Writerpreneur: Menggali Kreativitas Menjadi Produktivitas
Sesuatu yang bermakna dari adanya aktivitas adalah energi; yakni sebagai kekuatan yang membawa ke arah perubahan. Apapun aktivitas yang dilakukan dan diawali dengan energi dan niatan kebaikan, maka akan mencipta suatu hasil yang luar biasa. Sehingga ungkapan hasil tidak akan mengkhianati usaha/ ikhtiar benarlah adanya.
Ketika kata menjadi kalimat yang tersusun, menjadi suatu makna menghadirkan habit atau kebiasaan yang terus menerus dilakukan maka terciptalah apa yang namanya energi. Energi ini dibangun karenan adanya motivasi/ dorongan untuk melakukan aktivitas. Begitupun ketika hal ini di terapkan pada dunia kepenulisan. Orang tidak hanya mengandalkan bakat dan hobi, tapihahrus diasah /dilatih agar dapat berkembang dan menjadi suatu pembiasaan.
Dalam konsep manajemen Sumber Daya Manusia, dikenal istilah karakter. Sebuah kata yang dimulai dari proses berpikir melalui Tindakan; serta bermuara pada kebiasaan, maka terciptalah apa yang dinamakan karakter. Konsistensi yang dilakukan dengan ragam situasi seseorang yang diperkuat dengan internalisasi nilai yang diyakininya dan terwujud melalui sikap/ tindakan.
…
Di saat orang lebih banyak memiliki pertanyaan dibanding jawaban maka ruang yang dibutuhkan adalah budaya saling; saling membagi informasi, saling menjelaskan sudut pandang, saling berinteraksi, saling silaturahmi dan hal lain yang menguatkan.
Ragam kisah orang dinarasikan sebagai upaya mendokumentasikan, menuangkan ide/kreatifitas, serta upaya-upaya lain yang terus dibangun dengan kesadaran penuh akan pentingnya budaya. Demikian pula dalam hal menulis.
Dunia kepenulisan mengambil peran dalam membangun suatu peradaban. Sebab transformasi ilmu, nilai, tatanan sosial dan pencerahan lain akan banyak hadir dari khasanah ilmu melalui karya berupa tulisan/ narasi.
Kita mengenal tokoh-tokoh yang hadir tentunya dari karya kepenulisannya; baik dari ruang non fiksi (artikel, esai dan lainnya) maupun ruang fiksi (cerpen, novel dan lainnya) seperti JK Rowling (penulis karya Harry Potter berseries menjadi produktif dalam karyanya), Andrea Hirata dalam karyanya Laskar Pelangi, dan masih banyak contoh lainnya.
Menulis adalah seni dalam mengaktualisasikan ide-mengintegrasikan rasa dan mencipta karya. Menulis tidak hanya sekedar menulis, namun tanpa memulai menulis tidak akan ada karya tercipta. Artinya menulis yang diawali dengan suatu arahan atau rangka berpikir yang tertata/ sistematis meskipun itu sederhana maka makna atau pesan dapat disampaikan penulis kepada pembacanya sehingga menjadikan tulisan itu bermakna.
…
Sama halnya ketika seorang anak belajar bagaimana membuat gambar atau coretan yang dituliskannya; maka penguatan syibol berupa kumpulan titik ada koma, variasi warna akan membawa pesan bagi siapapun yang melihatnya. Unsur kreatifitas di sini menjadi penguat dari lahirnya karya.
Ide/ gagasan dapat terwujud dari tradisi lisan saat berbicara yang tersampaikan melalui tulisan. Tokoh seperti WS Rendra, misalnya. Melalui puisinya dengan bahasa yang sederhana namun penuh makna mampu menggetarkan sanubari siapapun yang mendengarnya secara langsung saat puisi tersebut dibacakan begitupun saat puisi dibaca dari karya sastra bukunya.
Seorang tokoh sastrawan Inggris bernama William Wordsworth mengungkapkan “Isilah kertasmu dengan nafas hatimu”. Bahwa setiap orang mampu menemukan ide/ gagasan untuk selanjutnya ditulis dalam ragam cara/ kreasi masing- masing. Ada yang ditulis menjadi lembar catatan harian saja, namun ada pula yang ditulis melalui media yang dapat dibagikan untuk orang lain.
Maka menulislah, maka kebiasaan ini akan melahirkan suatu profesi. Saat mengkomunikasikan ide/ gagasan yang tertuang melalui tulisan dapat menjadi suatu profesi bernama writerpreneur. Istilah writerpreneur merupakan seorang yang secara berkesadaran penuh menjadikan keterampilannya untuk mencipta usaha atas kreativitas yang dimiliki. Saat ini mengubah kreativitas menjadi suatu profesi adalah upaya yang dapat dilakukan oleh siapapun yang memiliki keterampilan/ kompetensi tertentu; sehingga produktivitas pun kian meningkat. Untuk tetap eksis menjadi writerpreneur, maka daya tahan menjadi kunci keberhasilan.
…
Daya tahan dan daya juang seorang writerpreneur dapat terfokus pada beberapa hal berikut: Pertama, tetaplah positif dalam membangun pola pikir, optimis dan teruslah fokus pada niatan awal bahwa menulis adalah magnet menebar kebaikan.
Kedua, tetaplah sibuk bergerak dalam membangun ide/ gagasan kreatif. Ketiga, tetaplah fokus untuk membuat hal yang lebih baik lagi dari sebelumnya, sehingga kualitas tulisanpun semakin baik. Keempat, tetaplah membangun komunikasi- jaringan luas untuk menguatkan kontribusi keterampilan yang dimiliki.
Kelima, tetaplah bertahan dengan pilihan terbaik untuk menjadi seorang penulis; sebab kematangan dalam pengalaman akan semakin menjadikan narasi semakin teruji, berkualitas dan dinikmati oleh pembaca.
Writerpreneur adalah proses panjang yang kadang berliku di saat mengkomunikasikan ide/ gagasan kepada pembaca. Untuk menyelaminya lebih dalam seorang writerpreneur memiliki pikiran dan hatinya untuk selalu terhubung dengan dinamika yang berjalan di masyarakat.
Sebagai starting point dalam narasi tentang writerpreneur, ada kutipan inspiratif dari seorang Novelis bernama Toni Morrison “Jika ada satu buku yang benar-benar ingin dibaca namun belum pernah ditulis, maka Anda sendiri yang harus menulisnya”, bukankah demikian?

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Mahasiswa Program Doktoral Universitas Airlangga Surabaya
