f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
narima ing pandum

Narima Ing Pandum, Penguatan Aqidah di Masa Pandemi

Orang Jawa banyak terkenal dengan falsafah hidupnya. Istilah modern-nya untuk anak milenial mungkin bisa disebut quotes.  Salah satunya adalah “Narima Ing Pandum”, satu dari sekian banyak falsafah hidup Jawa yang terkenal dan familar. Pasti sudah pernah dengar, bukan?

Narima ing pandum berkaitan erat dengan aspek spiritual yang melahirkan sebuah nilai fundamental dan tidak lekang ditelan zaman (Koentjaraningrat, 1990).  Masyarakat Jawa mengartikan falsafah narima ing pandum sebagai sebuah sikap penerimaan secara penuh terhadap segala kejadian di masa lalu, masa kini, maupun segala hal dan kemungkinan yang bisa terjadi dimasa yang akan datang.

Dewasa ini masyarakat menjadi jarang memiliki sifat narima ing pandum. Kebanyakan orang menjadi mudah berputus asa dan mengeluh ketika segala sesuatu tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan.

Di era revolusi 4.0 di mana segala sesuatu menjadi serba digital dan penuh akan teknologi yang dirancang untuk memudahkan kehidupan; menjadi salah satu penyebab seseorang ingin segala sesuatu sesuai dengan kehendak dan instan.

Dalam Islam sendiri, Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a pernah berkata “Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap pada manusia”. Dari sini kita bisa belajar bahwa hidup tidak selamanya dapat menaruh harap terhadap manusia.

Aqidah sendiri dalam Islam menjadi sesuatu yang sangat mendasar. Aqidah menjadi salah satu tolak ukur bagi manusia untuk melaksanakan kehidupannya sebagai seorang muslim. Semakin baik aqidah seseorang dapat dikatakan semakin baik pula hubungannya dengan Tuhan.

Peningkatan aqidah di masa pandemi menjadi salah satu yang harus dilakukan. Selain sebagai pilihan untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta, aqidah yang kuat membuat seseorang dapat menjalankan kehidupannya dengan baik.

Baca Juga  Tiga Sebab Turunnya Al-Qur'an
Pandemi, Mengajarkan untuk Menerima dan Bersyukur

Pandemi Covid-19 bukanlah keinginan setiap orang. Baik bagi mereka yang bekerja maupun hidup sebagai pelajar. Manusia merupakan makhluk Tuhan yang memang diciptakan sebagai makhluk sosial. Dikutip dari Wikipedia, Aristoteles menyebutkan bahwa manusia dikodratkan untuk hidup dengan bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain, hal ini menjadi sesuatu yang membedakan manusia dengan hewan. Sehingga manusia tidak mungkin dapat dijauhkan dengan interaksi satu sama lain.

Namun, ketika Covid-19 datang sebagai salah satu bentuk ujian, manusia harus kembali menyadari jika ilmu saja tidak cukup untuk meredam pandemi. Kepanikan melanda disetiap sudut daerah ketika Covid-19 diumumkan telah masuk ke wilayah Indonesia. Segala perlengkapan seperti handsanitizer dan masker mengalami kenaikan harga dan kelangkaan. PSBB diterapkan diberbagai tempat sebagai upaya mencegah penyebaran pandemi yang sudah semakin meluas.

Disatu sisi manusia ditekan untuk mengurangi kegiatan di luar ruangan yang dapat menjadi potensi penyebaran virus, namun di sisi lain masyarakat meninggalkan sifat narima.

Kehilangan sifat inilah yang menjadikan masyarakat menjadi saling menyalahkan mengenai virus yang sudah terlanjur masuk ke Indonesia ini. Selain itu, kehilangan sifat nrima membuat masyarakat menjadi serba grasa-grusu alias terburu-buru dalam mengambil tindakan. Masyarakat menjadi hidup dalam kegelisahan karena virus yang tidak terlihat. Sifat narima ing pandum mengajarkan masyarakat untuk mampu menerima ujian pandemi, serta bersyukur atas sehat yang telah diberikan.

Bagi mereka yang berkecukupan, maka hal ini dapat mengajarkan mengenai bagaimana untuk bersyukur dengan nikmat yang diberikan; serta bagaimana untuk berbagi kepada mereka yang dibawah. Bagi mereka yang dibawah yang mengalami PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dan yang semakin kesulitan dalam ekonomi, ujian ini bisa menjadi jalan untuk semakin menguatkan aqidah dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Baca Juga  Jangan Membiasakan Tebar Persona

Setiap kesuliatan pasti memiliki kemudahan, Allah berfirman dalam Q.S Al Insyirah ayat 5 “fa inna ma’al-‘usri yusroo” yang artinya “maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”.

Mengajarkan untuk Bersabar

Hidup di era serba digital membuat manusia hidup dalam serba cepat. Di tengah pandemi yang mengharuskan masyarakat untuk tetap di rumah, baik belajar maupun bekerja. Manusia tidak mungkin dapat dihindarkan dari rasa suntuk dan jenuh. Melakukan segala sesuatu di rumah tanpa ada liburan ataupun bertemu dengan teman.

Termasuk saya sendiri tentu saja. Selain diuji melalui pandemi yang tidak segera mereda, kesuntukan dikarenakan diharuskan terus beraktifitas di lingkungan rumah, manusia juga diharapkan untuk meredam ego masing-masing.

Sikap narima mengajarkaan kita untuk bersabar, kuat menerima keadaan dan mampu berlapang dada. Ujian diberikan kepada manusia sebagai bentuk kecintaan Tuhan terhadap makhluk-Nya. Kita yang bisa bersabar dengan ujian pandemi ini juga akan mendapatkan ganjaran yang setimpal. Seperti dalam surah Al-Baqarah ayat 155 yang berarti “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar”.

Sikap narima seringkali disalah artikan sebagai sikap yang apatis dan hanya cenderung menerima segala keadaan tanpa berusaha. Padahal, arti narima lebih dari itu loh. Narima merupakan sikap positif untuk tidak gegabah, dan tenang. Selain itu juga merupakan salah satu proses pengendalian diri yang baik dalam menghadapi segala sesuatu. Pengendalian diri yang baik dapat menciptakan kebahagiaan.

Kebahagiaan lebih merupakan masalah bagaimana individu memandang keadaan dan bukan apa keadaan itu. Sikap menerima orang lain dipengaruhi sikap menerima diri yang timbul melalui penyesuaian pribadi maupun penyesuaian sosial yang baik (Elizabeth B. Hurlock, 1980).

Baca Juga  Eksistensi dan Emansipasi Perempuan Masa Kini

Dilansir dari hellosehat.com, salah satu hormon yang dikeluarkan ketika rasa senang dan bahagia bisa memberikan efek yang membuat sel-sel di dalam tubuh untuk bekerja lebih baik.

Sabar dan ketenangan yang diperoleh dari sikap narima bisa menjadi jalan untuk seseorang berpikir jernih. Seseorang yang mampu berpikir jernih dan tenang dapat melaksanakan ibadahnya dengan baik. Ibadah yang baik dapat meningkatkan keimanan seseorang.

Selain bedampak pada peningkatan aqidah, seseorang yang cenderung memiliki pengendalian diri yang baik dapat menjalin hubungan yang baik dengan manusia lain. Tapi untuk pandemi ini kurangi untuk berpergian jika tidak terlalu darurat ya teman-teman rahma. Kesabaran untuk tetap dirumah, menjadikan kita sebagai salah satu pahlawan pencegah penularan virus Covid-19.

Bagikan
Post a Comment