Saya OTG (2) : Maaf, Saya Tetap Percaya Dokter
Setelah dinyatakan positif covid-19 (25/12/20), banyak telepon dan WhatsApp (WA) saya terima (27/12/21). Hal itu diketahui setelah seseorang mengirimkan status positif covid-19 saya di grup WA kampus. Bahkan akhirnya saya juga mengetahui informasi tersebut juga dikirim ke grup WA cleaning service kampus. Aneh. Sudah telanjur. Saya sih tidak masalah. Lha kalau sudah telanjur dikirim ke sebuah grup tentu tidak ada jaminan tak tersebar ke yang lain.
Tentu ada yang menganggap pengumunan status saya sebagai orang yang terpapar virus covid-19 tidak elok. Bahkan ada yang menyayangkan. Seorang pejabat kampus sampai WA ke saya. Dia tidak setuju dengan cara-cara seperti itu. Dia merasa itu akan membebani pasien yang terpapar. Logis juga alasannya karena kebetulan dia seorang psikolog. Namun, tentu tak semua orang punya pertimbangan itu. Mungkin bisa jadi pertimbangannya karena ini “penyakit” yang mudah menular maka banyak orang perlu tahu.
Jadi jika Anda terpapar virus jangan takut orang lain mengetahuinya. Setelah publik mengetahui status positif saya, mulai banyak yang telepon memberikan dukungan dan saran. Ada juga yang mengirimkan sari buah, madu, dan makanan lain, termasuk buah-buahan. Ini saya pahami sebagai bentuk perhatian dan menjadi peningkat imun tersendiri bagi saya.
Banyak Saran
Saran teman-teman itu sangat beragam. Ada yang menasihati harus minum obat ini dan itu. Sementara saran mereka itu kebanyakan berbahan kimia. Saya jadi bingung, apakah saya harus terima semua saran tersebut? Bagaimana dengan kekuatan ginjal saya jika harus makan obat kimia? Kalau sekadar saran minum dan makanan yang alamiah tidak masalah. Nah dalam posisi ini saya berhadapan dengan pilihan sulit.
Setiap orang tentu berbeda kondisi terpapar virusnya. Juga, berbeda pula tingkatan berat tidaknya infeksi. Ada yang dibarengi dengan diare, mungkin flu, bisa batuk, sesak nafas, badan meriang ata badan lemas. Tentu itu semua akan berbeda penanganan satu sama lainnya. Saya sendiri Orang Tanpa Gejala (OTG). Lalu apa yang harus saya lalukan dengan informasi bertubi-tubi yang masuk melalui telepon dan WA?
Pilihan saya tetap satu. Saya tetap percaya dan konsultasi ke dokter Rumah Sakit (RS) Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Jika Anda tidak punya dokter untuk konsultasi bisa tenaga kesehatan yang lain yang memang mengerti soal indikasi dan dampak obat. Bukan tak percaya omongan orang lain, tetapi ini menyangkut bahan kimia yang bernama obat.
Kalau hanya OTG, cukup dengan melakukan isolasi mandiri di rumah, minum multivitamin, istirahat cukup, banyak makan makanan yang bergizi, rileks, tidak tegang, minum air putih cukup, olah raga, berjemur matahari pagi semua akan beres. Tetapi untuk menentukan tingkat infeksi bukankah tetap membutuhkan informasi medis? Ini menurut saya.
Obat-Obatan dari Dokter
Saat saya dinyatakan positif covid-19 (23/12/20) tentu saya bingung. Apa yang harus saya lakukan? Saya menghubungi siapa untuk pemulihan? Karena dari kampus informasinya saya hanya dinyatakan positif covid-19 dari hasil swab tes PCR. Jam 20.00 WIB tanggal 23 Desember 2020 saya memberanikan diri mengontak dr. Thontowi NS, M.Kes penanggung jawab kegiatan Test GCU Kampus UMM.
“Assalamu’alaikum. Dokter, saya Nurudin. Mau konsultasi ini. Saya barusan mendapatkan surat dari kampus. Hasil tes swab saya positif. Jadi ada gejala virus covid-19. Diminta isolasi dan tidak boleh ke kampus. Mohon saran; (1) vitamin atau suplemen apa yang harus saya konsumsi selama isolasi? (2) apakah anak dan istri saya perlu untuk melakukan rapid test antibodi atau swab antigen? Sehat selalu pak dokter. Matur suwun atas bantuannya”.
Sarannya, prinsipnya saya harus isolasi mandiri, juga lakukan protokol kesehatan. Lalu soal multivitamin, dokter menyarankan Theragran M (1×1) dan Dextamin (3×1). Anak istri belum saatnya dites swab. Demikian jawaban dokter yang akrab dipanggil dokter Tommy tersebut. Tidak ada saran lain. Lalu saya bergegas menuju apotek mencari obat yang disarankan. Bahkan saat saya minum susu kaleng bear brand pun bertanya pada dokter apakah diperbolehkan minum susu tersebut saat minum obat? Ternyata diperbolehkan.
***
Lalu hari Minggu 28 Desember 2020, kami yang positif covid-19 diundang pertemuan online melalui zoommeeting. Hadir saat itu Wakil Rektor 2 UMM (Nazaruddin Malik), dr Thontowi (dokter RS UMM), Zakarija Achmat (Kabag personalia UMM). Pertemuan penting dilakukan untuk memberikan semangat dan hal-hal penting apa yang harus dilakukan saat menjalani isolasi mandiri (isoman). Pertemuan memang tidak terlalu lama tetapi sangat berkesan karena kami mendapat perhatian dan dukungan sepenuhnya oleh kampus beserta fasilitasnya.
Kami kemudian diberikan paket obat selama isoman oleh kampus. Becomzet (multivtamin), sari buah produk Lazismu Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim, betadine mouth wash (obat kumur) dan sodium chloride 0,9% (cairan pembersih di lobang hidung). Disarankan pula untuk berjemur pagi hari dan olah raga secara rutin selama isoman. Di rumah saya juga mengisolasi di kamar dan mematuhi nasihat dokter dengan protokol kesehatan ketat (termasuk memakai masker meski saya di kamar, apalagi keluar kamar). Anak istri saya wajib memakai masker pula.
Asupan Selain Obat dari Dokter dan Kegiatan Selama Isolasi
Lalu apakah saya hanya mengonsumsi obat-obatan dari RS di atas? Tidak. Ini rincian saya yang saya konsumsi setiap hari. Pagi setelah makan saya minum air hangat rempah (jahe merah, kunyit, kencur). Saya minum 3 kali sehari. Juga minum madu 2-3 sendok makan (2 kali sehari). Lalu minum 2 sendok makan sari buah (dalam kondisi tidak positif covid-19 bisa hanya 1 sendok) dua kali sehari. Bahkan sari buah ini tetap saya minum dengan takaran normal setelah saya dinyatakan negatif covid-19.
Tentu saja tetap minum multivitamin yang disarankan dokter 1 kali sehari. Minum multivitamin ini harus sebelum jam 16.00. Jika meminumnya sehabis itu bisa jadi malam tidak bisa tidur karena badan segar. Juga membersihkan hidung dengan sodium chloride 0,9% dua kali sehari. Sementara itu, betadine kumur bisa 3-4 kali sehari sesuai petunjuk dalam kemasannya. Betadine kumur ini bisa digantikan dengan rebusan air sirih (ini dianjurkan dokter saya). Juga bisa dengan campuran garam dan air hangat.
Kegiatan lainnya sebagaimana umumnya. Pagi olahraga ringan di rumah dan berjemur matahari selama 15 menit. Saya tidak lupa mengomsumsi air putih sehari dengan cukup. Ukuran standar 30 ml/ 1 kg berat badan. Sesekali saya juga menghirup minyak kayu putih yang sudah saya oleskan dalam tisu. Cara ini membuat nafas saya jadi segar. Kadang tisu yang sudah saya basahi dengan minyak kayu putih itu saya masukkan ke lobang hidung lalu saya sedot.
Selanjutnya Bagaimana?
Kesimpulannya adalah pertama, jika terpapar covid-19 pastikan kita punya acuan medis. Bisa dokter, perawat atau tenaga medis lain yang memang mengetahui obat-obatan. Sebaiknya juga mengonsumsi obat yang disarankan. Bisa jadi seseorang ingin cepat pulih dengan mengonsumsi banyak vitamin. Masalahnya tubuh kita kuat apa tidak? Apakah tidak terjadi overdosis yang justru tak bermanfaat bagi tubuh?
Kedua, jangan mudah percaya dengan informasi yang tidak akurat seperti yang tersebar di WA atau yang lainnya. Boleh percaya tetapi dengan pertimbangan dan saran orang lain. Ingat bahwa apa yang dikirim orang lain itu belum tentu cocok untuk kondisi diri sendiri. Bisa juga orang lain itu hanya menyebar informasi berantai dari orang lain dan lainnya, bukan?
Ketiga, mau mengonsumsi selain obat kimia boleh. Tentu yang aman-aman. Bisa rampah-rempah. Perlu juga meningkatkan makan sayuran dan buah-buahan. Ingat bahwa saat ini kondisi sedang darurat covid-19.
Keempat, jangan lupa lebih mendekatkan diri pada yang Mahakuasa ya Rahmania. Ini kunci dari segala kunci penyembuhan. Ini bisa jadi ini cara Tuhan menyadarkan seseorang. Ada banyak hikmah yang bisa Rahmania dapatkan.
Penulis Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Twitter/IG: nurudinwriter

firly istighfarin
Subhanallah, walhamdulillah,
Tulisan ini sangat mengedukasi, utamanya untuk orang yang “parno” dengan covid lalu mengkonsumsi banyak obat dan suplemen tanpa peduli efek samping dikemudian hari.
Stay safe and healthy Pak Nurudin.
Damas El Loda
Luar biasa pengalamannya Pa Nurudin. Terima kasih sudah membagi hal yang positif dan sangat berguna bagi masyarakat. Sehat selalu Pa Nur, Tuhan memberkati.
Nasa mBantul
Matur nwn sanget share pengalamannya mas dosen, mugi2 kita semua sehat2 selalu….