Pola Makan ala Rasulullah dan Bukti Penelitian tentang Manfaatnya
Pola makan merupakan salah satu hal yang penting dalam kehidupan kita. Bagaimana tidak, pola makan bisa menjadi tolok ukur kesehatan seseorang. Pola makan yang baik dan sehat akan memberikan energi yang cukup bagi manusia sehingga mampu beraktivitas secara normal.
Prinsip pola makan 4 sehat 5 sempurna kian digalakkan sebagai pedoman dalam mengatur pola makan yang sehat. Namun, prinsip sekaligus slogan yang diperkenalkan oleh Bapak Gizi Indonesia, Prof. Poorwo Soedarmo ini tidak lagi digunakan karena dinilai tidak sesuai dengan perkembangan dan permasalahan gizi di masa sekarang. Sebagai gantinya, pada tahun 2014 Kementrian Kesehatan RI merilis Pedoman Gizi Seimbang (PGS).
Kesehatan Menurut Islam
Pedoman Gizi Seimbang (PGS) yang mendasar pada Prinsip Nutrition Guide for Balanced Dier berdasarkan hasil kesepakatan konferensi pangan sedunia di Roma Tahun 1992 ini dipercaya dapat mengatasi beban ganda tentang permasalahan yang menyangkut gizi; yaitu kelebihan dan kekurangan gizi. Pedoman ini menerapkan prinsip konsumsi makanan yang beraneka ragam diiringi aktivitas fisik, perilaku hidup bersih, dan pemantauan berat badan secara teratur.
Sebagai muslim, tentu kita tahu bahwa Islam adalah salah satu agama yang sangat memperhatikan tentang kesehatan. Rasulullah sebagai panutan umatpun memberi perhatian yang besar terutama pada masalah kesehatan. Prinsip terpenting yang diajarkan Rasulullah adalah sederhana, baik, seimbang, dan tidak berlebihan.
Prof Dr Abdul Basyid Muhammad As Sayid, pakar kedokteran dan biofisika sekaligus penulis buku berjudul Pola Makan Rasulullah ini mengatakan bagaimana nabi mengatur program makan sehingga kesehatan tubuh tetap terjaga.
Pola Makan Nabi
Secara sederhana, Rasul menuturkan bahwa sebaiknya kita memakan buah-buahanan lebih dulu sebelum makan makanan yang berat. Selanjutnya makan dengan menggunakan 3 jari. Makan cara duduk dalam posisi tegak sambil mengunyah makan secara perlahan. Karena mengunyah sangat berpengaruh pada pencenaan manusia. Maka dari itu disarankan mengunyah dengan perhalan dan sampai makanan menjadi sehalus mungkin agar sistem pencernaan tidak bekerja ekstra untuk memproses makanan.
Rasul melarang kita bersikap rakus dan berlebihan, bukankah sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Beliau juga melarang makan sambil berbincang karena dapat berakibat serius seperti tersedak. Sebaiknya juga kita melakukan kegiatan ringan setelah makan, dan tidak langsung tidur; sebab Rasul melarang dengan keras kebiasaan tidur setelah makan, karena itu mendatangkan potensi untuk datangnya berbagai macam penyakit.
Menurut kedokteran, Setelah makan, tubuh akan mencerna makanan yang dikonsumsi agar nutrisinya dapat diserap. Saat proses pencernaan berlangsung, tubuh akan melepaskan hormon-hormon tertentu agar pencernaan berjalan lancar, dan ini merupakan hal yang normal terjadi. Maka dari itu, sangat tidak dianjurkan ketika setelah makan, seseorang tu langsung tidur karena akan mengakibatkan obesitas, diabetes dan lain-lain.
Selain itu Rasul juga memperingatkan kita untuk tidak mengkonsumsi makan yang terlalu panas dan minuman yang terlalu dingin. Kemudian Rasul menyarankan kita untuk minum dengan cara 3 kali tegukkan. Kemudian bernafas, dan demikian seterusnya. Terakhir, cuci tangan dan tak lupa membaca hamdalah.
Bukti Pola Makan yang Sehat ala Nabi
Poin penting menurut Rasul, kesehatan kita sering ditentukan dari perut kita sendiri. Istilah modernnya “you are what you eat”. Apa yang kita makan menentukan keadaan jasmani diri kita masing-masing. Rasul memberikan pemahaman bahwa setiap manusia seharusnya menentukan isi perut yang ideal. Yaitu 1/3 untuk makanan, 1/3 untuk air, dan 1/3 untuk udara.
Sebagaimana yang dikatakan Profesor Hans-Heinrich Reckeweg, M.D., ahli toksikologi, Biological Therapy, dalam hal cara makan, masyarakat Barat yang tidak mengamati dan tidak mencontoh adab makan yang diajarkan Islam; akhirnya menderita banyak penyakit. Mereka yang mematuhi kebiasaan makan menurut Islam akan sehat, dan mereka yang meniru cara makan Barat yang buruk akan sakit.
Pernyataan di atas membuktikan bahwa orang Barat mengambil manfaat baik dari pola makan yang diajarkan dalam islam, bahkan beberapa orang membuat penelitian untuk membuktikan kebenaran dari beberapa hadir nabi tentang kesehatan berikut.
Satu riset University of California, Los Angeles (UCLA) pada Tahun 2005 membuktikan hadis yang memiliki terjemah; “cukuplah untuk anak Adam sebagian suap untuk menegakkan badannya,”. Tikus yang memperoleh ransum dengan jumlah kalori yang cuma cukup untuk dia bertahan hidup, nyatanya hidup lebih panjang dari tikus yang memperoleh ransum dengan porsi serta kalori umum.
Porsi Makan Ideal
Pada Tahun 2006, Christiaan Leeuwenburgh dari Institute of Aging Florida, membuktikan hadis yang memiliki terjemah, “1/3 untuk makanan, 1/3 untuk air, serta 1/3 untuk udara”. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa porsi makan sejumlah 8% saja bisa menghindar banyak rusaknya organ disebabkan penuaan. Porsi makanan yang disebut yaitu “porsi makan hingga kenyang” yang umum dikonsumsi orang sehari-hari.
Terjemah hadis, “makan sebelum saat lapar serta berhenti sebelum saat kenyang,” dibuktikan oleh Kalluri Suba Rao, pakar biologi molekuler pada Tahun 2004. Hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa makan sedikit dapat menimbulkan respon positif bagi tubuh di antaranya seseorang yang makan dengan cukup sangat mungkin untuk lebih berkonsetrasi, tubuhnya juga mampu melakukan perbaikan organ, hingga aktivitas perbaikan DNA, buang zat-zat racun keluar badan, serta pergantian beberapa sel rusak dengan sel sehat bisa berjalan lebih optimal.
Sebaliknya, jika kita makan banyak melebihi batasan, maka badan akan bekerja lebih keras dengan aktivitas katabolisme (menguraikan beberapa makanan itu dalam badan) serta tidak sempat melakukan perbaikan. Inilah satu di antara penyebab datangnya beragam penyakit seperti darah tinggi, kolesterol, dan lain-lain yang bisa memperpendek usia manusia zaman saat ini.
