f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
standar ketakwaan

Standar Ketakwaan Bukan Soal Ibadah !

Standar ketakwaan di dalam konsep agama, Iman (Faith) memegang peranan pokok dan mendasari segala keseluruhan sistem tata nilai dan perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Salah satu penjelasan tentang konsep iman (sikap percaya) seperti yang sering kita dengar, yakni iman sebagai sesuatu yang dibenarkan oleh hati, diikrarkan oleh lisan, dan diamalkan dengan anggota badan.

Melalui definisi di atas, kita dapat menangkap setidaknya ada tiga unsur pokok dalam konsep iman. Yaitu mempercayai segala kebenaran dan risalah agama dengan sepenuhnya (unsur hati). Mengucapkan secara verbal pernyataan dua kalimat syahadat (unsur lisan), dan yang terakhir mewujudkannya dalam bentuk kegiatan konkrit sehari-hari (unsur amal perbuatan). Ketiganya merupakan satu kesatuan yang membentuk pandangan hidup dan sikap hidup setiap orang beragama.

Pandangan dan sikap hidup akan melahirkan apa yang disebut taqwa, yang secara sederhananya dimaknai sebagai sikap ketaaatan kepada Allah. Wujudnya yaitu melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena itu, sebagai konsekuensi lanjutan dari adanya sifat taqwa dan iman adalah dengan mewujudkannya dalam suatu bentuk ibadah.

Ibadah, yang juga biasa disebut sebagai ritus atau tindakan ritual inilah yang menjadi aspek penting dari setiap agama. Ibadah dalam maknanya dikenal oleh masyarakat adalah suatu tata cara amal perbuatan atau kegiatan yang bersifat khas keagamaan. Dalam pengertian yang lebih luas, ibadah juga mencakup keseluruhan kegiatan dan tindakan manusia sehari-hari di dunia di luar kegiatan keagamaan.

Standar Ketakwaan: Keshalehan Pribadi dan Keshalehan Sosial

Namun sayangnya, seringkali banyak orang yang memahami penyembahan dan ketaatan kepada Allah hanya sebatas ritus-ritus keagamaan rutin semata; yang sifatnya individu dan pribadi, tetapi melupakan aspek sosial dalam tujuannya. Standar ketakwaan disematkan kepada mereka yang sangat rajin melaksanakan shalat dan puasa tetapi dalam kesehariannya ia berperilaku tidak baik.

Dari sini muncul pertanyaan menarik, apakah standar ketakwaan seseorang dapat dinilai hanya berdasarkan ibadah ritualnya semata; Ataukah ada hal lain yang menjadi patokannya?

Perubahan arah Kiblat dan Keheranan Ummat Yahudi

Mari kita lihat peristiwa yang terjadi ketika nabi masih hidup. Pada masa awal paska hijrah ke kota Madinah, shalat masih dilakukan dengan menghadap ke Yerusalem (Baitul maqdis) sebagai arah kiblatnya. Tetapi kemudian, turun wahyu yang memerintahkan perpindahan arah kiblat, agar sholat menghadap ke arah Ka’bah di kota Mekkah. Perintah ini tentu saja menimbulkan keheranan di kalangan penduduk Yahudi Madinah pada waktu itu. Mereka kemudian mempertanyakan : “Apakah mungkin agama yang dengan gampangnya merubah kiblat adalah agama yang benar autentik dari Tuhan?”

Untuk menjawab persoalan ini, kemudian turun suatu ayat panjang yang terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 177 yang artinya:

“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan ke Barat; tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat; kitab-kitab, dan nabi-nabi memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat; anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir); peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”.

Kebaikan yang Bersifat Substansial

Ayat tersebut dipandang sebagai penegas bahwa arah kiblat bukanlah hal yang prinsipil. Yang lebih menarik, jika dicermati dalam ayat ini kita menemukan apa yang dimaksud dengan Al-Birr (kebaikan) secara lebih substansial. At-Thabari dalam kitab tafsirnya menjelaskan, bahwa frasa “menghadapkan wajah ke Barat dan ke Timur” adalah metafora yang digunakan untuk menggambarkan ibadah lahiriah/simbolis seperti sholat dan yang lainnya.

Senada dengan itu, Muhammad Asad juga mengomentari ayat ini sebagai penegasan bahwa standar ketakwaan dalam bentuk ritual ibadah belum memenuhi persyaratan kesalehan. Bahkan Yusuf Ali mengatakan bahwa; ayat ini adalah sebagai wanti-wanti dari Al-Qur’an, agar dalam beragama jangan terjebak kepada suatu formalisme mati; yang memusatkan perhatian hanya kepada ibadah ritual dan mengesampingkan nilai kebaikan lain di luar itu.

Fungsi Ibadah merupakan Jembatan yang Menengahi antara Konsep Iman yang Abstrak dengan Amal Perbuatan yang Konkrit.

Tujuan utama ibadah bukanlah terletak pada ibadah itu sendiri, karena ia hanyalah simbol beragama yang lahiriah semata. Tujuan utamanya adalah membentuk manusia yang berakhlak baik. Inilah alasan mengapa frasa dalam Al-Qur’an, selalu menyandingkan iman dengan amal sholeh. Karena tanpa amal sholeh, iman hanyalah konsep abstrak yang tidak membumi. Dan sebaliknya amal sholeh tanpa didasari iman, hanyalah bentuk perbuatan lahiriah yang kosong tanpa makna dan esensi.

Oleh karenanya, adalah suatu kesalahan yang fatal apabila memisahkan antara iman dan amal sholeh. Serta antara kesalehan individu dengan kesalehan sosial. Karena seperti yang telah dikatakan oleh Nabi sendiri, bahwa misi utama ia diutus ke muka bumi adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Aspek inilah yang seringkali dilupakan oleh mereka yang menjalani kehidupan agamanya; mereka hanya melihat aspek agama yang transendental. Tetapi melupakan aspek agama yang menghendaki penganutnya untuk menjadi manusia beretika, bermoral, dan memiliki kepedulian sosial.

Lebih tegas lagi, ibadah yang semata dilakukan hanya untuk kepentingan pribadi namun tidak melahirkan kepedulian sosial adalah sia-sia belaka. Bahkan dalam tingkat yang lebih ekstrem orang seperti ini dikatakan sebagai orang yang “mendustakan agama”. Selain memiliki dimensi vertikal kepada tuhan (hablumminallah), ibadah juga memiliki dimensi horizontal kepada sesama manusia (hablumminannas).

Jika seseorang betul-betul beriman dan bertakwa, maka dengan sendirinya ia akan terdorong untuk mewujudkan imannya dalam bentuk amal perbuatan yang baik. Memiliki etos kerja yang baik, jujur, tepat waktu, saling membantu sesama dan amanah dalam tugas adalah beberapa contoh kecil dari bentuk sikap keimanan yang otentik.

Sebaliknya jika dalam keseharian kita masih memiliki sifat ingkar janji, menyakiti orang, bekerja dengan tidak profesional, dan lainnya. Maka keimanannya belum utuh dan perlu dikoreksi.

Standar Ketakwaan Bukan Berteriak Haram Sekularisme

Sebagian dari kita bahkan dengan lantang meneriakkan bahaya sekularisme, tetapi secara tidak sadar dan diam-diam juga sedang melakukan sekularisasi (dalam maknanya yang sempit) dengan memisahkan antara keimanan dengan akhlak dan amal baik. Akibatnya agama sekedar menjadi ritual ibadah kosong yang tidak membawa perubahan apa-apa kepada diri pribadi dan masyarakat.

Ibadah ritual hanya sarana, akhlak dan amal baiklah tujuan utamanya. Orang lain tidak perlu tahu dan tidak peduli apakah si A sholat malam setiap hari, atau berapa jumlah puasa yang telah dijalaninya. Semua itu jadi rahasia pribadi antara hamba dan Tuhannya di bilik kecil rumahnya masing-masing. Dalam urusan antar sesama manusia, hal itu tidak perlu terlihat dan orang hanya akan melihat perbuatan nyata yang orang tersebut lakukan dalam hidupnya sehari-hari, dan itulah contoh ketakwaan yamg sebenarnya.

Jika engkau berbuat baik, orang lain tidak akan bertanya tentang agamamu dan berapa kali engkau ibadah dalam sehari. Tetapi orang akan mempertanyakan agamamu jika engkau rajin ibadah, tetapi tidak menjalankan isi ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.

Wa Fawqa kulli dzi ‘ilmin ‘alim
Wallahu a’lam bis showwab

Bagikan
Post a Comment