f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
toko buku

Toko Buku: Aku Selalu Penuh Hasrat

“Sudahku bilang kamu tidak akan tahan melihat tumpukan kata-kata itu, yang terangkai kalimat, tersusun oleh paragraf, dan dipisah dengan bab-bab, lalu dikemas dalam bentu buku.” Menumpuk di rak-rak. “Kamu tak kuat tapi kesadaran dibutuhkan, jangan berhayal memboyong semuanya”

Rak-rak yang hampir tak berujung, dipenuhi buku-buku, berbagai genre, berbagai penerbit, dan berbagai penulis dari yang lokal sampai manca negara, dari yang dikenal anak-anak sampai kakek sekalipun ada. Lebih khusus orang-orang yang hari-hari selalu menyempatkan membaca, buku tentunya, nama-nama penulis apalagi penulis-penulis kesukaannya pasti selalu ia ingat.

Berbagai genre buku ada penikmat atau penyukanya. Ada yang membaca khusus dengan bidang yang digeluti demi mendukung kajian-kajian yang ia kerjakan, ada juga yang membaca berbagai genre baik itu sains, filsafat, agama, pertanian, bahkan sastra yang biasanya lebih asik dan mengena. Jangan ditanya untuk apa, terkadang memang itu sarana bahagia.

Kalian tahu rasanya saat-saat rindu, dengan siapapun, kalau bertemu pasti rindu terbayar tuntas. Sama halnya membaca satra, semacam bertemu seseorang atau apapun objek rindu itu. Semacam bahagia, sastra itu bagian bahagia yang seketika menghadirkan senyum. Cerita-cerita sejarah juga sering dihadirkan dalam karya sastra.

***

Sejak awal aku sudah mewanti-wanti untuk hanya membeli buku yang sedari rumah sudah direncanakan, bukan yang lain, hanya itu saja. Berbagai genre, dari novel: kisah cinta sampai yang tragis; cerpen; puisi; politik; sejarah; agama, dan masih banyak yang jika aku hitung semua embak-embak kasir akan bilang “mas toko mau tutup”, “waduh…”

Mengambil buku tujuan. Buku kupegang dan kuapit dengan tekiak sembari membaca sinopsis atau review dari tokoh penulis; pada sampul belakang buku-buku lain. Karena perjalan ke toko cukup jauh, mungkin 15 km, tak mungkin hanya membungkus satu buku, setidaknya ada pasangannya. Saya selalu takut ada yang sedih saat ada yang sendiri apalagi kesepian. Dua minimal.  

Baca Juga  Menemukan Mu

Banyak hal yang membuat aku tertarik pada buku-buku dan penulis-penulis yang belum aku kenal; pertama, liat review dari media sosial, liat bacaan teman diskusi atau ada yang merekomendasikan. Sebenarnya buku yang kuapit di ketiak yang merupakan tujuan awal adalah buku rekomendasi seorang kawan setelah dia membaca status WhatsAppku, “Kamu harus baca novel ini sembari mengirim foto bukunya. Besok saya cari di toko, atau minjam juga boleh sepertinya, jawab ku. Cari dulu aja, kita bakalan lama berjumpa lagi. Setelah kamu baca kita diskusi, tutup chatnya. Siap, jawab terakhirku.”. Kedua, ini satu-satunya cara untuk mengenal dan kenal berbagai penulis.

“Obsesi kita selalu mengarah mengenala penulis, sedangkan karya menurut salah satu penulis “Gunawan Muhammad” adalah bentuk lain.” Tentu, aku punya obesesi ingin mengenal penulis, tapi sering sekali aku terlalu mengagungkan dan melupakan karyanya yang jauh lebih penting. Karya adalah risalah untuk pembaca sebagai mediam berpikir, penulis/pengarang hanya sarana penyampai.

***

Setelah seminggu, hari ini saat dapat kabar uang bulananku telah masuk, aku langsung menuntaskan pesan itu. Berbelanja buku. Seperti halnya manusia selalu punya hasrat yang kadang belebih pada sesuatu yang ia cintai, sama hal aku hari ini, mengambil satu melihat yang lain mau lagi dan lagi. Tapi jelas tak mungkin aku mengikuti perempuan di sampingku, cantik tapi sayang tak dapat aku lihat muka secara jelas, masker terlampau memusuhiku. Dengan keranjang merahnya perempuan ini memasukan satu demi satu buku, jarang aku lihat, dia seperti memasukkan barang makanan untuk seminggu ke depan memenuhi kebutuhan keluarga kecil.

Aku bilang padanya, “hai kamu perempuan bermasker dengan keranjang merah.”

Baca Juga  Masih tentang Kamu

“Kamu membangkitkan hasratku pada buku-buku yang tak mampu aku beli sembari mengejek ketidakmampuanku.”

“Aku lagi butuh ilmu. Buku adalah sarananya, kamu tidak usah ganggu. Ini aku kasih, kelihatannya kamu tidak mampu beli banyak-banyak,” dia memberi dan membuat tubuhku terdorong, sikuku mengenai susunan buku yang harus aku rapikan. Tapi aku tak marah, sama sekali.

Benar-benar hal itu aku harapkan terjadi. Sayangnya aku terlalu berharap.

Penuh hasrat untuk memboyong dan menumpuk buku-buku di kamar kosku yang kecil itu, mungkin bisa kujadikan bantal atau alas tidur jika sudah benar-benar memenuhi kamar, tapi aku harus melihat kantongku. Beberapa buku yang aku beli saja sudah membuat uang makanku terkuras dan mungkin seminggu aku akan puasa atau mengharapkan belas kasihan seorang kawan.

Buku yang kutenteng dan sesekali aku selip di ketiak tadi kusodorkan pada mbak-mbak kasir. “Pakai kantong plastik,” katanya. “Tidak usah mbak,” jawabku. Kusodorkan uang dengan nominal yang dia sebut dan kembaliannya kuambil. Aku pergi, sampai jumpa di pertemuan selanjutnya. Teriak buku dari rak-rak, sudut ke sudut, minta untuk dibawa pulang. Tapi aku sudah kadung dengan keputusan pulang dan menerima puasa beberapa hari atau bahkan minggu.

Bagikan
Post a Comment