f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
hak atas

Tuhanmu dan Badanmu Memiliki Hak Atas Dirimu

Pada saat hijrah ke Madinah, Nabi Saw. mempersaudarakan antara Salman dengan Abu Darda’. Lalu Salman mengunjungi Abu Darda` dan melihat Ummu Darda` berpenampilan kusam.

Salman pun bertanya, “Kenapa denganmu?”. Ummu Darda` menjawab, “Sesungguhnya saudaramu yaitu Abu Darda’ tidak membutuhkan terhadap dunia sedikitpun.”. Ketika Abu Darda’ tiba, dia membuatkan makanan untuk Salman lalu berkata; “Makanlah karena aku sedang berpuasa.”. Salman menjawab, “Aku tidak ingin makan hingga kamu ikut makan,” akhirnya Abu Darda` pun makan.

Ketika tiba waktu malam, Abu Darda’ beranjak untuk melaksanakan shalat, namun Salman berkata kepadanya, “Tidurlah,”. Abu Darda’ pun tidur, tidak berapa lama kemudian dia beranjak untuk mengerjakan shalat. Namun Salman tetap berkata, “Tidurlah,” Akhirnya dia tidur. Ketika di akhir malam, Salman berkata kepadanya, “Sekarang bangunlah.”

Kemudian keduanya melaksanakan shalat. Setelah itu Salman berkata, “Sesungguhnya Rabb-mu memiliki hak atas dirimu, dan badanmu memiliki hak atas dirimu, keluargamu memiliki hak atas dirimu, maka berikanlah haknya setiap yang memiliki hak.”

Selang beberapa saat Nabi Saw datang, lalu hal itu diberitahukan kepada beliau, Nabi Saw. berkata, “Salman benar.”

***

Kisah ini mengandung sejumlah bukti Islam murah hati. Dan kecermatan syariat Islam dmemelihara hak-hak yang wajib dijaga oleh setiap muslim. Di antaranya, hak Allah Swt yang wajib dipenuhi oleh manusia, hak keluarga yang wajib dipenuhi, hak badan yang wajib diperhatikan oleh pemiliknya. Setiap orang harus memberikan hak setiap orang yang memiliki hak. Dengan catatan dia tidak boleh mengabaikan yang lain dan tidak boleh mengurangi yang lain.

Kisah ini dimulai dengan penjelasan bentuk persaudaraan yang dibangun oleh Rasulullah Saw. Ahli sejarah menyebutkan persaudaraan antara para sahabat Rasulullah Saw. terjadi dua kali: pertama, terjadi sebelum hijrah yaitu persaudaran antara orang-orang muhajirin saja untuk saling menolong seperti persaudaran antara Zaid Ibnu Haritsah dengan Hamzah Ibnu Abd Al-Muthallib. Kedua, Nabi Saw. mempersaudarakan orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar setelah hijrah, setelah Nabi Saw. datang ke Madinah.

Baca Juga  Apakah Al-Qur'an Menilai Manusia Setara?

Ini adalah contoh persaudaraan yang dibangun Nabi Saw. yaitu antara Salman dan Abu Darda`. Nabi Saw. mengikat tali persaudaraan antara keduanya dengan ikatan Islam yang kuat. Mereka saling nasihat-menasihati dalam kebaikan, salah satu dari keduanya mengarahkan yang lain kepada jalan dan petunjuk Islam, dan kepada hal yang harus dilakukan untuk memenuhi hak Allah Ta’ala, hak dirinya, dan hak keluarganya.

***

Ukuran ketakwaan dan takut kepada Allah Swt. bukan dengan membebani dirinya dengan sesuatu yang di luar kemampuannya, dan bukan pula dengan ketekunan beribadah. Sebab, hal ini dapat membuat seseorang tidak konsisten dan lalai terhadap hak-hak lain dan dapat menghadang seseorang dalam ketaatan. Namun, ukuran takut dan taat adalah konsisten beribadah dan melakukannya dengan penuh cinta dan kesungguhan, sehingga dapat merasakan manisnya iman. Ketika Abu Darda` menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah Saw. maka beliau berkata kepadanya, “Salman benar”.

Kesimpulan dari kisah ini adalah pentingnya menasihati kaum muslimin, agar jangan sampai membebani diri dalam beribadah, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya,” (QS. Al-Baqarah [2]: 286). 

Bagikan
Post a Comment