Sebuah Percakapan Perjalanan Hijrah Ekologis
Suatu waktu seorang teman perempuan memberitahu saya soal pola perilakunya yang berubah sejak mengenal Greta Thunberg, seorang anak yang melontarkan pidato pedasnya di forum PBB “Climate Action Summit 2019”. Teman saya mengatakan bahwa ia akan hijrah, lantas saya kaget, hijrah seperti apa yang dia maksud.
Greta Thunberg telah menginspirasi jutaan anak muda di dunia termasuk teman saya ini. Dia bilang kalau Greta anak pemberani. Di hadapan pemangku kebijakan kapitalis, atau developmentalis; ia bernyali besar mengutarakan keresahan sebagai generasi penduduk bumi tentang persoalannya terhadap kerusakan lingkungan. “How dare you!!” Kata-kata Greta yang membuat kita larut dalam emosionalnya.
“Memang kenapa?” Saat itu saya sudah tahu aksi berani Greta, namun saya ingin lebih tahu mengapa teman saya itu begitu tertarik dengannya.
Ternyata tak hanya lantang di forum, Greta juga menerapkan perilaku bijak terhadap lingkungan, semisal tidak membeli baju baru atau dia melakukan thrifting. Teman saya mulai mengikuti kebiasaan baik perempuan asal Swedia itu. Pemikiran Greta mempengaruhi pemikiran dan kebiasaannya hingga saat ini. Dia ingin berhijrah dengan mencoba menerapkan budaya ramah lingkungan.
“Greta memang pemberani, di forum PBB jika diberi kesempatan buat berdiri di mimbar, maka terlebih dahulu saya memberi salam kepada orang tua kalau anaknya berada di forum lintas negara sambil melambai tangan ke hadapan kamera,” guyonan saya.
Datangnya Hijrah Ekologis
Saya pernah melontarkan pernyataan bahwa perempuan menjadi salah satu entitas penyumbang sampah. Waktu itu saya ingin memancing diskusi agar lebih kriris. Sebelumnya saya juga pernah melihat di beranda media sosial bahwa pembalut menjadi salah satu penyumbang sampah.
Saya kaget dengan jawabannya. “Makanya pakai pembalut kain yang mudah dicuci, selain mengurangi sampah, di sisi lain juga menghemat pengeluaran perempuan.” Sambil bangga dia mengutarakan hal itu dan buat saya paham, dimulai dari lini terkecil kita harus mengubah kehidupan kita demi kelangsungan lingkungan hidup.
Melansir situs Femme International (Kompas) pembalut sudah ada pada abad 10 Yunani Kuno. Awalnya kaum hawa ketika sedang haid, mereka menggunakan pembalut berbahan kain, kapas atau kain wol. Seiring berjalannya waktu, pembalut mengalami perkembangan desain, pembalut kini berasal dari bahan sintesis yang lebih mudah menyerap cairan dan mudah untuk diperoleh dengan harga terjangkau. Namun celakanya, dengan banyaknya pembalut berbahan sintetis, membuat ancaman kesehatan bagi reproduksi perempuan; ditambah bahan dasar pembalut yang tidak ramah lingkungan karena menjadi penyumbang pencemaran.
Inovasi dilakukan dan bentuk pembalut kembali ke pada masa awal adanya pembalut, yakni dengan jenis menstrual pad atau pembalut dari bahan kain yang lebih ramah lingkungan dan menghindarkan perempuan dari ancaman kesehatan. Tidak hanya pembalut, popok bayi dengan bahan dasar serupa juga menyumbang sampah, bayangkan manusia lahir saja sudah membawa permasalahan sampah.
Membaca Realita Kehidupan
Hal selanjutnya yang buat saya impresif adalah kebiasaan dia pasca belanja daring. “Kita tahu bahwa packaging untuk membungkus paketan barangkan dari plastik bubble wrap, itu juga menyumbang sampah dan jadi persoalan baru, makanya saat belanja buble warp itu disimpan dan bisa digunakan untuk membungkus barang-barang lain untuk keperluan pengiriman lain.”
Saya teringat saat kecil, ketika membeli barang terutama elektronik pasti akan ada bubble wrap, ketiku itu saya menjentikkan gelembung itu dan timbullah bunyi yang khas “pletak”.
“Jadi bubble warp itu ga dibuang jadinya menumpuk di rumah deh, mungkin akan digunakan untuk keperluan packaging lain,” imbuhnya.
Secara sadar teman saya itu bilang belum mengetahui apa itu ekofeminisme; dugaan saya mungkin karena dia belum membaca literatur tentang hal itu. Tetapi peduli setan, saya anggap mencari ilmu itu tidak harus dengan membaca buku; pengetahuan lahir dari interaksi antara diri kita dengan bukan diri kita. Menurut Notoatmojo, pengetahuan dapat diperoleh dari pengindraan manusia dengan objek tertentu. Setidaknya teman saya itu telah berusaha membuat hidupnya berperan baik bagi lingkungan dengan cara hijrah perilaku. Saya pikir itu keren, maksudnya perihal yang belum para perempuan pada umumnya lakukan, dia berusaha untuk melakukannya demi perbaikan lingkungan kelak.
*
Saya tidak bermaksud mendiskreditkan kegiatan membaca terhadap buku, namun lebih jauh saya ingin membayangkan bagaimana bila pengetahuan hanya terpusat pada kumpulan tulisan. Banyak episentrum pengetahuan bertebaran di sekitar kita. Coba bandingkan dengan masyarakat adat, warga desa agraris, mereka dengan bijak mengelola dan hampir setiap waktunya berinteraksi dengan alam. Mereka tidak akrab dengan buku, melainkan berliterasi dengan gelaja alam; angin barat atau timur, aktivitas hewan, dsb. Kesakralan dan menghormati alam sebagai bagian dari kehidupan lebih jauh memandang keberlanjutan ekologis.
Lanjut lagi dia bercerita. Dia mengutarakan bahwa tidak mengerti betul konsep ekofeminisme, belum pernah membaca, hanya sesekali mengikuti diskusi dengan tema yang hampir menjurus. Akan tetapi kesadarannya terhadap lingkungan yang ia peroleh dari sosok Greta sudah cukup memantiknya. Kini perolehan yang ia dapat tak terbatas dari Greta, ia juga mulai belajar melalui media untuk menambah informasi.
Kesadaran Lingkungan Buah dari Pengaruh Media
Kaum muda begitu akrab dengan media, berupa gawai atau aplikasi media sosial. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa 143 juta jiwa anak muda mengaskes internet dan sekitar 78%-nya untuk mencari informasi atau berita. Hal itu menunjukkan lalu lintas internet sungguh luar biasa di kalangan generasi saat ini. Tak heran aktivisme media menjadi gerakan baru yang melibatkan kaum muda sebagai partisipan ataupun inisiator gerakan.
Teman saya masuk ke dalam 78% tersebut, selain dari Greta, ia juga aktif berselancar di dunia maya, media sosial. Hal itu membuatnya melek terhadap realitas terkini. “Coba lihat banyak banget kerusakan karena korporasi tambang, itu sumber daya alam di Papua, Kalimantan juga di daerah lain dieksploitasi, kasihan banget kan, kita yang di pulau Jawa enak-enak aja menikmati hasilnya, tapi orang yang di sana malah kesusahan.” Ujar teman saya itu.
*
Saya pun tertarik dengan pernyataannya, “Memang media terutama platform Non-Governmental Organization (NGO) berbasis ekosob sedang gencar mengabarkan kepada kita nih generasi muda, buat peduli sama lingkungan. Banyak NGO yang sudah se–visi untuk mengabarkan hal itu, jadinya kampanye dan aktivisme lingkungan itu bisa berawal dari media sosial.”
Thats right, teman saya ini jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, sesekali ia keluarkan kata-kata asing itu. Dia sering memberitahu saya tentang tayangan video atau semisal liputan dokumenter produksi Watchdoc yang harus saya tonton. Hebatnya, dia juga membuat liputan untuk mengajak warganet membangun kesadaran lingkungan. Pernah ia memberitahu hasil video yang ia unggah di salah satu media sosial lalu menunjukkan hasil tayangan. Kini tayangannya sudah ditonton hampir 3000-an kali, suatu medium yang sangat hebat karena daya jangkau dan kemudahannya.
Kegiatan hijrah terbarunya yakni dengan membiasakan berbelanja barang bekas atau thrifting. Hal itu bisa mengurangi penggunaan serat kapas dan produksinya yang memerlukan air cukup banyak untuk menghasilkan satu potong baju atau celana. Budaya yang kini sedang kaum muda gandrungi, jika kita lihat dari sisi lain, hal itu berdampak baik untuk mengurangi laju budaya konsumtif terhadap fesyen (low fashion) yang bermuara pada keberlanjutan fesyen atau sustainable fashion.
Teman saya bisa ditemui di kanal media sosial Tiktok dengan pengguna nama xlonelostsoulx.
Kepala Bidang Lingkungan Hidup Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang Jakarta Timur; Lembaga Kajian dan Solidaritas untuk Alam (LKSA)
