f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
selma

Selma Karamy dan Sayap-sayapnya yang Patah

Rasa-rasanya, cinta dan kepedihan sangat sulit untuk dilepas lekatannya. Cinta dan kepedihan merupakan esensi yang besebrangan, tapi begitu dekat. Tapi jika tanpa kepedihan, cinta tidak bisa dimaknai secara utuh.

Dengan begitu, tanpa kepedihan, tidak mungkin ada seorang pecinta di alam raya ini. Mungkin seperti itu, tajuk kisah Khalil Gibran dalam buku Sayap-sayap Patah. Buku yang berisi teks, namun mampu masuk menembus jantung pembacanya secara indah dan abadi bagai belati sakti.

Secara singkat, buku sayap-sayap patah bercerita tentang si tokoh “aku” yang jatuh cinta pada seorang gadis bersama Selma Karamy. Selma Karamy merupakan putri dari orang kaya di Beirut yaitu Farris Efandi Karamy yang juga merupakan sahabat baik dari ayah si tokoh “aku”. Dari situ, tokoh “Aku” berteman dengan Selma Karamy. Dan, di salah satu pertemuan, percikan cinta muncul melalui momentum sorot mata keduanya.

Tidak lama dari kenikmatan bahagia merasakan gelora asmara cinta, Selma Karamy dan tokoh “aku” harus masuk pada ruang kepedihan bersama. Terlebih bagi Selma Karamy. Farris Efandi Karamy memberi kabar bahwa Uskup di kota tempat mereka tinggal telah melanjutkan rencana perjodohan antara Selma Karamy (anaknya) dengan kemenakannya yaitu Mansour Bey Galib. Sejak awal, Farris Efandi memang telah menjodohkan putri tercintanya itu , dengan Kemenakan Uskup terpandang di kota Beirut. Dengan harapan bahwa putrinya akan mendapatkan kebahagiaan abadi dengan hidup bersama lingkungan baik dan di jalan Tuhan.

Akan tetapi, Selma justru tersiksa dan menderita. Sebab, Ia tau bahwa kemenakan Uskup itu hanyalah seorang laki-laki yang tidak bisa hidup tanpa banyak wanita. Dan, tujuan uskup menjodohkan kemenakannya tidak lain hanya untuk penguasaan harta dari Farris Efandi.

Baca Juga  Pilihan Terakhir (1)
***

Selma dan Mansour Bey sudah menetapkan tanggal pernihakan mereka. Hari-hari menuju perikahan berjalan begitu cepat dan terus menggerogoti semangat hidup Selma. Selma merasa bahwa ia adalah burung dengan sayap-sayap yang patah. Bersama dengan itu, Uskup seakan telah menyediakan sangkar yang mengerikan untuknya. Sayap-sayapnya patah sebab ia terbentur dengan budaya dan kerakusan berbalut surban atas harta dan kehormatan. Selma menjadi korban dan harus merelakan cintanya menjelma derita. Deritanya begitu dalam dan panjang.

Hingga dia tidak mampu lagi tersenyum. Dan, tentu si tokoh “aku” bersedih karena itu. Sebelum benar-benar pergi ke sangkar pernikahan tanpa cinta, Selma menatap dalam-dalam mata tokoh “aku”. Lalu, ia membisikkan doa dengan nada yang lirih, “Tuhan, tolong sembuhkan sayap-sayapku yang patah”. Kemudian, Selma pergi dan si tokoh” aku” kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumah, ia langsung membaringkan tubuhnya dan mengingat wajah Selma yang begitu merona, dan secara berat dan pedih ia juga berdo’a “Tuhan, tolong sembuhkan sayap-sayapku yang patah”.

Singkat cerita, pernikahan Selma dan Mansour Bey telah dilangsungkan. Selma Karamy resmi dipenjarakan dalam sangkar budaya pernikahan yang kejam. Ia tinggal bersama suaminya  dan keluarga Uskup. Sedangkan, ayahnya tinggal sendiri bersama hari tua sembari menunggu ajalnya. Akan tetapi, sesekali tokoh “aku” datang menjenguk sembari mengunjungi ruang di mana cintanya tumbuh melalui momentum. Sebab, baginya, cinta tidak tumbuh karena kebersamaan yang panjang. Akan tetapi, cinta adalah hasil dari daya tarik menarik rohani dan jika daya tarik itu tidak tercipta pada momentum tertentu, maka ia tidak akan tercipta selamanya (Gibran, 2021).

***

Setelah itu, Farris Efendy, ayah Selma, sakit keras dan sudah berada di pangkuan kematian. Ia berpesan pada Selma agar tetap patuh dan melayani suaminya, Mansour Bey, dengan sepenuh jiwa. Meskipun, sejatinya Farris Efandi sadar bahwa cinta perempuan itu hanya untuk si tokoh “aku”. Hingga akhirnya, Farris Efandi pun tak kuasa untuk tidak menitipkan putri tercintanya pada si tokoh “aku”. Sang putra dari sahabatnya dulu. Setelah sekian pesan disampaikan, pada Selma dan si tokoh “aku”, Farris Efandi melepaskan hembusan nafas terakhirnya pada ujung pangkal kehidupan yang fana. Ia meninggal dan sekaligus melumpuhkan gairah hidup Selma yang sejak awal tidak menyangka bahwa takdirnya adalah menjadi manusia ibarat burung dengan sayap-sayap yang patah, lagi-lagi patah. Kini, cinta pertamanya (ayahnya) tidak mampu lagi mendapinginya menjalani hidup yang penuh kepedihan baginya.

Baca Juga  Perempuan di Tanah yang Dijanjikan

Cerita belum berakhir. Selma Karamy tentu tidak nyaman dengan hubungan pernikahannya yang hanya berasas pada keserakahan dan kegilaan kehormatan suaminya. Sehingga, pasca meninggalnya Farris Efandi, Selma terus berupaya menuruti cinta sejatinya, yaitu tetap dan secara rutin bertemu dengan si tokoh “aku” di kuil terpencil di tengah kebun. Kuil yang menghadirkan rona keagungan sang Ishtar (Dewi cinta dan kecantikan) dengan Yesus Kristus yang sedang disalib (Pengorbanan). Berbagai dialog indah terjadi dalam beberapa pertemuan itu. Tentu saja pertemuan itu tidak atas sepengetahuan suami Selma. Dan, orang awam pasti menganggap itu sebagai perselingkuhan. Padahal, Selma adalah kesetiaan pada si tokoh “aku” yang direnggut sayapnya untuk tidak terbang menuju jalan cintanya.

Akan tetapi, di suatu waktu, Selma mulai letih dan merasakan sakit yang dalam melihat potensi ancaman yang mengintai kekasih sejatinya (si tokoh “aku”). Dengan begitu, di antara 2 (dua) simbol agung di kuil itu, Sang Ishtar dan Yesus Kristus, Selma Karamy memilih menengadah pada Kristus dan melupakan Ishtar dengan akar cinta pada kekasihnya. Selma Karamy memilih berkorban menyelesaikan takdirnya atas prahara kepedihannya dengan melanjutkan tugasnya sebagai istri Mansour Bey secara utuh. Pada momen itu terjadi dialog yang dramatis dan menjadikan hati pembaca terenyuh. Namun, Selma Karamy telah memilih jalan cinta. Sebab, Ia menganggap bahwa cinta hanya mengajarinya untuk melindungi orang yang Ia cintai. Lalu, ia pergi meninggalkan si tokoh “aku” dengan kecupan cinta terakhirnya.

***

Tidak lama kemudian, Selma Karamy hamil dan beberapa bulan kemudian kehamilannya mulai menua dan hendak melahirkan. Bayinya lahir dengan tatapan yang sendu, begitupun tatapan mata Ibunya yang menatap sang bayi. Akan tetapi, kedua sendu mata itu ternyata pertanda ajakan pada kematian. Sang Bayi meninggal, lalu Selma memeluknya tepat di dada kehidupannya. Tak lama, Selma ikut terseret pada kematian bersama sang Bayi. Orang-orang yang melihat menganggap itu sebagai kesakralan kehidupan perempuan itu. Sang bayi lahir untuk menjadi penyelamat Selma Karamy dari kekejaman budaya, kekuasaan, dan surplus kehormatan keluarga Uskup. Dengan begitu, akhir kisah ini berpuncak pada sang Ishtarku Selma Karamy yang di benamkan dalam keabadian bersama cinta dan penyelamatnya.

Baca Juga  Kisah Juni

Karya ini begitu megah dan luar biasa untuk diselesaikan terlalu cepat. Banyak nilai-nilai kehidupan, dengan pendekatan cinta yang berusaha disampaikan oleh Sang Maestro Kahlil Gibran. Maka dari itu, tulisan ini hanyalah secuil kekaguman yang berusaha saya narasikan untuk keabadain. Sekian.

Editor: Iefone Shiflana Habiba

Bagikan
Comments
  • Luky

    Keren, mas

    November 15, 2021
Post a Comment