f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pilihan terakhir

Pilihan Terakhir (1)

Dering bel asrama terdengar memenuhi setiap ruangan. Suara nyaring itu memaksa para santri yang tengah terlelap untuk bergegas bangun. Selang beberapa detik terdengar suara ketukan pintu dari musyrifah yang bertugas untuk membangunkan para santri melaksanakan qiyamullail. Sudah menjadi rutinitas sehari-hari bagi para santri untuk bangun di sepertiga malam.

Sabrina mengerjapkan mata pelan sembari mengumpulkan nyawanya yang masih terbawa mimpi. Amat disayangkan mimpi indahnya terganggu, tetapi gadis itu tak pikir panjang dan segera beranjak dari ranjang tempatnya tidur.

“Nur, Nur, bangun,” tukas Sabrina sembari menepuk punggung teman sekamarnya yang masih terlelap. Seperti yang ia duga, mana mau temannya ini bangun tepat waktu.

“Bentar lagi Na, sumpah masih ngantuk,” gumam Nur dengan mata terpejam.

“Nur!!! Bangun!” Pekik Ana tepat di telinga Nur. Suara teriakan Ana membuat gadis itu melek seketika.

“Nah, ayo bangun. Nanti kamu ngomel-ngomel kalau kena hukuman,” gerutu Sabrina. Ia sudah hafal. Nur akan mengomel seharian ketika mendapat hukuman dari pesantren.

“Iya, iya ukhti Ana,” kekehnya. Sabrina sering di panggil Ana oleh teman-temannya untuk mempersingkat nama panggilan gadis itu.

***

Ayat-ayat suci Al-Quran terdengar dilantunkan dari berbagai sisi ruangan. Sekitar pukul 03.30 terlihat para santri tengah sibuk dengan hafalannya masing-masing. Santriwati di pesantren ini memiliki jadwal untuk menyetorkan hafalan mereka setelah Salat Subuh berjamaah.

Sabrina menjadi salah satu di antara puluhan santri di dalam ruangan itu yang tengah menghafalkan ayat-ayat suci Al-Quran. Ia sedang murajaah surah Al-Hijr, yang akan ia setorkan nanti kepada ustazah.

Samar-samar suara azan subuh mulai terdengar, para santri mulai beranjak bangun meninggalkan aula.

 “Yuk, Nur,” ajak Ana sembari mengulurkan tangannya.

Baca Juga  Sari

“Ana… Aku belum hafal. Gimana dong? Muter-muter terus kalau hafalan Surat Ar-Rahman.”

“Kemarin malam lancar waktu aku simak. Insyaallah aman.”

“Iya, bismillah aman.”

Sabrina maju terlebih dahulu untuk menyetorkan hafalannya. Gadis asal Aceh ini memang terkenal akan kecepatannya dalam menghafal. Tak heran jika ia sudah menghafal hadis-hadis di Kitab Bulughul Maram dan Riyadhus Salihin.

“Shadaqallahul-‘adzim,” tutup Sabrina selesai murajaah.

“Alhamdulillah. Besok Ana bisa lanjut murajaah Surat An-Nahl,” ucap Ustazah Mei setelah selesai menyimak Ana setoran.

“Oh, ya. Hampir saja saya lupa. Nanti sore Ana ada kuliah? Kalau nggak ada, Ning Fatma bilang ke saya supaya Ana menemui beliau di ndalem.” Susul Ustazah Mei.

“Waduh, ada apa ya Ustazah? Kok, tiba-tiba, takut saya,” jawab Ana keheranan. Takut-takut dirinya membuat kesalahan fatal hingga dipanggil ke ndalem.

“Nggak ada apa-apa. Santai saja. Jadi Ana bisa atau nggak?”

“Gugup saya Ustazah. Alhamdulillah, saya nggak ada kelas sore kebetulan. Jadi ada waktu luang.”

“Oke. Biar saya bilang ke Ning Fatma nanti.”

***

Setelah Salat Asar Sabrina memutuskan untuk pergi ke ndalem sesuai amanah dari Ustazah Mei. Rasa gugup yang menyelimuti Ana hampir membuatnya terpeleset saat menuruni tangga asrama. Pondok pesantren tempatnya menimba ilmu terbilang besar dan cukup terkenal di Jawa. Ana mendapatkan kamar di lantai dua. Ada banyak gedung di sini karena memang pesantren ini memiliki sekolah dari jenjang SMP hingga tingkat universitas. Sudah bisa dibayangkan berapa banyak santri yang tinggal untuk menuntut ilmu di sini.

“Sabrina!”

Suara khas yang Ana kenali. Siapa lagi jika bukan Ning Fatma yang memanggilnya.

“Assalamu’alaikum, Ning,” ucapnya sembari mencium punggung tangan Ning Fatma.

Baca Juga  Berbincang dengan Rumi

“Wa’alaikumsalam. Mari masuk.”

Ana masuk ke salah satu ruangan bersama Ning Fatma. Ia sadar dirinya tidak sendirian, ada satu santri laki-laki yang duduk bersama Gus Atha. Selain itu ada Ustazah Mei, Ustazah Ulfa dan dua Ustaz yang belum Ana ketahui namanya.

Sabrina berpikir keras mengenai keadaannya saat ini. Bulir-bulir keringat terlihat muncul di pelipisnya. Tangannya pun serasa kaku dan dingin saking gugupnya.

Kemudian Gus Atha memulai membuka pembicaraan. Sabrina menyimak dengan seksama perihal apa yang disampaikan oleh penanggung jawab pondok sekaligus anak dari kiai besar pondok pesantren ini.

“Alhamdulillah. Ini beneran Gus?” Ucapan syukur yang bertubi-tubi Ana panjatkan kepada Allah Swt. atas kesempatan emas yang diberikan kepadanya. Ia tahu bahwa ini adalah tanggung jawab besar sebagai perwakilan dari pondok pesantren sekaligus universitas.

“Benar. Jadi, Sabrina dan Ridho akan menjadi perwakilan dari pondok untuk mengikuti lomba tilawatil qur’an. Kebetulan tahun ini ada kerja sama dengan universitas di Mesir. Perlombaan akan di adakan di sana. Banyak peserta dari berbagai negara yang mendaftar”.

“Untuk itu, kalian berdua mohon dipersiapkan dengan baik, selagi masih ada waktu beberapa bulan sebelum lomba. Sabrina dan Ridho akan dipandu Ustaz Salman dan Ustazah Mei, begitu ya?”

“Nggih, Gus.” Jawab kedua penanggung jawab yang terpilih.

Rasa bahagia yang tak terbendung Sabrina sampaikan kepada kedua orang tuanya yang saat ini berada di Aceh. Semangatnya semakin membara saat mendengar dukungan mereka untuk kelancaran lomba Ana mendatang.

Bagikan
Post a Comment