f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kucing

Anak-anakku Sumber Belajarku

Deru mesin jus di pagi hari sudah tidak asing memenuhi seisi dapur, kompor pun saya nyalakan, biasalah merebus air hangat yang akan diminum bersama jeruk nipis untuk membuka hari. Di samping itu saya memulai aktifitas  hari ini dengan mencuci. Dalam satu waktu saya akan  bisa menjadi manusia sakti yang bisa berjalan kesana kemari, bahkan berlari di ruangan yang berbeda dalam rumah.  Bisa kalian bayangkan, memasak, mencuci serta menyiapkan apapun untuk anak-anakku.

Ketika ibu mereka berjuang di dapur dan di dekat mesin cuci untuk melaksanakan aktifitas, anak anak tersebut masih terlelap. Maklumlah, mereka masih balita. Yang pertama usianya belum genap 6 tahun, sedangkan yang kecil masih 4 tahun. Keduanya adalah sosok manusia yang lucu dan menggemaskan. Setiap hari ada saja ide yang mereka lakukan.

Kegiatan Pagi

Di semua penjuru tempat, ramai orang membicarakan covid 19, tak terkecuali anak-anakku. Saya sebagai seorang ibu harus memberi seribu pengertian tentang pemakaian masker, cuci tangan dan sebagainya. Si kakak yang sudah sekolah taman kanak- kanak tepatnya, hanya berangkat sekali dalam seminggu, dan sisa hari lainnya melaksanakan tugas sekolah. Segala yang terjadi, keadaan sekarang ini memang harus kita sikapi dengan bijaksana.

Sebaik- baik orang adalah orang yang mau berusaha, dalam hal apapun, terutama dalam menjaga kesehatan. Untuk itulah saya pasti bangun di pagi hari untuk melakukan hal- hal yang mungkin tanpa disadari orang sangat penting dalam menyambung hidup, pertama makan dan yang kedua adalah kerja, itulah rutinitas saya setiap hari.

Pagi ini saya membuat segelas air hangat jeruk nipis, kebiasaan yang sudah saya lakukan selama kurang lebih lima tahun, ini membuat saya sehat serta mengurangi alergi yang dulu kerap kali menghampiri. Kemudian saya akan membuat jus jambu yang saya beli kemarin di toko buah bersama anak-anak. Saya juga menyalakan mesin cuci, dan yang tak kalah rutin menyalakan kompor buat memasak lauk.

Baca Juga  Membiasakan Anak Melakukan Pekerjaan Domestik, Mendidik Mandiri atau Eksploitasi?

Nasi juga sudah saya buat menggunakan magic com. Ya biar lebih cepat membantu saya menyelesaikan pekerjaan. Meski kurang bagus rasanya ataupun buat kesehatan,  kadang kalau tidak tergesa- gesa saya mencoba membikin nasi dengan cara kuno yaitu direbus atau membuat karon (dalam bahasa Jawa).

Era teknologi memang memanjakan kita dan tanpa kita sadari membuat kita jadi malas. Tujuan saya melakukan keduanya adalah agar kita mensyukuri nikmat Tuhan dengan memanfaatkan teknologi praktis, sedangkan cara kuno yang saya lakukan bertujuan agar saya selalu mengingat sejarah nenek moyang yang pernah saya dengar dari cerita orang tua.

****

Dulu memasak itu memakai kayu serta bahan pancinya tidak dari panci dari bahan yang bagus sperti sekarang melainkan dari bahan tanah liat, yang menurut saya lebih menyehatkan. Terkadang ibuku pun masih bersikeras memasak dengan membuat kompor alami menggunakan batu bata yang tersusun rapi, dan bahan bakarnya memakai kayu, karena di rumah masih banyak kayu kering di ranggon (tempat kayu). Lagipula kayu tersebut bisa digunakan ketika ibu memasak dalam skala besar seperti ketika ada hajatan.

Saat semua pekerjaan dapur selesai, dan menjemur pakaian pun sudah saya lakukan. Terdengar sayup suara si adik minta susu, kebiasaan yang dilakukan di rumah nenek setiap bangun langsung minta disiapkan susu serta duduk di teras rumah. Nolan anak kedua saya tiba-tiba bertanya , “Ibu, ketika ibu kecil apakah pernah dikunci mbah uti apa mbah kakung?”ya pernah, jawabku. “kenapa?”, Ya karena ibu tidak bisa diomongi, sebagai contoh tak boleh mandi di sungai.

Saya mencampur bahasa antara Bahasa Jawa dan Indonesia, karena anak saya yang pertama agak kesulitan berbicara (speech delay ketika saya titipkan saat saya kerja). Saya menduga penyebabnya karena anak saya sering melihat televisi dan saya sendiri jarang berdialog dengannya. Alhamdulilah sekarang sudah lancar. Semua memang ada hikmahnya, kesalahan yang saya buat  jadi pelajaran berikutnya buat anak kedua saya.

Baca Juga  Istri dan Anakku, Ada Hikmah Pandemi Bagi Fitrah Ekologi dan Kemanusiaan (2)

Di sela obrolan kecil dengan si adik, si kakak datang dan duduk di lantai.  Sambil garuk-garuk lengannya yang gatal, dia bilang, “ibuk nanti kita mancing ikan ya?” iya, tapi nanti ya kalau ibu sudah selesai mengajar” jawabku. Sebuah pertanyaan yang membuat saya senang karena dalam benak  sudah merencanakan hal tersebut. Itu pasti rencana yang sangat bagus untuk menjauhkan anak-anak saya dari benda kecil yang sangat popular di kalangan masyarakat berbagai umur, ya handphone.

Memancing Ikan

Saat usai mengajar, saya bergegas mencari alat untuk menangkap ikan. Kita tidak akan menggunakan pancing, melainkan “cimplung”, sebuah alat kecil mirip jarring yang ada pegangannya. Tak lupa saya mengajak keponakan.

 Anak-anak sudah bersiap-siap, ada yang membawa cimplung ada pula yang membawa ember dengan sedikit air. Ember ini nanti yang akan jadi tempat kalau kita sudah menemukan ikan. Saya cuma sebagai seorang bos 🙂 yang hanya bisa tunjuk sana tunjuk sini. Saya hanya mengawasi mereka dari atas. Sungai kecil depan rumahku memang lagi dibangun entah mau diapakan, yang pasti ikan-ikan tersebut sadar tempat tinggal mereka di usik.

Tiba- tiba anak saya yang pertama, Gara namanya, berkata, “ibu aku mau ikut turun, “boleh” kataku.. Nolan pun tak mau kalah langsung ikut turun. Mereka sangat menikmati kegiatan pagi menjelang siang itu. Sampai waktu dhuhur tiba saya meminta mereka naik karena sudah dapat cukup banyak ikan. Berulangkali Gara dan Nolan bilang, “ibu nanti digoreng ya”, Iya  sambil tersenyum saya berjalan melihat kepuasan anak-anak. Saya memang sering mencari hal yang akan sangat dikenang  anak-anak bersama saya, apalagi saat suami ada di luar kota. Kalau ada bapaknya anak-anak ya bisa main layangan atau bermain lumpur.

Baca Juga  Tidak Pernah Juara tetapi Sukses
Anak adalah Sahabat

Saya lebih senang menganggap anak saya sebagai teman atau sahabat, hal ini akan membuat jalinan kita semakin dekat, Mereka pun akan lebih jujur tentang apa yang mereka rasakan terhadap kita sebagai orangtua. Adakalanya kita memang harus jadi orang yang lebih tua, ada saatnya kita akan menjadi seorang anak untuk mengikuti jalan pikirannya.

Semua kerepotan yang saya alami sehari hari adalah kerepotan yang indah dan menyenangkan. Saya mendapatkan banyak pelajaran yang sangat berharga dalam hidup dari mereka yang saya sayangi. Anak-anak kita adalah sumber belajar kita untuk menjadi manusia yang sabar dan ikhlas, utamanya sebagai seorang ibu. Sampai kapanpun anak kita adalah tempat di mana kita bisa menjadi lebih bijaksana dalam setiap hal.

Bagikan
Comments
  • Apriani Noor Hidayati

    Gak ada yg lebih hebat daripada seorang ibu yg bekerja tapi masih bisa menghandle urusan rumah & anak2

    Januari 31, 2021
Post a Comment