f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
insyaallah

Syawal, Gerbang Pembuktian Ketakwaan

Oleh : Nasaruddin*

Saat ini, kita sudah mulai memasuki paruh kedua bulan Syawal. Artinya, sudah lebih setengah bulan kita meninggalkan Ramadan. Bersamaan dengan itu, hampir seluruh geliat keagamaan kita sudah kembali seperti semula, seperti sebelum Ramadan datang. Jamaah salat berjamaah di mesjid dan langgar kembali seperti semula: orangny itu-itu saja dan jumlahnya segitu-gitu saja. Semarak suara tadarus Al-Qur’an yang ketika Ramadan kerkumandang tiap malam kini tidak terdengar lagi. 

Di jalanan, orang-orang yang membagikan makanan dan minuman gratis tidak terilhat lagi. Di layar TV juga begitu. Acara-acara religius sudah tidak tayang lagi. Para host, artis, dan bintang tamu tidak lagi berbusana muslim.

Ramadan selalu seperti itu. Ia datang membawa kemarakan spiritual yang begitu massif. Mengondisikan semua sisi kehidupan dalam atribut keislaman yang luas dan kompak. Melejitkan dengan tiba-tiba semangat kita untuk beribadah. Inilah hebatnya spirit Ramadan.

Namun, sebagaimana datangnya, geliat keagamaan tersebut juga pergi dan berlalu juga dengan massif dan tiba-tiba. Ketika senja terakhir Ramadhan pergi dan fajar pertama Syawal menjelang, segala bentuk kemarakan itu meninggalakan hampir semua sisi kehidupan kita. Gema takbir seakan menjadi tirai terakhir yang membentangkan tulisan “Selamat tinggal, Ramadan.”

Ibadah puasa Ramadan yang disyariatkan dalam rentang dan batas waktu tertentu memang identik dengan fenomena seperti itu. Ibadah-ibadah lain yang menyertainya seperti salat tarawih juga hanya dilakukan dalam bulan Ramadan. Tapi di luar itu, hampir semua ibadah yang semarak kita lakukan selama Ramadan bukanlah ibadah khas Ramadan yang tidak diperintahkan di bulan lain. 

Ibadah-ibadah itu antara lain salat berjamaah, bersedekah, salat malam, membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an, dll. Ibadah-ibadah ini adalah ritual seumur hidup, sehingga jangan sampai hanya menjadi amalan atau ritual Ramadan saja.

Baca Juga  Bolehkah Perempuan Berhaji atau Umrah Tanpa Mahramnya?

Kalau ibadah-ibadah tersebut kita lakukan dengan intensitas tinggi di bulan Ramadan lalu kita lanjutkan di luar Ramadan dengan intensitas sedang mungkin masih bisa dimaklumi. Membaca Al-Qur’an contohnya, di bulan Ramadan biasanya kita bisa khatam lebih dari satu kali, tapi di luar ramadan kita butuh lebih dari satu bulan untuk sekali khatam.

Yang harus kita jauhi adalah meninggalkan sama sekali ibadah-ibadah tersebut begitu kita meninggalkan Ramadan. Salat berjamaah di mesjid misalnya, tidak sedikit orang yang melaksanakannya hanya di bulan Ramadan. Begitu juga dengan mengaji Al-Qur’an, tidak sedikit yang melalukannya hanya pada saat tadarus usai salat Tarawih. Setelah itu, saat Ramadan berlalu, bahkan sampai Ramadan kembali, ritual mengaji Al-Qur’an tersebut tidak pernah lagi dilakukan. Wal’iyadzu Billahi.

Melanjutkan ibadah-ibadah di luar Ramadan harus kita lakukan bukan hanya karena ibadah-ibadah tersebut juga diperintahkan di luar Ramadan, tapi lebih dari itu, hal tersebut merupakan cerminan sikap takwa yang merupakan tujuan dan hikmah utama dari ibadah puasa Ramadan. 

Takwa itu sendiri adalah ekspresi spiritual yang  tidak dibatasi ruang dan waktu tertentu. Ia harus tercermin dalam seluruh gerak hidup seorang hamba. Hal ini dengan jelas tersirat di balik ciri-ciri orang yang bertakwa yang ditegaskan Allah dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran 133-135, yaitu: (1) Berinfak dalam segala kondisi, (2) Menahan amarah, (3) Memaafkan orang lain, (4) Jika berbuat dosa segera mengingat Allah, meminta ampun kepada-Nya, dan tidak mengulangi dosa yang diperbuat.

Empat ciri ketakwaan tersebut tak satu pun yang terikat ruang dan waktu tertentu. Semuanya adalah ibadah untuk segala kondisi, tempat dan waktu. Artinya, ciri utama tercapainya derajat takwa sebagai tujuan ibadah puasa Ramadan adalah berlanjutnya ibadah-ibadah Ramadan di bulan-bulan lain setelahnya.

Baca Juga  Mencari Kenikmatan dalam Beribadah

Takwa itu sendiri, dalam definisi yang paling populer di kalangan ulama, adalah melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Oleh karena perintah dan larangan Allah mengiringi seluruh gerak hidup kita, takwa pun harus tercermin dalan keseluruhan gerak hidup kita.

Rasulullah, dalam salah satu haditsnya, juga menegaskan bahwa takwa adalah perintah di segala waktu, kondisi, dan tempat. Beliau bersabda, “Ittaqillaha haitsuma kunta,” bertqwalah kepada Allah kapan pun, dimana pun, dan dalam kondisi apa pun kamu berada.

Keberadaan takwa sebagai perintah yang tidak terikat waktu ini kemudian menjadikan masa pasca Ramadan begitu penting. Bulan-bulan setelah Ramadan menjadi ajang pembuktian apakah puasa Ramadan akan mengantarkan kita kepada derajat takwa atau tidak. Kalau di sebelas bulan pasca Ramadan kita mampu menjaga spirit Ramadan kita, insyaallah, kita termasuk hamba-Nya yang meraih derajat takwa tersebut. 

Sebaliknya, jika spirit Ramadan itu redup begitu Ramadan berlalu, berarti kita kehilangan ciri ketakwaan itu sendiri, yaitu konsistensi spiritual. Kita tak lebih dari apa yang disebut “Ramadaniyyiin”, yaitu orang-orang yang beribadah kepada Allah dengan spiritualitas musiman (hanya selama Ramadan), dan ini tentu bukan karakter orang yang bertakwa.

Dalam konteks ini, bulan Syawal sebagai bulan pertama pasca Ramadan menjadi semacam gerbang pembuktian ketakwaan itu sendiri. Bagi orang-orang yang berkomitmen menjaga spirit Ramadannya, Syawal adalah awal pengembaraan spiritual yang menantang. Mereka ditantang untuk membuktikan spirit takwa yang sudah fully-charged selama Ramadan.

Tantangan pertama di bulan Syawal adalah puasa sunnah enam hari. Puasa Syawal adalah pembuktian pengendalian diri yang merupakan salah satu hikmah inti dari puasa Ramadan. Walaupun hanya enam hari, puasa Syawal adalah tantangan berat. Karena dilakukan pada saat kebanyakan orang larut dalam euforia kuliner setelah sebulan penuh terkekang lapar dan dahaganya. Karena tantangannya berat, puasa Syawal ganjarannya besar, yaitu menambah kredit pahala puasa Ramadan menjadi seperti puasa satu tahun.

Baca Juga  Rahasia di Balik 3 Amalan Doa Saat Sujud Terakhir

Tantangan untuk terus menjaga spirit Ramadan dalam ibadah-ibadah lain juga tidak bisa dibilang ringan, seperti salat berjamaah, mengkhatamkan Al-Qur’an, puasa Senen Kamis, dll. Bulan Syawal, sekali lagi, adalah gerbang yang menentukan bagi kita untuk secara istikamah melanjutkan spirit Ramadan dalam rangka mewujudkan dan membuktikan ketakwaan kita. Wallahu A’lam.

*)Dr. Nasaruddin, M.Ed., adalah dosen tetap UIN Sunan Ampel Surabaya. Pemilik website www.lisanarabi.net. Kontributor tetap blog Pembelajaran. Bahasa Arab di situs berita aljazeera.net. yang berbasis di Qatar.

Bagikan
Post a Comment