f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
insyaallah

Risalah Insyaallah dalam Pandemi Covid-19

Oleh : Nasaruddin*

Insyaallah adalah kata tunggal dalam bahasa Indonesia hasil serapan dari tiga kata bahasa Arab: In (jika), Syaa (berkenan atau berkehendak), Allah (Allah). Artinya Jika Allah berkenan atau berkehendak. Kalimat thoyyibah ini disyariatkan oleh Islam untuk diucapkan setiap kali kita merencanakan atau akan melakukan sesuatu. Ia adalah ikrar bahwa apapun yang akan kita lakukan atau kita alami sepenuhnya bergantung kepada kehendak Allah. Ia juga adalah bentuk kepasrahan kita bahwa sebagai hamba kita hanya bisa sebatas berencana dan berikhtiar, pada akhirnya kepada Allah jua kita menyerahkan dan memasrahkan apa yang akan terjadi.

Mengucapkan Insyaallah bukan urusan sepele. Ia disyariatkan oleh Allah melalui sebuah ayat yang berisi teguran langsung Allah kepada Rasul-Nya Muhammad SAW; “Jangan sekali-kali engkau berkata tentang sesuatu: saya akan melakukannya besok, kecuali engkau mengucapkan Insyaallah. Dan ingatlah Tuhanmu apabila kamu lupa…” (Al-Kahfi: 24-24).

Para mufassir sepakat bahwa maksud ayat tersebut adalah bahwa Allah menegur dan mengingatkan Rasul-Nya agar tidak berkata atau berjanji akan melakukan sesuatu tanpa mengucapkan Insyaallah. Dan apabila ia lupa mengucapkan Insyaallah, hendaklah ia mengucapkannya begitu ia mengingatnya.

Menurut para mufassir, ayat ini turun berkenaan dengan ucapan Rasulullah kepada para Ahli Kitab yang bertanya kepada beliau tentang tiga hal, yaitu Ruh, Ashabul Kahfi dan Dzul Karnain. Kepada mereka beliau berjanji, “Saya akan menjawabnya besok,” tanpa mengucapkan Insyaallah. Beliau berharap, seperti biasanya, Allah akan menurunkan wahyu yang menjelaskan perkara-perkara yang belum beliau kuasai seperti tiga hal tersebut. Esoknya, tidak ada wahyu yang turun seperti yang beliau harapkan. Hari-hari berikutnya berlalu dan beliau terus menunggu, tapi tetap tidak ada wahyu yang turun. Setelah sebulan menunggu dengan gundah, beliau akhirnya menerima wahyu yang dinanti. Tapi isinya bukan penjelasan tentang apa yang ditanyakan para Ahli Kitab tersebut, melainkan teguran kepada beliau karena telah menjanjikan jawaban kepada mereka tanpa mengucapkan Insyaallah.

Insyaallah adalah Bagian dari Semua Rencana Kita

Mencermati redaksi ayat tersebut dan konteks turunnya, tampak jelas bahwa mengucapkan kata Insyaallah adalah syariat penting dalam Islam. Secara prinsipil, ia adalah ekspressi atau verbalisasi dari keyakinan yang paling dasar dalam Islam, yaitu bahwa Allah adalah Maha Berkehendak, Maha Menentukan, dan Maha Memutuskan. Oleh karena itu, kalimat Insyallah harus menjadi bagian dari semua yang kita rencanakan. Harus menjadi frasa yang tak terpisahkan dari semua kata “akan” yang kita ucapkan. Ketika kita lupa mengucapkannya, ia akan tetap menjadi tanggungan sampai kita mengucapkannya. Menurut Ibn Abbas yang dirujuk oleh Ibn Katsir, siapa yang lupa mengucapkan Insyaallah, hendaklah ia mengucapkannya kapan pun ia mengingatnya, walaupun itu telah berlalu setahun sekali pun. 

Baca Juga  Nasihat Imam Hasan Bashri di Masa Paceklik

Kedalaman makna Insyaallah tidak hanya mewakili keyakinan kita akan kekuasaan mutlak Allah dalam berkehendak, tapi juga mewakili kepasrahan kita atas ketentuan Allah dan kesiapan kita untuk menerimanya. Semua yang terjadi dalam hidup kita adalah atas kehendak Allah. Kata Insyallah kita butuhkan sebagai pegangan untuk menghadapi dan menerimanya.

Terkadang, ujung dari rencana-rencana kita jauh dari apa yang kita bayangkan. Apa yang kita perhitungkan dan perkirakan terkadang meleset jauh dari apa yang benar-benar terjadi.  Tapi, kalau apa yang kita rencanakan itu dikawal oleh ucapan Insyaallah, Insyaallah kita tidak akan shock dalam menghadapi apapun kenyataan akhirnya.

Pelajaran Hidup dalam Pandemi Covid-19 adalah Insyaallah

Apa yang kita alami selama masa pendemi Covid-19 saat ini adalah contoh nyata bahwa dalam hidup ini kita akan mengalami hal-hal yang bahkan tidak terbayangkan sebelumnya. Siapa di antara kita yang sebelum virus Corona ini menyebar pernah membayangkan situasi dan kondisi yang saat ini kita jalani? Siapa yang pernah membayangkan jamaah haji dan umrah tahun 2020 akan batal berangkat ke tanah suci?

Siapa yang pernah memprediksi bahwa sekolah, kampus, dan lembaga-lembaga pendidikan ditutup dan para siswa, santri, dan mahasiswa belajar dari rumah mereka masing-masing? Siapa yang sempat memperkirakan masjid-masjid akan ditutup dan kita melaksanakan salat Idul Fitri di rumah masing-masing? Siapa pula yang pernah membayangkan bahwa rutinitas akbar tahunan bernama mudik dilarang? Tidak seorang pun yang pernah membayangkannya.

Sekali lagi, ini semua adalah pelajaran bahwa hidup kita, dengan segala dinamikanya, adalah Insyaallah. Tunduk dan mengikuti kehendak-Nya. Terjadi dan berlangsung semata hanya karena izin dan perkenan-Nya. Namun, terkadang pengalaman panjang dan rutinitas hidup tanpa sadar telah membentuk keyakinan kita bahwa apa yang biasa kita lakukan atau alami akan terus dan selalu terulang rutin seperti biasanya.

Baca Juga  Agar Tidak Bingung dengan ‘New Normal’

Kita lupa, semoga saja tidak, bahwa sekali Allah menghendaki semua rutinitas itu berhenti, maka pasti akan terhenti. Ucapan Insyaallah dalam setiap rencana kita akan mengkondisikan psikologi spiritual kita untuk meyakini bahwa di balik semua yang kita rencanakan itu ada Allah yang Fa’aalun Limaa Yuriid, Zat Yang Maha Berbuat Menurut Kehendak-Nya. Rencana adalah rencana kita, usaha adalah usaha kita, tapi hasil akhir dari semua itu adalah mutlak apa yang dikehendaki Allah.  

Pendemi Covid-19 dan semua dampak yang ditimbulkannya adalah pelajaran bagi kita untuk meng-Insyaallah-kan semua gerak hidup kita. Ia mengingatkan dan menyadarkan kita semua untuk senantiasa melibatkan Allah dalam setiap rencana dan aktifitas hidup kita. Insyaallah adalah verbalisasi tauhid. Ia adalah ekspressi keyakinan kepada Kemahakuasaan Allah. Ia juga adalah cerminan kepasrahan kepada apapun yang diputuskan oleh Allah. Inilah salah satu hikmah dan pelajaran termahal dari turunnya Pendemi Covid-19 yang tengah kita hadapi dan alami saat ini. 

Jangan Lupa Ucapkan Insyaallah

Tinggal sekarang kita sama-sama bertanya kepada diri kita masing-masing. Kita yang berprofesi sebagai pendidik, dulu sebelum Corona merebak, ketika merancang pembelajaran satu semester, apakah kita sempat mengucapkan kata Insyaallah? Kita yang pegawai dan pejabat, apakah ketika dulu membuat program tahunan sempat mengucapkan kata Insyaallah? Kita yang pengusaha travel, apakah dulu ketika merencanakan Haji dan Umrah tahun 2020 sempat mengucapkan kata Insyaallah?

Kita yang semestinya bulan ini menikahkan anak, apakah dulu ketika rapat dengan besan, menentukan hari-H, memesan gedung dan deal dengan event organizer sempat mengucapkan kata Insyaallah? Kita yang pedagang, apakah saat dulu mengalkulasi usaha dan laba tahunan di 2020 ini sempat mengucapkan kata Insyaallah? Dan kita yang perantau, apakah ketika dulu merencanakan dan menjanjikan orang tua di kampung untuk mudik lebaran tahun ini sempat mengucapkan Insyaallah?

Kalau untuk semua rencana-rencana tersebut kita ternyata lupa mengucapkan Insyaallah, inilah saatnya kita mengucapkannya. Semoga Allah Sang Pemegang Kehidupan memaafkan kita karena pernah tidak menyertakan-Nya dalam rencana-rencana hidup kita. Aamiin.

Baca Juga  Manusia, Corona, dan Takdir

Wallahu A’lam.

*)Dr. Nasaruddin, M.Ed., adalah dosen tetap UIN Sunan Ampel Surabaya. Pemilik website www.lisanarabi.net. Kontributor tetap blog Pembelajaran Bahasa Arab di situs berita aljazeera.net. yang berbasis di Qatar.

Bagikan
Post a Comment