Toxic Parenting (2): Masalah yang Jamak Terjadi dalam Pengasuhan Anak
Mengapa kebanyakan orang tua menganggap bahwa ketika anaknya lahir maka pada saat itu juga mereka “menanam benih” yang pada suatu saat akan dipanen dan dinikmati hasilnya? Hal ini terjadi karena pola asuh yang mereka terima pada saat mereka kecil dahulu. Orang tua pada zaman dahulu menganggap bahwa setiap anak yang mereka lahirkan dan besarkan ketika sudah dewasa; dan memiliki hasil dari setiap usaha yang dilakukannya harus membahagiakan, membanggakan, dan juga memenuhi kebutuhan dari orang tuanya tersebut.
Orang tua kerap kali menaruh harapan yang sangat besar kepada anak-anaknya terutama pada anak sulung (anak pertama). Contohnya; ketika ibu melahirkan anak pertamanya kedua orang tua dan juga keluarga turut mengungkapkan harapannya kepada anak sulung tersebut. Entah itu tentang harapan agar anak dapat mengubah kehidupan keluarganya, ekonomi; atau juga harapan tentang pendidikan serta profesi apa yang akan anak jalani kedepannya.
Dengan berbagai harapan yang diberikan, terkadang orang tua lupa akan kewajibannya mendirikan madrasah di dalam rumahnya untuk anak-anak yang mereka miliki. Terkadang juga kebanyakan dari orang tua yang ada seolah-olah mengejar kebahagiaan di dunia; dan seolah melupakan bagaimana kehidupannya di akhirat kelak.
Tidak hanya itu, seiring bertumbuhnya anak dalam pengasuhan, orang tua kerap kali lupa untuk mengajarkan hal-hal sederhana yang sangat penting bagi anak dalam kehidupan berikutnya. Seperti; kejujuran, ilmu agama, takut akan Tuhan, cinta dan kasih, rasa untuk saling berbagi, dan masih banyak lagi.
Orang tua menganggap remeh dan mengira semua hal sederhana tersebut akan terjadi dengan sendirinya ketika anak memasuki usia sekolah; atau ketika anak dapat bermain dengan teman-teman yang ada di lingkungan sekitarnya.
Padahal yang sebenarnya terjadi di lapangan adalah anak tidak akan mengerti dengan sendirinya mengenai hal-hal yang terjadi tanpa sebelumnya dilatar belakangi oleh pengajaran terhadap anak.
Tidak dapat dipungkiri, bahwasanya pengaruh dari lingkungan juga cukup kuat terhadap kehidupan seorang anak yang sedang bertumbuh. Tidak hanya anak-anak saja yang mudah terpengaruh akan lingkungannya. Tetapi juga banyak orang tua yang terpengaruh oleh lingkungannya. Contohnya : banyak orang tua yang pada saat ini menggunakan aplikasi Facebook dan mereka mengikuti gaya bahasa yang digunakan oleh anak muda. Seperti menggunakan kata guys dan healing. Ya meskipun sebenarnya mereka tidak begitu mengerti makna dan tempat penggunaan kata tersebut.
Bagaimana tidak? Mereka menggunakan kata healing pada postingan yang berisikan sedang liburan, berkumpul bersama teman, dan menikmati waktu bersama keluarganya. Mereka tidak paham akan makna kata healing yang sebenarnya adalah proses penyembuhan luka batin yang sudah lama terjadi. Entah itu akibat dari luka batin yang terjadi sewaktu dirinya masih remaja atau juga luka batin yang terjadi pada masa kini.
Dan jika kita lihat pada perkembangan zaman yang pesat seperti saat ini, kiranya mengapa anak-anak kurang berani untuk mengungkapkan pendapat yang mereka ingin sampaikan?
Sebagian besar dari mereka juga tidak berani mengekpresikan ide-ide luar biasa yang mereka miliki. Kira-kira kenapa, ya? Padahal zaman dan perkemabangan teknologi sangat pesat; dan banyak dari mereka juga mendapatkan fasilitas yang penuh untuk mengembangkan segala kreatifitas dalam dirinya.
Hal demikian dapat terjadi karena kurang mendukungnya lingkungan disekitar tempat tinggal mereka. Anak kurang berani untuk mengungkapkan pendapat yang mereka miliki; karena kerap kali pendapat yang mereka berikan tidak ditanggapi dengan baik oleh lingkungan di mana ia berpendapat.
Terkadang orang kerap kali menyangkal pendapat yang disampaikan oleh anak muda; karena menganggap bahwa anak muda belum memiliki pengalaman yang luas, serta pandangan yang luas tanpa memahami makna pendapat yang disampaikan oleh anak muda.
Lantas, mengapa anak muda tidak berani mengungkapkan ide-ide yang mereka miliki?
Orang-orang di sekitarnya kerap menganggap bahwa ide yang anak muda miliki kurang berguna dan kurang bermanfaat bagi kehidupan yang mereka jalani. Orang tua banyak berpendapat bahwa yang anak muda lakukan saat ini hanya untuk kesenangan semata. Banyak dari orang tua yang saat ini kerap kali menuntut hal yang berlebihan dari anak-anaknya tanpa mengetahui kemampuan yang anak mereka miliki. Contohnya : mereka menginginkan anak mereka untuk menjadi seseorang yang hebat dalam matematika; namun mereka kerap lupa akan kewajibannya menyiapkan fasilitas anaknya untuk menunjang keinginan orang tua tersebut.
Seperti fasilitas sederhana yang anak butuhkan seperti sarana tempat les dan buku bacaan. Mendampingi anak belajar, memberikan semangat kepada anaknya yang sedang berjuang, atau juga memberikan perhatian khusus juga dapat membantu anak dalam berproses.
Memahami kebutuhan yang anak perlukan akan sangat membantu anak dalam berproses dan bertumbuh. Seperti memahami waktu untuk anak meng-eksplore dunianya, waktu bersama keluarga, dan juga waktu istirahatnya juga sangat menunjang pertumbuhan yang baik bagi kesehatan mental anak.
Nama saya Melline Dina Ariska, saya kerap dipanggil dengan sebutan Limey. Saya adalah salah satu mahasiswi Universitas swasta di Indonesia. Saya merupakan gadis remaja yang sedang belajar untuk menjadi penulis karena saya juga memiliki cita-cita menjadi sorang penulis. Saya juga berpengalaman menulis beberapa cerpen yang telah diterbitkan dalam buku antologi.
Teman-teman dapat lebih mengenal saya di Facebook saya dengan user Medika Cheputry Tunggal, selain itu juga teman-teman dapat mengenal saya di laman Instagram saya dengan user Mey_Project25.
