Belajar Mengajarkan Pendidikan Karakter pada Anak dari Ibnu Miskawaih
Ahmad bin Muhammad bin Ya’qub bin Miskawaih atau yang dikenal sebagai Ibnu Miskawaih merupakan salah satu filosof dan sejarawan muslim yang mengkaji dan mengungkapkan persoalan-persoalan akhlak. Sebagai bapak etika islam dan pemikir Islam pertama dalam filsafat akhlak, Ibnu Miskawaih punya banyak karya yang terkenal . Salah satunya adalah kitab Tahdzib Al-Akhlaq ini. Yuk kita bahas!
Dalam pemikirannya mengenai etika atau moral, ia memulainya dengan menyelami jiwa manusia. Menurutnya :
“Jiwa merupakan substansi sederhana yang tidak dapat diindera, bukanlah fisik, dan bukan pula kondisi fisik. Jiwa berasal dari substansi yang lebih tinggi, lebih mulia, dan lebih utama dari segala sesuatu yang bersifat tinggi di dunia” .
Ibnu Miskawaih menekankan dengan mengetahui tentang keadaan jiwa (Ahwal an Nafs) adalah pondasi awal manusia untuk memperoleh ilmu yang lainnya. Karena dengan mengetahui jiwa, maka seseorang memiliki senjata untuk melihat yang benar dan batil dalam masalah keyakinan antara kebaikan dan keburukan. (Amin : 1969;177)
Ibnu Miskawaih membagi kekuatan (potensi) jiwa kepada tiga fakultas, yakni :
Fakultas Nafsu Syahwat
Nafsu syahwat merupakan keinginan terhadap berbagai kenikmatan, misalnya melalui makanan, seks, dan kenikmatan lainnya yang dirasakan panca indera. Disebut juga fakultas binatang dan organ tubuh yang digunakannya adalah hati.
Fakultas Ammarah (Al- quwwah Al- ghadhabiyyah)
Merupakan tempat mengungkapkan kemarahan, keberanian menghadapi bahaya, dan keinginan akan kekuasaan, penghargaan diri, dan macam-macam kehormatan. Disebut fakultas binatang buas dan organ tubuh yang digunakan adalah jantung.
Fakultas Berpikir (Al-quwwah Al-Natiqah)
Di sini adalah tempat yang berkaitan erat dengan berfikir, melihat, dan mempertimbangkan realitas segala sesuatu. Disebut fakultas raja dan organ yang digunakan adalah otak.
Lalu kapankah anak siap diberikan pendidikan karakter?
Ibnu Miskawaih berpendapat
“Kalau Anda lihat anak kecil, lalu Anda dapati anak itu malu – malu, dengan kepalanya ditundukkan ke bawah, takut dan tidak berani menatap wajah Anda, maka itulah bukti pertama bahwa dirinya telah mampu mebedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Rasa malunya itu tak lain adalah pengekangan diri yang terjadi lantaran khawatir kalau – kalau ada keburukan yang bakal tampak pada dirinya. Ini pada gilirannya tak lebih daripada memilih yang baik dan menjauhi yang buruk melalui penilaian dan nalarnya.”
Kembali pada pemaparan terkait tiga fakultas jiwa perlu diketahui juga kemampuan anak menurut tiga fakultas tersebut :
Pada fakultas nafsu syahwat, setelah anak lahir di dunia maka nafsu pertama yang hadir mendorong anak untuk menyukai makanan, merasakan kesenangan, dan menjadikannya bertahan hidup. Kemudian setelah anak mampu merasakan kenikmatan, maka berkembanglah fakultas ammarah yang membuat anak menolak segala hal yang menyakitinya dan menyingkirkan hal-hal yang menghalanginya untuk memperoleh sesuatu.
Secara naluriah anak mampu membalas sesuatau yang menyakitinya, jika tidak ia akan mencari pertolongan kepada orang terdekatnya terutama orang tua; misalnya dengan cara menangis atau merajuk. Selanjutnya perkembangan jiwa anak dilanjutkan pada fakultas berfikir, yang ditandai dengan munculnya rasa malu. Rasa malu yang timbul inilah yang menandakan bahwa anak mulai berfikir untuk mengetahui yang baik dan yang buruk.
Nah, pada fakultas ini juga tanda bahwa anak siap diberikan pendidikan karakter.
Etika Sederhana yang Bisa Diajarkan
Anak diajarkan untuk mengetahui cara berpakaian yang pantas. Misalnya, membedakan pakaian yang digunakan laki-laki dan perempuan. Perempuan boleh menggunakan kerudung dan aksesoris sedangkan laki-laki boleh mengenakan surban dan sarung. Hindarkan anak dari pergaulan yang buruk yang dapat mempengaruhinya berbuat hal yang tercela, misalnya membangga-banggakan apa yang dikenakannya.
Dalam etika makan, perlu ditanamkan terlebih dahulu pada anak bahwa tujuan makan adalah untuk kesehatan dan bertahan hidup. Ini menghindarkan anak supaya tidak rakus dan tidak pilih-pilih makanan. Jika sedang bersama orang lain, diajarkan untuk menghargai yang lebih tua. Misalnya, dalam mengambil makanan, tidak menjadi yang pertama mengambil makanan, tidak makan dengan tergesa-gesa , menawarkan makanan pada orang lain, dll.
Ibnu Miskawaih juga menyarankan agar tidak memberikan anak makanan berat pada malam hari karena hal ini dapat memicu perasaan malas, mengantuk, dan lamban untuk berfikir di siang hari.
Selanjutnya adalah etika tidur. Dalam hal ini anak perlu diajarkan untuk tidak tidur terlalu lama, dan tidak terlalu larut. Ibnu Miskawaih juga menyarankan untuk tidak membiasakan anak tidur di sore hari dan tidak bergantung pada tempat tidur yang empuk supaya memahami kehidupan yang sulit.
Etika berbicara sangat penting diajarkan karena anak suka mencontoh hal-hal yang didengarnya. Anak perlu diajarkan dan diberikan pemahaman untuk tidak berbicara kotor, hina, sumpah serapah, perkataan yang menuduh, dan membicarakan hal yang tidak senonoh. Hal yang penting adalah memastikan anak tumbuh di lingkungan pergaulan yang sehat, agar anak terhindar dari pengaruh-pengaruh tersebut.
Selain itu pentingnya orang tua sebagai role model, untuk memberikan contoh yang baik agar ditiru oleh si anak. Misalnya, membiasakan diri untuk berkata baik dan anggun serta bersikap manis ketika bertemu orang lain, mendengarkan orang lain saat berbicara, tidak mencela seseorang saat berbicara, terutama oleh orang yang lebih tua.
Pergaulan anak sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Penting bagi orang tua untuk memastikan bahwa lingkungan bermain anak adalah lingkungan yang dapat memberikan nilai-nilai positif yang mendukung perkembangannya.
Orang tua juga perlu mengingatkan dan membiasakan anak untuk menghargai temannya. Hal ini agar menghindari anak untuk tidak menginjak harga diri teman-temannya dan berbuat semena – mena terhadap temannya. Misalnya, mengambil mainan tanpa izin, memperolok teman, dll.
Ibnu Miskawaih juga memberi catatan bagi orang tua atau pendidik dalam memberikan pendidikan etika pada anak yakni :
- Memuji anak jika mereka menunjukkan moral dan perilaku yang baik
- Jika anak berbuat kesalahan, atau hal-hal yang kurang baik maka hal pertama yang dilakukan adalah tidak mencelanya.
- Pendidik juga tidak boleh mengatakan kesalahan anak secara terang terangan, agar anak seakan-akan melakukan perbuatannya dengan tidak sengaja.
- Jika anak mengulangi perbuatannya, penting untuk memberikan teguran secara diam-diam, jauh dari kerumunan agar anak tidak merasa disudutkan. Jelaskan seberapa fatal kesalahan tersebut dan peringatkan agar tidak mengulanginya.
Nah, itu dia sekilas pendidikan karakter pada anak ala Ibnu Miskawaih, semoga bisa memberi inspirasi dan diaplikasikan dalam dunia parenting para Rahmania yaa..!
Asal dari Tulungagung. Mahasiswi Psikologi Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Sangat suka bergerak, membaca, menggambar dan sesuatu yang estetik. Intagram : _kumalaa Twitter : @KAdinisya.

pramuji paeran
tulisan yg singkat dan padat
penuh isi dan mudah dipahami…
sangat bermanfaat bagi kami orang tua muda yg belajar mendidik anak2 ..
dapat inspirasi dan referensi yg benar…
yg menarik adalah…kapan kita memberi pendidikan karakter ke anak?
“Kalau Anda lihat anak kecil, lalu Anda dapati anak itu malu – malu, dengan kepalanya ditundukkan ke bawah, takut dan tidak berani menatap wajah Anda, maka itulah bukti pertama bahwa dirinya telah mampu mebedakan mana yang baik dan mana yang buruk.”
terimakasih