Kehidupan Penuh Warna
Kata syukur terlalu lumrah di telinga kita, banyak orang yang mengetahui apa itu syukur, tapi sekedar nama; tidak dengan hakikatnya. Yaitu ketika mereka menerima apa yang Allah telah tetapkan kepadanya.
Begitulah kehidupan. Akan berwarna indah ketika ia hiasi dengan syukur, dan betapa remang warna kehidupan ini; ketika hidup hanya tentang mengeluh, tak terima dengan nikmat Allah Ta’ala.
Hidup itu bagai lukisan, hitam putihnya menunjukkan kesederhanaan, dan warna-warninya menggambarkan keindahan. Warna-warni kehidupan ialah ragam rasa, penghayatan hati. Rasa sedih, rasa bahagia maupun duka, bagai roda yang berputar, kadang di atas dan kadang pula di bawah. Hidup itu penuh warna, tak selamanya hidup itu gelap, pula, tak selamanya terang.
Sejatinya ada dua warna yang di mana manusia pada umumnya selalu mengidentikan diri dengan warna-warna tersebut, tahukah anda apa warna tersebut?
Hitam
Saya mengatakan hal ini karena banyak ungkapan oleh orang-orang tentang warna hitam. Biasanya, ungkapan tersebut berkaitan dengan keadaan yang buruk atau keterpurukan, jatuhnya seseorang atau ujiannya seseorang dalam kehidupannya dengan ujian yang sangat berat, dll. Biasanya, keluarlah ungkapan, “Oh betapa kelam dan gelapnya hidup ini”. Dan sudah sangat jelas bahwa gelap itu identik dengan warna hitam yang bagi kita, sulit melihat sesuatu di dalamya. Tidak secara mutlak, namun ini yang biasa di ungkapkan oleh kebanyakan orang.
Akan tetapi, yang perlu saya tegaskan dalam tulisan ini bahwa, “tidaklah bisa nampak dengan jelas warna putih kalo tidak disandingkan dengan warna hitam dan dengan warna-warna yang lain.“ Rasulullah pun mengistilahkan hati yang terkena kotoran bagaikan hati yang terkena noda-noda hitam, dalam hadisnya.
“Fitnah-fitnah itu akan di hadapkan kepada hati seperti tikar satu serat – satu serat, maka hati mana saja yang menyerap fitnah tersebut, akibatnya satu noda hitam tertempel di hatinya“.
Apabila kita renungkan ungkapkan di atas, maka analoginya bahwa tidaklah seseorang jatuh dalam keterpurukan kecuali Allah Ta’ala sebenarnya ingin mengangkat derajatnya apabila dia mau berusaha!
Ada tiga poin yang perlu kita perhatikan. Yang pertama, tidaklah seseorang dicoba, kecuali Allah ingin membuat ia menjadi sosok yang tangguh hatinya dan dia pun mampu menyelesaikan. Selanjutnya yang kedua, tidaklah seseorang mendapat kesakitan kecuali Allah Ta’al ingin menghapus dosa -dosanya. Kemudian yang ketiga, tidaklah ada kesulitan kecuali bersamanya ada kemudahan.
…
Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat Asy-Sharh ayat 5 ”Sesunggahnya bersama kesulitan terdapat kemudahan“
Saya ingin sedikit bercerita tentang pengalaman saya, yang insyaAllah berkaitan dengan poin ke tiga; yaitu “Tidaklah seseorang di beri kesakitan kecuali Allah Ta’ala ingin menghapus dosa-dosanya.”
Ketika saya berada bangku Aliyah semasa pondok pesantren, saat masa-masa belajar saya pernah terjatuh sakit, pusing yang tidak berkesudahan, setelah dua atau tiga hari baru sembuh. Syaikh atau guru saya pun mengunjungi saya ke kamar dan seraya menanyakan kabar saya ketika saya terlentang di kasur, saya pun mengatakan saya sakit Syaikh kepala saya pusing tidak karuan, Syaikh pun mengatakan “Alhamdulillah.”
Sontak ucapan ini membuat saya kaget, seseorang yang sedang sakit di beri ucapan demikian yaitu bersyukur karena di timpa musibah. Namun setelah lama berpikir, saya pun memahami bahwa sebenarnya beliau sedang bersyukur karena Allah Ta’ala ingin menghapus dosa-dosa saya dengan mendatangkan sakit ini. Atau mungkin sedang menegur dan memperingati saya, bahwa kesehatan itu mahal dan patut untuk kita syukuri dan tidak disia-siakan. Maka dari itu, Rasulullah Shallollohu alaihi wa sallam mengatakan, “Dua nikmat yang di mana manusia banyak tertipu olehnya yaitu waktu luang dan kesehatan.”
Putih
Warna yang kedua yaitu putih, siapa di antara kita yang tidak menyukai warna ini? Warna yang sedap di pandang. Bersih apabila dipakai, apalagi putih yang tidak bernoda sungguh sangat indah. Warna inipun sangat disukai Rasulullah Shallallahu aalihi wa sallam.
Putih melambangkan keindahan, kesejahteraaan, damainya seseorang, baik secara batin maupun lahir. Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, bahwa “warna putih tidak bisa terlihat kecuali apabila disandingkan dengan warna hitam dan warna yang lain.“
Kembali lagi saya ingin mengajak para pembaca untuk bernalogi bahwa keindahan sesuatu tidak akan terlihat tanpa mengetahui buruknya sesuatu yang lain. Kesejahteraan tidak akan tercapai kecuali dengan kerja keras dan cobaan-cobaan yang berat; karena tidak ada seseorang mendapatkan apa yang dinginkanya dengan instan, tapi harus dengan usaha dan cobaan yang berat.
Nikmat sehatnya seseorang tidak akan diketahui, kecuali apabila dia pernah merasa sakit. Seseorang yang berada di atas puncak kesuksesan tidak akan terasa nikmat kecuali apabila dia pernah merasakan ujian yang sangat besar. Seseorang tidak akan mampu bertauhid dengan kecuali dia mengetahui kesyrikan.
Dari kedua warna tersebut kita mengetahui bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki keterkaitan yang sangat erat; dan untuk mendapatkan kebaikan serta kesejahteraan di butuhkan kerja keras dan kesabaran dalam apapun itu, semoga bermanfaat.

