa kemudian yang akan terkena dampaknya? Tak lain diri kita pun bisa terkena dampak dan kerugiannya.
***
Kita sebagai manusia merupakan makhluk sosial. Kita hidup bermasyarakat, dimana dalam masyarakat saling berkaitan, seperti layaknya anggota tubuh. Jika gigi sakit, kepala pun akan merasakan sakit. Demikian juga keberadaan kita di tengah-tengah masyarakat, jika satu sehat namun lainnya sakit, maka kita pun akan merasakan sakitnya.
Jika kita sudah patuh protokol kesehatan, tidak mudik saat lebaran, namun yang lain masih abai, sering berkerumun dan tidak menerapkan protokol, maka kita pun juga akan bisa tertular. Atau ketika kita fokus kerja mengumpulkan uang, sementara lainnya kesulitan ekonomi dan kita tak berbagi, maka kita pun dapat menjadi sasaran dari sekitar kita yang terdesak ekonomi kemudian melakukan tindakan kriminal. Jika diri kita hanya fokus ibadah pribadi namun melupakan ibadah sosial, untuk berbagi, untuk peduli pada lainnya. Bukan kebaikan yang menguntungkan diri, namun justru kerugian pada diri.
Saat orang sekitar kita belum memahami arti penting menjalankan agama, maka sudah seharusnya kita berbagi ilmu dengan mereka. Atau ketika orang sekitar belum memahami arti penting menerapkan protokol kesehatan, sudah seharusnya kita membantu memberikan edukasi pada mereka. Jika sekitar masih kekurangan dana untuk bisa bertahan hidup, sudah seharusnya kita berbagi dengan mereka.
Nantinya, ketika sekitar kita teredukasi, menjalankan perintah agama, dan sejahtera. Maka, kita pun akan merasakan timbal baliknya, yakni kita tidak akan menjadi korban tertular penyakit oleh mereka yang abai, dan tak tergoda melakukan kebiasaan buruk, serta tak akan menjadi korban kriminal oleh mereka yang terdesak secara ekonomi. Kita pun akan dapat menciptakan komunitas atau masyarakat yang saling berpacu dalam hidup yang lebih berkualitas, sehat, sejahtera, aman dan dekat dengan nilai agama.
Semoga Ramadan kali ini tidak hanya membuat kita meningkat dalam ibadah ritual saja, namun juga ibadah sosial. Dan semoga kita tidak hanya fokus pada perbaikan diri sendiri, namun juga perbaikan pada masyarakat sekitar. Dengan demikian kebaikan yang kita dapatkan pun akan lebih besar.
