f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
literasi

Nasib Literasi itu Lebih dari Sekedar Tumpukan Buku

Literasi tidak selalu menyoal berapa lembar halaman buku yang kita baca, karena literasi lebih dari itu.

Sering kita mendengar ungkapan “buku adalah jendela dunia”, “buku itu jembatan ilmu”, dan lain sebagainya. Ada banyak kalimat motivasi yang mungkin bisa disebutkan dalam rangka meningkatkan minat baca seseorag. Dan ujungnya adalah upaya meningkatkan literasi. Tidak ada yang salah, tapi coba kita cermati dari sudut pandang yang lain. Sudut pandang yang tidak hanya berfokus pada membaca dan buku, tapi juga tentang literasi yang kerap disalahpahami.

Perihal literasi kita sebenarnya bisa memandangnya dengan sudut pandang yang utuh hanya dengan membaca definisi literasi itu sendiri. KBBI mendefinisikan literasi sebagai kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Dari sini kita bisa melihat bahwa literasi bukan sekedar menambahkan informasi, tetapi juga mengolahnya untuk kehidupan sehari-hari. Membaca buku memang bisa menambah wawasan, ilmu, dan pengetahuan, tapi tidak cukup dikatakan sebagai bagian dari literasi sampai akhirnya membentuk kecakapan. Dan yang lebih penting adalah terdapat penegasan bahwa literasi itu bukan hanya tentang ilmu tapi juga amal (kecakapan hidup).

Maka, apalah artinya ilmu tanpa amal.

Jadi literasi tidak diukur hanya dari berapa lembar halaman buku yang sudah dibaca. Literasi bicara bagaimana seseorang memasukkan informasi yang bisa dilakukan melalui aktifitas membaca buku, koran, artikel, jurnal penelitian, seminar, webinar, dan lain-lain. Lalu informasi itu diolah hingga kemudian ada output berupa tindakan. Jika informasi itu belum banyak berpengaruh pada bagaimana kita bertindak, maka dia bersifat pengetahuan. Kita hari ini tidak kekurangan ilmu dan pengetahuan. Ilmu begitu banyak bertebaran dalam gawai kita. Tapi berapa banyak dari ilmu-ilmu itu yang jadi tindakan, karya, amal, dan kebermafaatan. Jangan-jangan kita sibuk menambah informasi setiap hari menjadi selayaknya tumpukan di pojok ruangan otak. Tidakkah pernah berpikir bahwa selalu ada nilai pertanggungjawabannya kelak di hadapan Tuhan.

Baca Juga  Orang Tua dan Kekerasan Seksual pada Anak

Tidak ada yang salah dari membaca buku, membaca buku itu tetap penting. Membaca buku bisa membuat wawasan kita bertambah. Membaca buku membuat otak kita terbiasa untuk berfikir secara sistematis dan terstruktur. Terlebih kita berada di era banjirnya informasi yang sangat acak satu dengan yang lainnya. Buku mengajarkan kita untuk lebih fokus dan mendalam pada disiplin ilmu tertentu. Dari buku kita juga belajar melihat, bahwa realitasnya pikiran manusia itu sangat beragam untuk satu tema atau disiplin lmu yang sama. Bahkan tak jarang juga bertentangan. Itu dari buku-buku nonfiksi

Dari buku fiksi kita bisa belajar bahwa tidak semua cerita berakhir dengan bahagia dan itu hal yang biasa. Ini seperti gambaran realitas dunia yang sesungguhnya. Buku memang jendela dunia, sebab buku mampu menampakkan realitas dalam genggaman tangan. Kita akan mengenal pikiran orang lain melalui karya-karya mereka yang kita baca. Tapi literasi bukanlah memindahkan isi pikiran orang lain kedalam pikiran kita. Informasi itu perlu diolah, dikoneksikan, bahkan kadang perlu dibenturkan dengan pikiran atau informasi yang kita peroleh sebelumnya. Hingga akhirnya, informasi; pengetahuan; atau ilmu itu bisa menjadi salah satu landasan pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya menjadi keputusan yang bisa lebih dipertanggungjawabkan pada akhirnya.

Bagikan
Post a Comment