Biarkan Anak Menemukan Bakatnya Sendiri
Apapun bakat yang dimiliki seorang, biarlah dia yang memutuskan. Tugas kita sebagai orang tua hanya memfasilitasi. Ya, itulah yang terjadi pada diri Jodi. Memang tidak mudah untuk menghadapi semua masalahnya. Meski begitu, Jodi harus tetap menjalaninya tanpa boleh berkata mengeluh lelah dan berkata bosan.
Dari Abi Hurairah, Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kembalikan anak pada fitrahnya itu berdasarkan hadist di atas. Walaupun begitu, peran orang tua tetap sangat besar terhadap diri si anaknya.
Termasuk Jodi, walau begitu Jodi punya hak menentukan bakatnya sendiri. Tapi sayang di usia dini, orang tua Jodi terlalu terobsesi, bahwa Jodi harus jadi ini dan itu. Bisa jadi karena melanjutkan cita-cita orang tuanya yang dahulu belum kesampaian.
Memang, sebelum sekolah tidak nampak tanda-tanda kalau Jodi punya bakat , hobi, ataupun cita-cita. Dia hanya mencoba menyalin apa yang ada di pikiran orang tua. Bahwa dia musti jadi pemain bola, tentara, polisi, guru, atau pengusaha. Sementara Jodi yang masih kecil belum betul-betul tahu tentang profesi itu seperti apa.
Setelah memasuki dunia sekolah, tepatnya di taman kanak-kanak (TK), pikiran orang tuanya sudah memengaruhi Jodi. Orang tua Jodi akhirnya memasukan Jodi ke ektrakurikuler Dai Cilik di sekolahnya. Orang tuanya pingin sekali kalau Jodi bisa menjadi seorang Dai. Jodi mengikuti semua yang orang tuanya inginkan tanpa membantah.
Setelah beberapa bulan mengikuti ektrakurikuler , tidak banyak perubahan terhadap diri Jodi. Dia hanya mengikuti saja setiap kelas yang diadakan.
***
Orang tuanya masih belum puas. Ketika melihat Jodi asyik bermain bola dengan teman-temannya, terlintas pula di benak orang tuanya bahwa Jodi musti jadi pemain bola handal. Sepertinya Jodi punya bakat dengan keindahan tendangan kaki kanannya yang sering membobol gawang lawan.
Akhirnya, Orang tuany Jodi memasukan anaknya pula ke klub bola anak-anak. Kelas ektrakurikuler masih tetap berlanjut. Tapi konsentrasinya agak terpecah karena sudah mulai mengikuti klub bola anak-anak. Kalau tidak lagi latihan dan ektrakurikuler Jodi menghabiskan hari-harinya di lapangan perumahan. Bersama teman-temannya, Jodi sangat bersemangat sampai tidak kenal waktu. Dan akhirnya Jodi tumbang, jatuh sakit karena kelelahan.
Kemudian orang tua Jodi membatasi intensitas Jodi dalam bermain bola. Kata dokter Jodi mengalami gangguan pernafasan. Fisiknya seringkali lemah, dan mudah terserang penyakit kalau terlalu lelah bermain.
Untuk mengisi hari-harinya agar tidak selalu sepi akhirnya Ayah Jodi mengajak Jodi berenang sekali seminggu ketika libur sekolah. Di kolam renang umum itu Ayah Jodi bertemu dengan pelatih renang. Dia melihat kalau Jodi berbakat. Kemudian Ayahnya Jodi mendaftarkan Jodi kursus renang.
***
“Renang dengan teknik yang benar dan sesuai petunjuk bisa menjadi obat untuk masalah penyakit yang Jodi alami. Latihan yang teratur akan membuat pernafasannya lancar. Peredaran darah lancar karena otot-ototnya bergerak alami di dalam air. Latihan akan membuat daya tahan tubuh Jodi menjadi kuat dengan teknik yang benar “. kata pelatih.
Jadwal 1 kali seminggu sangat fleksibel untuk Jodi yang masih sekolah. Setelah beberapa kali pertemuan Jodi benar-benar menyukai renang. Dan perubahan fisiknya pun jelas terlihat. Bahunya lebih kuat dan padat. Pernafasannya juga sudah mulai lancar. Jodi tidak mudah sakit, daya tahan tubuhnya lebih kuat dan selalu bersemangat.
Delapan kali pertemuan itu sangat disukai oleh Jodi. Karena dia betul-betul merasakan manfaatnya. Pernafasannya lancar, badannya lebih sehat, dan suaranya dalam mengaji dan berceramah pun mulai bagus. Tidak terdengar tarikan nafas singkat dan putus-putus. Jodi sangat senang. Satu kebahagiaan pun muncul kembali di hati Jodi.
Tapi, sayang siang itu ada kejadian yang membuat Jodi takut. Dalam latihan renang bersama teman-temannya, Jodi merasakan pundaknya ditarik ke dasar air. Dengan kedalaman lebih kurang 2 meter.
Beberapa menit setelah itu Jodi masih bisa menahan nafas. Namun setelah beberapa lama seseorang tidak juga melepaskan tarikannya. Jodi panik, mulai kehilangan akal karena semakin tertarik ke dasar. Badannya yang kecil tidak kuat melawan. Tarikan itu semakin kencang membuat badan Jodi menjadi lemas.
Jodi berusaha melambaikan tangan minta bantuan. Pelatih yang lagi mengajar peserta lain dengan segera menyelamatkan Jodi. Melepaskan tangan teman yang merangkul pundaknya. Dan menarik keduanya ke pinggir kolam.
***
Kejadian itu membuat Jodi trauma. Untuk anak kelas 4 Sekolah Dasar (SD), itu adalah pengalaman yang sangat menakutkan. Jodi tidak mau lagi latihan renang meskipun orang tuanya telah membujuknya berkali-kali. Jodi ketakutan setiap kali melihat kolam renang.
Siang malam Jodi mencoba menghibur hatinya dengan mendengarkan lantunan Al Quran dari speaker kesayangan hadiah dari Ibunya. Mendengarkan cerita-cerita Islam, sejarah Nabi dan juga sahabat. Kali ini ayah Jodi tidak memaksa. Hanya membiarkan saja apa yang membuat hati Jodi senang.
Sambil mendengarkan cerita dan kisah Nabi dia mencoba merangkai-rangkai puzzle dengan seksama. Tangannya berkreasi dan telinganya mendengarkan banyak cerita. Melihat Jodi semangat membuat orangtuanya semakin yakin bahwa Jodi memiliki banyak sekali bakat yang ingin diraihnya, namun selalu ada cara yang tidak diduga bagaimana Allah menunjukkan kuasa-Nya kepada Jodi hingga akhirnya ia menemukan satu bakat yang benar-benar ia cintai.
Di waktu santai Jodi mengulang kata-kata yang dibaca dan yang pernah didengarnya. Ada penggalan-penggalan ayat suci Al Quran di sela-sela ceritanya, Jodi menemukan bakatnya. Dia begitu menyenanginya. Dan mendapat dukungan dari Ayah dan Ibunya. Hari-hari Jodi begitu indah dengan bakat yang memang timbul dari dalam dirinya. Jodi sangat bersyukur karena bakatnya mendapat dukungan penuh dari orang tuanya. Orang tuanya Jodi membuatkan channel khusus untuk menyalurkan bakatnya.
Editor: Rifky Aritama
