Belajar Parenting ala Nabi Nuh : Ketika Anak Tak Sesuai Harapan
Semua orang tua tentu mempunyai harapan yang besar terhadap anak. Berapa pun jumlah anaknya pasti setiap dari mereka diharapkan orang tua. Harapan yang terbesar tidak lain adalah anak selalu berjalan di jalan kebenaran. Jalan yang diridai Sang Pencipta.
Apakah semuanya akan berjalan sesuai harapan? Tidak semuanya. Ada kalanya anak yang dicintai dengan segenap jiwa, dididik dan dibimbing di jalan yang benar, nyatanya berjalan menjauh dari jalan kebenaran. Tidak lagi berjalan di jalan yang diridhai Sang Pencipta. Fakta ini adalah cobaan yang berat bagi hati orang tua. Tidak ada yang lebih berat dari itu.
Setiap orang tua, tentu sudah berusaha maksimal dalam mendidik anaknya. Sudah menyiapkan diri dengan pengetahuan dan doa-doa terbaiknya sehingga mampu membersamai anak meniti masa depan. Juga merasa sudah mendidik anak dengan baik. Sudah membekali dengan banyak pengetahuan, sudah memilihkan sekolah yang terbaik, memilihkan lingkungan pertemanan yang baik, sudah mendoakannya dalam setiap sujudnya. Namun sang anak tetap membuat keputusan yang menyakitkan orang tua. Yaitu keputusan untuk menjauh dari kebenaran.
Jika itu dialami oleh orang tua, belajarlah kepada Nabi Nuh. Allah sudah memberikan pelajarannya melalui beliau. Nabi Nuh, seorang ayah dan juga seorang nabi. Bukan kaleng-kaleng. Pasti Nabi Nuh sudah menjalani pendidikan untuk anaknya yang terbaik. Untuk tunduk kepada Penciptanya. Juga pasti doa Nabi Nuh mudah didengar oleh langit. Namun seperti apa pilihan anaknya?
Kita semua sudah paham bagaimana kisah Nabi Nuh as. Nabi yang diutus oleh Allah untuk menuntun keimanan manusia pada masanya. Nabi Nuh sudah bersungguh-sungguh menghadapi umatnya yang banyak melakukan pembangkangan. Umat manusia yang sungguh sulit didakwahi. Mereka bersikap menolak mentah-mentah. Membangkang dengan terang-terangan. Bahkan mencela Nabi Nuh secara langsung.
Maka Ketika Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat bahtera, kita tahu bagaimana tanggapan kaum Nabi Nuh saat itu. Mereka menghina apa yang dilakukan oleh Nabi Nuh dengan logika mereka. Dengan penuh ejekan mereka menuduh Nabi Nuh sudah gila dan konyol. Sudah kehilangan akal sehatnya karena membuat bahtera yang sangat besar di padang pasir yang sangat jauh dari laut. Mereka juga mengejek Nabi Nuh telah alih profesi. Dari jabatan kenabian menjadi tukang kayu. Selain itu mereka juga menganggap Nabi Nuh sebagai pembohong dan tukang sihir. Mereka sampai berusaha membakar kayu bahtera pada malam hari.
Saat peringatan banjir disampaikan oleh Nabi Nuh, mereka meremehkan. Mereka tidak percaya di lingkungan mereka yang padang pasir akan ada banjir bandang. Itu mustahil menurut mereka.
Meski mendapat beragam cemoohan, Nabi Nuh tetap teguh menjalankan wahyu dari Allah. Nabi Nuh tetap menyelesaikan bahteranya.
Ketika banjir bandang datang. Bahtera keselamatan sudah siap. Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk mengangkut makhluk yang tunduk kepada perintahNya. Hewan yang berpasang-pasangan.
Sebagai manusia, sudah tentu Nabi Nuh mengkhawatirkan anaknya. Ia ingin anaknya selamat dari banjir bandang ini. Ia terus memanggil anaknya sebagaimana Allah sebutkan dalam QS Hud ayat 42:
“Wahai anakku, naiklah ke kapal bersama kami, dan janganlah engkau bersama dengan orang-orang kafir,” Anak Nabi Nuh tak mengindahkan panggilan ayahnya. Bahkan saat Nabi Nuh memanggilnya dengan lembut, “Yaa bunayya.” Meski ditolak terus oleh anaknya, sikap Nabi Nuh tetap sayang. Terus menerus dipanggilnya, anaknya tetap menolak dakwah sang ayah.
Apakah anak Nabi Nuh belum bisa berpikir saat itu? Bukan. Ia telah akil baligh. Namun, anaknya lebih memilih logikanya diatas keimanan. Ia menyampaikan jawaban yang sangat menyayat hati ayahnya. Pedih rasanya hati Nabi Nuh.
“Aku akan berlindung ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air bah,” (QS Hud:43)
Ia berkata demikian bukan karena ia tak tahu. Namun hatinya yang tertutup itulah yang menolak ajakan sang ayah. Ketika ombak besar datang, Nabi Nuh menyaksikan anaknya dalam kesulitan tersapu ombak dan tenggelam didepan matanya.
“Dan Nuh berseru kepada Tuhannya: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku,” (QS Hud:45).
Nabi Nuh masih berharap. Seandainya anaknya masih bisa ditolong, masih bisa diselamatkan. Nabi Nuh masih terus berharap. Namun jawaban Allah sangat dalam.
“Sesungguhnya dia bukan termasuk keluargamu, (karena) sesungguhnya (perbuatannya) tidak baik.” (QS Hud:46)
Bagaimana perasaan Nabi Nuh? Sudah pasti sebagai ayah hatinya sakit. Namun dari sini kita bisa banyak belajar. Tidak semua yang orang tua rencanakan akan diacc oleh Allah. Kadang anak tidak menjadi seperti yang orang tua harapkan. Percayalah, itu bukan berarti orang tua telah gagal. Bahkan sekelas nabi pun mengalaminya.
Jika anak tersesat atau memilih jalan menjauh dari kebenaran, sebagai orang tua tidak boleh putus asa. Tugas orang tua yang telah dipilih Allah untuk mendapatkan amanah anak adalah mengajak, mendoakan dan menjadi teladan. Doa yang terus menerus, nasihat yang tiada putus, teladan juga harapan yang tak pernah pupus. Bagaimana pun hidayah itu hak prerogratif Allah. Manusia tidak mampu menentukannya.
Jika semua usaha sudah maksimal orang tua lakukan, tapi anak tetap keukeuh dengan pilihannya maka bukan orang tua yang gagal. Allah sedang menginginkan orang tua lebih pasrah kepadaNya. Allah menginginkan orang tua yang ikhlas dan terus menerus mendekatkan diri kepadaNya, berdoa tanpa henti.
Tinggal di Malang Jawa Timur. Senang dengan dunia anak-anak. Aktif menulis cerita anak. Selama ini masih terus belajar menulis dengan mengikuti berbagai kelas dan belajar mempraktikkannya.
