Mamaku Pergi sebelum Aku Tiba (2)
Namun, tak aku sangka tangisan mulai bercucuran entah sejak kapan. Aku bingung dan memiliki tatapan kosong. Apa yang telah terjadi? Apakah mama baik-baik saja? Mungkinkah kami masih bersama? Ada apa dengan kisahku? Apakah ada potongan cerita yang tak bisa aku selesaikan? Suasana yang menegangkan dan menyedihkan tersebut, membuat para pekerja istirahat sejenak dan langsung menghampiri aku.
“Ada apa Fider? Ceritalah.” Salah satu rekan kerja aku bertanya.
Suara aku yang tengah sulit mengungkapkannya, membuat mereka terus bertanya. Aku memandang mereka dengan air mata laksana hujan turun dengan kesedihan yang terurai tak tertahankan.
“Ibu aku sedang koma.” Jawabku lirih seperti bisikan.
“Yang kuat, Der. Semuanya sudah di atur oleh Tuhan. Hidup adalah sudah sepenuhnya milik dan hak yang Kuasa.” Hibur rekan kerja aku yang lain.
***
Telepon aku kembali berdering. Aku pun langsung menjawabnya.
“Fider, hari ini kita pulang. Mama belum sadar,” ucap kakak aku dengan suara tangisan yang masih terdengar jelas.
“Iya, kak, kita pulang hari ini demi mama. Aku izin dulu sama mandor.” Aku pun menutup telepon.
“Pak,” Mandor pun langsung menghampiri aku.
“Der, kamu pulang kampung, ya?” Tanya beliau langsung sepertinya sudah tahu apa yang telah terjadi.
“Iya, Pak. Aku izin pulang dulu untuk sementara waktu. Aku ingin memastikan bagaimana kondisi Ibu aku.” Kataku penuh harapan.
“Baik, Der. Ini ada uang tiga juta kamu pakai untuk ongkos pulang kampung.” Kata beliau sambil menyodorkannya ke arah aku.
“Pak, ini besar sekali ya Pak,” kataku tidak enak menerimanya.
“Sudah, pakai aja dulu. Nanti kalau sudah pulang kita bicarakan. Doa aku semoga mama cepat sembuh dan hati-hati di jalan, Der.” Imbuh beliau tulus.
“Terimakasih banyak, Pak.” Tanpa banyak kata aku pun langsung pulang dari tempat kerja.
***
Suasana berubah 180 derajat, kebahagiaan dan tawa kami pagi itu berubah menjadi kesedihan yang menakutkan. Dari gang masuk ke kos, aku melihat kakak aku menangis kencang di depan kos milik orang Karo itu. Aku berlari menghampiri, memeluk kakak aku dan menangis seperti kehilangan secercah harapan.
“Kak, bagaimana keadaannya Ibu, sekarang?”
“Ibu belum sadar dari tadi, dek.”
“Ros, Fider. Kalian yang kuat ya, Nakku. Berdoalah semoga Ibu bisa pulih kembali,” ucap ibu kos prihatin.
Sambil menelepon keluarga dari Pekanbaru yang akhirnya kami sepakat untuk berangkat hari ini juga. Kemudian aku mengecek tiket pesawat rute Medan-Nias alhasil tiket pesawat tidak ada. Untuk meminimalisir waktu, kami pun memutuskan untuk melakukan perjalanan darat dan laut. Aku kemudian menelepon travel untuk berangkat sore ini. Tanpa banyak tanya, akhirnya kami barangkat sore harinya.
Di perjalanan dari Medan menuju penyembarangan laut Sibolga, harapan dan doa agar ibu bisa bertahan dan aku bisa bertemu dalam keadaan sehat, tiba-tiba, telepon aku berdering, papa menelepon.
“Kalian di mana, Nak?”
“Kami lagi di mobil, Pa.” ayah pun mengeluarkan tangisan kencang seperti tak ada harapan.
“Kenapa, Pa?”
“Ibumu belum sadar sampai saat ini.”
Aku pun hanya mampu meneteskan air mata berulang-ulang.
“Kalian yang kuat dan hati-hati di jalan,” pesan Papa dengan suara lirih.
“Iya, Pa.”
***
Kesedihan mewarnai sepanjang perjalanan kami saat itu. Kami seperti kehilangan kekuatan harapan dan lain-lain. Malam gulita pun tiba dan mobil yang kami tumpangi istrahat sejenak. Aku melihat jam menunjukkan pukul 12.55 WIB, kami istirahat sejenak sambil memesan kopi. Kurang lebih pukul 01.00 WIB dini hari papa kembali menelepon. Namun kali ini dengan suara tangisan dan aroma keributan yang sangat besar langsung menghampiri telingaku.
“Kenapa, Pa?” tanyaku sedikit gemetaran.
“Kalian ikhlaskan ibumu, dia sudah tidak kuat lagi.”
Kata-kata papa seperti jarum yang habis menusuk-nusuk tak henti. Sakit namun tak berdarah. Untuk hal ini, hati tak kunjung mengikhlaskannya. Mengapa mama tidak menunggu? Kehilangan. Ibu adalah orang istimewa bagiku begitupun dengan orang lain. Namun, sebagai anak ada banyak harapan dan keinginan yang ingin diwujudkan. Seperti halnya kakak yang berkeinginan bahwa Mama bisa menunggu hingga dia wisuda nanti.
“Padahal tinggal lima bulan lagi, Ma.” Katanya dengan kesedihan yang mendalam.
***
Papa kembali menelepon memberitahu bahwa ibu menghembuskan nafas terakhir tepat setelah kami selesai berbicara. Harapan papa semoga kami hati-hati di jalan dan diberi kekuatan sampai dengan selamat di Nias.
Ibu, anakmu sungguh tak kuat jika engkau pergi. Siapa lagi yang akan mendampingiku saat-saat aku ingin dipeluk? Kepada siapa hendak mengadu jika ada yang menyakiti hatiku? Kepada siapa anakmu bersandar jika suaramu tak kunjung ku dengar lagi? Sesak. Itu yang terjadi. Aku memeluk kakak aku dalam mobil sekuat tenaga, menghibur kakak yang tentu sama rapuh dengan aku.
Ikhlas. Itu adalah suatu hal yang begitu kejam karena begitu hadir tiba-tiba dan terpaksa harus melakukannya. Namun, pun demikian kami yang tengah diperjalanan, doa kami tak henti bermunajat kepada ilahi.
“Tuhan, Ibu telah pergi menghadap engkau bahkan sebelum aku tiba dan berada disisinya. Semoga Mama tenang di sisiMu.”
“Selamat jalan, Ma. Biar berat namun hidup harus terus berjalan. Doa Mama dari Surga, kami harapkan menjadi motivasi dan semangat kami dalam menjalani hari-hari kami.”
“Ma, maaf tidak sempat memelukmu dalam sakitmu,”
Kami pun menuju Nias dengan tangis dalam mobil hari itu.
Penulis merupakan Pegiat Literasi Sosial. Facebook : Fider Gori Instagram : fider_gori.
