f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
panduan iduladha

Panduan Penyelenggaraan Ibadah Iduladha 1441 H/2020

Dalam rangka penyelenggaraan Ibadah Iduladha dan penyembelihan hewan kurban tahun 1441 H/2020 M, dimana wabah Corona Virus Disease (Covid-19) belum mereda. Oleh karenanya, diperlukan panduan menyesuaikan penerapan protokol kesehatan. Diharapkan pelaksanaan rangkaian ibadah Iduladha 1441 H/2020 yang meliputi Shalat Iduladha dan Penyembelihan Hewan Kurban dapat berlangsung aman sesuai tuntunan agama Islam dan protokol kesehatan untuk meminimalisir resiko penyebaran Covid-19 akibat terjadi kerumunan dalam satu lokasi.

Adapun beberapa panduan mengenai rangkaian Ibadah Iduladha sebagai berikut.

Panduan Takbir Iduladha

1.    Setiap muslim disunahkan untuk menghidupkan malam Iduladha dengan takbir, tahmid, tahlil menyeru keagungan Allah SWT, dan memperbanyak doa.

2.    Waktu pelaksanaan takbir Hari Raya Iduladha dimulai sejak terbenamnya matahari tanggal 10 Dzulhijjah sampai 13 Dzulhijjah.

3.    Pelaksanaan takbir bisa dilaksanakan sendiri atau bersama-sama, dengan cara jahr (suara keras) atau sirr (pelan).

4.    Dalam situasi pandemi Covid-19 pelaksanaan takbir keliling ditiadakan.

5.    Demi menjaga kesehatan dan kemaslahatan bersama, takbir sebaiknya dilaksanakan di rumah masing-masing.

6.    Dalam kondisi tertentu takbir dapat dilaksanakan di masjid/mushola yang telah mendapatkan Surat Keterangan Aman Covid-19 dari gugus tugas setempat dan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Panduan Shalat Iduladha

1.    Ketentuan Hukum

a.    Shalat Iduladha hukumnya sunah muakkadah yang menjadi salah satu syi’ar keagamaan.

b.    Shalat Iduladha disunahkan bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak, sedang di kediaman ataupun sedang bepergian (musafir) secara berjamaah maupun secara sendiri (munfarid).

2.    Ketentuan Shalat Iduladha dalam Suasana Pandemi Covid-19

a.    Shalat Iduladha dalam suasana pandemic Covid-19 dilaksanakan di rumah dan/atau perumahan.

b.    Shalat Iduladha dapat dilaksanakan di masjid dan mushala dengan ketentuan:

1)   Telah mendapatkan Surat Keterangan Aman Covid-19 dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 setempat.

2)   Menyiapkan petugas untuk melaksanakan, menginformasikan dan mengawasi penerapan protokol kesehatan selama ibadah berlangsung.

3)   Membatasi jumlah pintu/jalur keluar masuk tempat pelaksanaan guna memudahkan penerapan dan pengawasan protokol kesehatan.

4)   Menyediakan fasilitas cuci tangan pakai sabun/hand sanitizer di pintu/jalur masuk dan keluar.

5)   Menyediakan alat pengecekan suhu tubuh di pintu/jalur masuk. Jika ditemukan jamaah dengan suhu >37,5 (dua kali pemeriksaan dengan jarak 5 menit) tidak diperkenankan memasuki area tempat pelaksanaan.

6)   Menerapkan pembatasan jarak dengan memberikan tanda khusus minimal jarak 1 (satu) meter.

7)   Mempersingkat pelaksanaan Shalat dan Khutbah Iduladha tanpa mengurangi ketentuan syarat dan rukunnya. Materi khutbah dianjurkan berupa ajakan untuk meningkatkan semangat berkurban meskipun dalam situasi pandemi Covid-19.

8)   Tidak mewadahi infak/sedekah jamaah dengan cara menjalankan kotak, karena berpindah-pindah tangan rawan penularan penyakit.

9)   Penyelenggara memberikan himbauan kepada masyarakat tentang protokol kesehatan pelaksanaan Shalat Iduladha yang meliputi:

a)    Jamaah dalam keadaan sehat.

b)   Melakukan wudhu dari rumah masing-masing.

c)    Membawa sajadah/alas shalat dan wadah untuk alas kaki masing-masing.

d)   Menggunakan masker sejak keluar rumah dan selama berada di area tempat pelaksanaan.

e)    Menjaga kebersihan tangan dengan sering mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer.

f)    Menghindari kontak fisik, seperti jabat tangan atau berpelukan.

g)   Menjaga jarak antar jamaan minimal 1 (satu) meter.

h)   Menghimbau untuk tidak mengikuti shalat Iduladha bagi anak-anak dan warga usia rentan tertular penyakit, serta orang dengan sakit bawaan yang beresiko tinggi terhadap Covid-19.

Pemotongan Hewan Kurban oleh Masyarakat

1.    Hewan kurban yang akan disembelih dan berasal dari luar kota wajib dilengkapi dengan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari instansi yang berwenang di daerah asal.

2.    Memperhatikan protokol kesehatan di fasilitas pemotongan hewan kurban.

3.    Memberitahukan tempat pemotongan hewan kurban kepada pemerintah kota melalui Dinas Pertanian dan Pangan ditembuskan ke camat lurah setempat dilampiri dengan data panitia serta layout tempat pemotongan hewan.

4.    Data panitia terdiri dari nama, alamat lengkap, dan nomer telepon yang bisa dihubungi, sementara layout terdiri dari pintu masuk, penurunan sapi, kandang istirahat, tempat penyembelihan, pengulitan, pembersihan, dan penanganan jerohan hijau, penanganan jeroan merah, penanganan daging, pengepakan daging, pintu keluar daging, dan tempat pembuangan limbah (padat dan cair).

5.    Panitia menyediakan petugas pengawas pelaksanaan protokol kesehatan selama kegiatan berlangsung.

6.    Melakukan pengukuran suhu tubuh (screening) di setiap pintu masuk tempat pemotongan dengan alat ukur suhu non-kontak (thermogun) oleh petugas pengawas pelaksanaan protokol kesehatan dengan memakai alat pelindung diri (masker).

7.    Setiap orang harus menggunakan alat pelindung diri paling kurang berupa masker sejak perjalanan dari/ke rumah, dan selama di tempat pemotongan hewan kurban.

8.    Setiap orang yang memiliki gejala demam, nyeri tenggorokan, batuk, pilek, sesak nafas dilarang masuk ke tempat pemotongan hewan kurban.

9.    Petugas pemotongan hewan kurban diutamakan berasal dari lingkungan temapat tinggal yang sama dan tidak dalam masa karantina mandiri.

10.              Apabila petugas pemotongan hewan kurban berasal dari luar lingkungan tempat tinggal, harus menyertakan surat keterangan sehat dari dokter praktik atau puskesmas atau rumah sakit pemerintah atau swasta dari daerah asal.

11.              Luas pemotongan hewan kurban disesuaikan dengan jumlah dan jenis hewan. Untuk kambing/domba luas minimal 1 meter persegi per ekor sementara sapi minimal dua meter persegi per ekor.

12.              Menyediakan fasilitas cuci tangan sabun cair di setiap akses masuk atau tempat yang sudah terjangkau.

13.              Melakukan pembersihan dan desinfeksi dengan melakukan pembersihan secara berkala pada peralatan yang digunakan bersama dan area fasilitas umum lainnya.

14.              Mengatur kepadatan dengan membatasi jumlah panitia dalam pelaksanaan pemotongan hewan kurban.

15.              Pengaturan jarak minimal 1 meter antar petugas pada saat melakukan aktifitas pengulitan, pencacahan, penanganan, dan pengemasan daging.

16.              Tempat pemotongan hewan harus disediakan kandang peristirahatan yang terpisah dari tempat penyembelihan agar hewan tidak stres serta dilengkapi fasilitas peneduh agar hewan terhindar dari panas, hujan, dan angin serta disediakan minum untuk hewan kurban.

17.              Petugas yang berada di area penyembelihan dan penanganan daging dan jeroan harus dibedakan.

18.              Petugas yang melakukan pengulitan, penanganan dan pencacahan karkas/daging dan jeroan harus menggunakan alat pelindung diri berupa masker dan dianjurkan menggunakan face shield, sarung tangan sekali pakai, celemek, dan penutup alas kaki/sepatu (cover shoes), serta menghindari menyentuh wajahnya utamanya mata, hidung, telinga, dan mulut, serta sesering mungkin melakukan cuci tangan memakai sabun.

19.              Panitia menjaga kebersihan tempat pemotongan dan peralatan yang akan maupun yang telah digunakan dengan desinfektan, membuang kotoran dan/atau limbah pada fasilitas penanganan kotoran/limbah.

20.              Menjamin kebersihan hewan kurban sebelum disembelih dengan cara memandikan hewan kurban/membersihkan dengan air dan menyemprot tali pengikat dengan desinfektan.

21.              Tempat pemotongan hewan disediakan lubang penampungan darah, lubang penampungan limbah padat dan cair, fasilitas air mengalir dan sarana pengolahan jeroan hijau. Limbah jeroan hijau dimaksud dilarang untuk dibersihkan/dibuang di saluran air hujan dan sungai.

22.              Pendistribusian daging kurban dilakukan oleh panitia ke rumah mustahik dengan mempergunakan wadah ramah lingkungan dan bebas B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya).

23.              Dianjurkan daging hewan hanya untuk dibagikan di wilayah sekitar.

24.              Apabila terjadi kematian yang tidak dikehendaki dari hewan kurban panitia harus melaporkan kepada Dinas Pertanian dan Pangan ditembuskan ke camat dan lurah setempat dan bertanggung jawab atas penanganan terhadap bangkai hewan tersebut.

25.              Petugas harus segera membersihkan diri (mandi dan mengganti pakaian) sebelum kontak langsung dengan keluarga/orang lain.

Sumber:

Pemerintah Kota Yogyakarta dan BAZNAS Kota Yogyakarta. (2020). Buku Panduan Penyelenggaraan Ibadah Idul Adha 1441 H/2020 M. Yogyakarta: Pemerintah Kota Yogyakarta dan BAZNAS Kota Yogyakarta.

Bagikan
Post a Comment