Ibu, Pelukis Pelangi Toleransi Keluarga
Waktu saya kecil, saya tidak ambil pusing tentang agama seseorang. Sejak kecil saya sudah disuguhkan dengan aneka perbedaan. Dari keluarga ibu, adik ibu atau paman saya, tidak jelas agamanya, Islam atau Kristen. Istrinya sendiri Kristen. Demikian dengan anak-anaknya. Dari keluarga bapak, opa beragama Kristen, nenek awalnya Islam, namun setelah opa tiada, nenek rajin ke gereja. Pemandangan ini menjadi biasa di mata saya. Situasi yang memberitahukan pikiran saya bahwa kami tidak satu agama.
Kendati demikian, kondisi ini tidak membuat kami pecah-belah. Sebaliknya, kami saling rukun satu sama lain. Jika Natalan, ibu selalu mengingatkan kami untuk mengunjungi nenek. Sebagai anak kecil yang suka kue-kue dan yang manis-manis, tentu saja saya tidak pernah menolak bila disuruh menyambangi nenek yang sedang natalan.
Sementara itu, paman saya di Jakarta, dia dan keluarganya merayakan natal. Meskipun ada bisik-bisik bahwa paman saya tetap muslim. Saya tetap menghargai apapun keyakinan mereka. Saya tidak bisa sering-sering mengunjungi paman karena rumahnya cukup jauh, saya di Bandung. Sesekali saja saya mendatangi rumahnya.
Kalau ke sana, ada saja barang yang saya bawa pulang. Entah itu baru atau bekas. Suatu ketika saya membawa pulang beberapa keranjang parcel. Saya lupa, apakah isinya saya bawa pulang atau hanya keranjangnya saja. Ketika mencopot label atau ucapan selamat di keranjang parcel tersebut, saya baca ucapan selamat Natal dan ada juga beberapa ucapan selamat Idul Fitri.
Saya berfikir, mungkin kolega paman yang mengirim bingkisan Natal dan Lebaran tersebut. Sejujurnya agak bingung sih, sebenarnya apa agama paman. Sampai beliau meninggal, saya masih bertanya-tanya. Kendati demikian, saya terus mendoakannya. Saya yakin, Allah Maha Tahu tentang hambaNya.
Kue Natal dan Ucapan Ibu
Yang dimaksud dengan kue Natal adalah kue-kue kering seperti, nastar, putri salju, dan lain-lain. Sebenarnya kue-kue ini sama saja dengan kue yang tersedia saat Lebaran. Saya pikir karena momennya natalan, maka dinamakan demikian.
Ketika saya berumur 10 tahun, ibu selalu mengingatkan untuk berkunjung ke beberapa orang di komplek kami yang merayakannya. Pernah suatu ketika, kakakku bertanya, “Mengapa kita ke sana? Kan mereka Kristen?”
Ibu pun menjawab, “Mereka sodara kita juga, mereka sedang bergembira, pasti mereka senang melihat kalian datang.”
Bagi kami kala itu ucapan ibu tak terlalu bisa dipahami, yang kami mengerti adalah pasti mereka punya kue Natal dan itu sangat menyenangkan. Selanjutnya, ucapan ibu menjadi kenyataan, mereka terlihat sangat gembira kala kami datang ke rumah mereka. Sudah bisa dipastikan, kami sibuk mencicipi kue Natal yang terasa sangat lezat di lidah kami.
Barulah setelah saya dewasa, saya bisa mengerti ucapan ibu. Ya, mereka juga mahluk Tuhan. Mereka harus kita sayang seperti saudara sendiri. Terlebih, mereka satu negara, tidak ada alasan saya memusuhi atau menjauhi mereka hanya karena agama kami berbeda.
Perintah yang sama kami terima pula terkait nenek. Ibu menambahkan, “Kasian, nenek udah tua, ditinggal opa udah lama juga.” Itulah ibu. Selalu mengajarkan untuk menyayangi dan menghormati yang tua meski tak sama agama. Akhirnya sudah bisa ditebak, kami pun akan menurut, menggunakan baju terbagus dan mengunjungi wanita tua asal Garut itu.
Lebaran dan Silaturahim
Ketika lebaran tiba, biasanya sanak famili berkunjung. Kami menghabiskan kue bersama. Makan ketupat dan opor. Tak jarang mereka membawa makanan atau kue dari rumah. Sebelumnya, tentu saja kami berceloteh kesana kemari. Idul fitri jadi ajang menguatkan persaudaraan di hati kami.
Yang unik adalah, teman-teman ibu, warga komplek yang Kristen tadi, mereka juga mengunjungi kami. Mencicipi kue lebaran dan tertawa riang di rumah kami. Lebaran bagi keluarga kami bukan milik kami saja, tapi milik mereka yang non muslim yang berkunjung ke rumah kami. Sepertinya mereka suka ibu saya. Sepertinya, ibu enak-enak aja diajak temenan meski beda agama.
Persahabatan Ibu
Satu hal yang aku ingat adalah ibu bersahabat dengan bu RT yang beragama Kristen di komplek saat saya kecil dulu. Mereka saling mengunjungi dan saling bantu satu sama lain. Saya seperti mendapatkan pelajaran PMP, Pelajaran Moral Pancasila, dulu ada pelajaran ini. Sekarang, entah namanya apa.
Sebelumnya, ibu juga pernah punya sahabat orang Hindu. Namanya Bu Ketut. Awalnya, bapak saya yang bersahabat dengan suami bu Ketut itu. Melebar menjadi persahabatan dua keluarga beda agama. Bapakku dan Pak Ketut, satu angkatan di tentara. Waktu itu, bapak sedang bertugas di Makasar. Persahabatan mereka kental sekali sehingga, anak Pak Ketut satu-satunya juga berteman dekat dengan kami sekeluarga.
Sebagai istri tentara, ibu saya tergabung dalam PERSIT-Persatuan Istri …Nah, persahabatan ibu dengan Bu Ketut makin akrab saja karena ibu banyak membantu bu Ketut yang tidak terbiasa berorganisasi. Ternyata, persahabatan ibu dengan non muslim tidak hanya sampai pada bu Ketut, tapi juga dengan Ketua Cabang PERSIT yang notabene beragama Kristen. Tidak pernah saya lihat ibu membeda-bedakan perlakuannya antara sahabat yang beragama Islam dan yang Kristen.
Tampaknya, ibu sangat menikmati jalinan persahabatannya dengan teman-temannya. Tak sekalipun, ibu melontarkan atau mengeluarkan pernyataan yang sensitive terkait perbedaan agama. Saya yang masih SD waktu itu, merasa bahwa ibu baik sekali. Mungkin kini, saya bisa bilang betapa ibu sangat toleran terhadap pemeluk agama berbeda.
Pelajaran Toleransi
Seingat saya, ibu tidak banyak memberikan kuliah tentang toleransi kecuali menyuruh mengunjungi kepada yang merayakan natal dan persahabatannya dengan teman-temannya non muslim.
Kendati demikian, apa yang dilakukan ibu begitu membekas pada diri saya. Saya pada kesimpulan bahwa apapun alasannya saya harus tetap berbuat baik kepada non muslim. Islam itu rahmatan lil ‘alamin.
Mungkin ketika saya kecil saya tidak paham sejauh ini. Saya tidak mengerti maksud ibu. Begitupun dengan persahabatannya dengan teman-temannya yang non muslim. Tapi kini, ketika saya sudah punya anak, ketika saya sudah berumur, saya baru memahami bahwa ternyata saat itu, ibu adalah pelukis pelangi toleransi bagi keluarga kami.
Saat saya menulis sayembara ini, saya tinggal di komplek. Persis sebelah rumah saya, tetangga saya adalah pendeta. Kami berteman baik dan juga saling bantu satu sama lain. Ketika Covid, kami saling menanyakan kabar. Sementara sebelum Covid, saya termasuk salah satu relawan sedekah, beberapa kali, saya memberinya makanan yang sama yang kami antar ke yayasan duafa. Mereka sempat menolong bapak yang stroke yang tinggal di rumah saya. Tak jarang kami saling coba makanan. Seingat saya, setiap lebaran, saya tak lupa mengantar ketupat lebaran untuk mereka. Demikian halnya ketika natalan, mereka selalu memberi beberapa toples kue natal untuk kami.

“Mencerahkan pemikiran, menggerakan nurani, membentuk perempuan Islam yang progresif dan berdaya”
