f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
gadget

Kecenderungan Gadget pada Masa Pandemi Covid-19

Mulai dari bulan Maret tahun 2020, pandemi covid atau yang lebih di kenal dengan corona virus menyerang Indonesia. Secara bertahap, semua akses masyarakat ditutup. Tempat pekerjaan, sekolah, tempat olahraga, masjid, dan lainnya. Beberapa tempat usaha terancam ditutup karena penghasilan yang terus menerus berkurang.

Tak sedikit pula dari masyarakat kita yang kehilangan pekerjaan nya akibat PHK atau Pemutusan Hubungan Kerja. Dampak besar juga terjadi pada lingkungan sekolah maupun universitas. Segala kegiatan akademi diberhentikan sebagai pencegahan penyebaran virus corona. Semua kegiatan belajar mengajar harus dijalankan secara daring atau online. Sangat banyak problematika yang terjadi saat itu.

Di kota-kota besar, gadget atau pun jaringan sinyal bukan lah menjadi masalah. Namun di daerah yang ada di pelosok. Jaringan sinyal jadi keterbatasan. Apalagi jika secara serentak pembelajaran daring dilakukan, bahkan beberapa orang tidak memiliki cukup uang untuk membeli gadget. Sarana transportasi milik umum juga terkena imbas nya.

Stasiun Kereta Api antar kota tidak berfungsi hingga saat ini. Karenanya,  beberapa keluarga tidak bisa bertemu saat hari raya. Tidak hanya pekerjaan dan kegiatan belajar mengajar, interaksi sosial diantara masyarakat juga sangat lah berkurang. Bagaimana tidak, seluruh masyarakat di haruskan untuk berdiam diri di rumah selama dua minggu agar penyebaran virus bisa diatasi. Selain itu, masyarakat juga harus menjaga jarak antara satu dan yang lainnya untuk mengantisipasi penyebaran virus dengan memakai masker yang sesuai dengan standar yang ada.

Virus yang Tak Terduga Manufernya

Sampai dengan hari ini, virus corona sudah menetap di Indonesia selama sembilan bulan. Sungguh jauh sekali dari prediksi pemerintah yang mengharuskan social distancing selama dua minggu. Ini terjadi dikarenakan banyak sekali masyarakat Indonesia yang mengabaikan perintah tersebut. Masih banyak orang di luaran sana yang skeptis dengan tidak memakai masker dan santai berbincang dengan lawan bicara nya padahal bahaya kematian mengintai mereka.

Baca Juga  Tips Memilih Skincare Bagi Pemula

Banyak juga remaja yang memilih untuk tetap berkeliaran di luar rumah tanpa mempedulikan berapa banyak korban covid sampai saat ini. Beberapa orang yang memiliki gejala covid juga enggan memeriksakan diri ke rumah sakit. Karena khawatir banyak orang yang akan menjauhinya. Pemikiran seperti itu seharusnya dihilangkan karena jika tidak, penyebaran virus akan terus meluas.

Bekerja Di Masa Pandemi

Banyak sekali Sumber Daya Manusia yang tidak memiliki pekerjaan yang akhirnya kelabakan mencari pekerjaan. Seolah memutar otak, apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan pendapatan di masa seperti ini. Di zaman sekarang apalagi di masa pandemi seperti ini, jalan satu satunya adalah melakukan pekerjaan yang sesuai dengan protokol kesehatan atau dengan melalui media sosial.

Pekerjaan yang sesuai dengan protokol pekerjaan berarti memastikan tempat tersebut higienis atau bersih dari virus, menjaga jarak antara satu dan yang lain, memakai masker, menyediakan tempat untuk mencuci tangan atau hand sanitizer untuk penjual dan juga pembeli. Cara ini banyak sekali di gunakan di kedai minuman atau makanan, restoran, sampai minimarket.

Teknologi yang Makin Berkembang  

Yang kedua melalui media sosial. Banyak sekali aplikasi yang membantu masyarakat untuk memulihkan ekonomi menjadi seperti sedia kala. Dalam lingkup e-commerce misalnya, aplikasi seperti Shopee, Lazada, BukaLapak, Tokopedia, Zalora, dan lain lain menawarkan fasilitas pembukaan toko yang berbasis online. Tentu saja, menjadi solusi yang bijak bagi sebagian orang karena tidak melalui aktivitas kontak langsung, dan juga penggunaan nya menjadi sangat mudah karena hanya melalui smartphone yang terhubung dengan sinyal.

Pembeli tentunya merasa nyaman dan aman untuk memilih barang apa saja yang akan dibeli. Ada juga aplikasi ojek online seperti Grab dan Gojek. Saat pandemi seperti ini, jasa ojek online lebih banyak digunakan untuk jasa antar makanan daripada mengantarkan seseorang ke tempat yang dituju. Lagi lagi masyarakat dimanjakan dengan aplikasi, tanpa harus mengantre di restoran favorit nya, ia hanya perlu memesannya dari rumah dan bersantai sembari menunggu pesanan nya datang. Perbedaannya hanyalah ketika memesan melalui ojek online akan dikenai tarif dari pemesanan tersebut.

Baca Juga  Saya OTG (3): Dicari Obat Stress Peningkat Imun
Dampak pada Manusia

Di atas adalah contoh positif dari sosial media yang menunjang kebutuhan sehari hari. Di balik pemanfaatan nya, media sosial punya dampak negatif yang cukup besar, terutama pada anak anak hingga remaja. Dikarenakan harus menggunakan gadget sebagai media pembelajaran, anak anak justru memanfaatkan nya untuk media hiburan yang terkadang menyita waktu lebih banyak dalam sehari daripada untuk belajar. Media YouTube misalnya, alih alih sebagai media pengetahuan, anak anak malah asyik menghabiskan waktu untuk menonton video yang kurang berfaedah.

Selain itu ada e-commerce, karena tidak perlu repot mengunjungi spot perbelanjaan, masyarakat malah bersikap hedonisme karena nya. Di iming imingi harga yang lebih murah daripada offline store, masyarakat justru memborong barang barang yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan. Dampak seperti ini bisa di minimalisir dengan kesadaran diri sendiri untuk memanfaatkan media sosial secara bijak. Maka, penggunaan gadget harus dimanfaatkan sesuai kebutuhan.

Bagikan
Post a Comment