f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Transfer Bio Memori, Ingatan Seorang Kakek

Tahun 2009. Saya sempat mengagumi seseorang karena kecerdasannya. Bukan seorang perempuan. Dia adalah salah satu orang yang saya anggap sebagai guru saya. Laki-laki berumur sekitar 70 tahun. Saya mengagumi kecerdasannya. Utamanya cara beliau dalam mengajukan logika-logika religius. Ya, yang saya maksudkan adalah argumentasi dalam beragama.

Waktu itu saya baru lulus SMA. Hendak menuju bangku kuliah. Baru kenal dengan berbagai pemikiran baru. Ibaratnya anak ayam yang baru keluar kandang, untuk pertama kali. Apa yang terjadi, sangat kagum dengan pemikiran-pemikiran keagamaan canggih yang belum pernah saya temui.

Kembali pada sosok karismatik tersebut. Seorang kakek berumur sekitar tujuh puluh tahun. Dengan kecerdasan yang menurut saya cukup baik. Paling tidak menurut saya waktu itu. Saya serentak berpikir bagaimana dapat meniru gaya pikiran beliau. Utamanya cara bagaimana beliau bernalar dan berargumentasi.

Maka, muncul ide yang cukup gila. Yaitu dengan transfer bio memori. Ini adalah sebuah teori bagaimana melakukan trasnfer pikiran dari satu orang ke orang lain. Bisa dilakukan secara singkat dengan sebuah perangkat yang sangat rumit. Saya akan bersedia jika diminta untuk mewarisi pikirannya melalui trasfering bio memori ini.

Ya, dengan metode ini, pikiran seseorang akan diekstrak untuk kemudian dipindahkan ke pikiran orang lain. Hanya perlu waktu kurang dari satu jam untuk melakukan proses ini. Ya, sebuah warisan berbentuk bio memori. Lagi pula anak-anak beliau tampaknya tidak membutuhkan.

Kakek Itu Adalah Sosok Perintis

Seorang kakek berkharisma itu adalah salah satu perintis sebuah gerakan Islam di salah satu kota. Pikirannya yang maju untuk ukuran pada masa itu membuat dia dapat melakukan itu. Tidak mudah memang. Butuh tekat dan keberanian. Namun, yang paling utama yang dapat membantu dia melakukan itu adalah pikiran yang canggih.

Jasa-jasa beliau banyak. Misalnya saja, dia adalah salah satu perintis salah satu universitas terbesar di provinsi Jawa Timur. Orang seperti ini bukan sembarang orang. Universitas tersebut menjadi salah satu universitas rujukan favorit mahasiswa.

Baca Juga  Merasakan Berbagi Cinta

Sangat luas kampusnya. Beberapa gedung tinggi bertingkat-tingat. Tiap tahun ribuan mahasiswa datang untuk belajar di universitas tersebut. Ini baru universitas. Beliau juga mendirikan beberapa sekolah dan masjid. Juga panti asuhan. Bukan atas nama beliau. Tapi atas nama organisasi. Dia adalah perintis dan penggerak.

Setelah banyak berkiprah. Umur yang sudah berkisar 70 tahun itu memberikan kesan bahwa memang beliau tidak butuh lagi pikiran-pikirannya yang canggih itu. Memang harus diwariskan. Diwariskan kepada seseorang agar pikiran itu tetap bermanfaat ketika beliau wafat.

Kondisi Kakek, Jadi Alasan Tepat Transfer Bio Memori

Ya, ini keputusan yang tepat. Jika tidak, pikiran itu akan dibawa ke alam kubur. Dan di sana tidak dibutuhkan lagi. Padahal, pikiran itu adalah akumulasi berbagai pengalaman seumur hidup.

Hela nafas yang kadang sudah memberat. Lamunan yang cukup dalam. Saya kadang tidak sengaja mengamati itu. Menimbulkan kesan bahwa beliau sudah siap meninggalkan dunia ini. Sudah siap untuk berpindah ke alam lain.

Lagi pula, anak-anak beliau sudah berhasil. Paling tidak sudah bisa dikatakan mandiri. Satu orang menjadi pegawai tetap di universitas yang dirintisnya. Satu orang menjadi pengajar di universitas tersebut. Satu orang menjadi pegawai ngeri sipil sebagai guru. Satu orang bisa dikatakan berhasil dengan usahanya. Dan si bungsu. Dia sudah dinikahi oleh seseorang. Paling tidak sudah ada yang mengurusnya.  Artinya, bio memori beliau yang berisi pikiran-pikiran canggih itu sudah tidak dibutuhkan lagi oleh anak-anaknya.

Usia yang sudah sedemikian memang sudah rentan dengan sakit. Tiba-tiba beliau mulai sakit. Mesti di rawat di rumah sakit yang tidak jauh dari kediaman beliau. Beberapa hari rawat inap di rumah sakit. Murid-muridnya menjenguk di rumah sakit bergantian. Keluarga dekat beliau menunggui bergantian. Banyak orang akan merasa sangat kehilangan jika beliau pergi. Seorang tokoh yang sangat berpengaruh akan tinggal kenangan jika beliau pergi.

Pikiran-pikiran cerdasnya sudah tidak beliau perlukan lagi. Fisik sudah melemah. Sudah lelah dengan kehidupan dunia ini. Lagi pula, sudah banyak yang dia tinggalkan untuk organisasi keagamaan yang dia ikuti. Beliau sudah banyak berbuat untuk umat.

Baca Juga  Seorang Kakek, Para Astronot dan Perbaikan Ekologi

Memori Kepergian Sang Kakek

Selama beliau dirawat di rumah sakit. Saya hanya sekali menjenguk beliau. Bahkan seingat saya, saya juga tidak ikut menjenguk ketika beliau dirawat di rumah sakit sebelumnya. Sebelum ini, beliau pernah cukup lama di rawat di rumah sakit. Namun kali ini, suasananya sedikit berbeda. Tampaknya beliau sudah memberikan tanda-tanda berpamitan.

Dini hari, terdengar kabar bahwa beliau telah pergi. Kabar ini serentak menyebar ke seluruh kota. Kebiasaan di organisasi kami, jika orang meninggal hanya dijenguk saja. Inilah yang disebut takziyah. Memandikan, mengkafani, menshalatkan dan mengkuburkan tentu. Tanpa ada acara-acara tertentu setelahnya.

Orang-orang berdatangan. Rumah sakit tempat beliau dirawat telah memberikan pelayanan terbaik. Karena rumah sakit itu adalah salah satu unit milik universitas yang beliau rintis. Beliau wafat beberapa tahun setelah pertama kali saya mengenal beliau.

Bagaimana dengan pikiran-pikiran canggihnya? Saat ini belum ada teknologi untuk mengekstrak pikiran seseorang seperti yang saya sebutkan di atas. Namun, saya berharap suatu ketika akan ada teknologi semacam itu.

Jika Teknologi Bio Memori Itu Ada..

Bagaimana jika suatu saat teknologi seperti ini memang ada? Tentu, pengalaman-pengalaman seseorang akan dapat diekstrak sebelum mereka wafat. Untuk kemudian diberikan pada siapa saja yang mau memakainya. Atau mungkin bio memori yang telah diekstrak itu disimpan dalam sebuah eksternal memori untuk disimpan. Suatu ketika, dapat digunakan jika ada yang membutuhkan. Yang diinginkan dengan adanya teknologi semacam ini adalah kecerdasan-kecerdasan seseorang tidak dibawa ke alam kubur.

Tapi, bagaimana dengan pikiran-pikiran buruk? Atau pikiran jahat? Tentu ini bisa disiasati dengan hanya mengambil pikiran orang-orang baik saja. Tapi, yang menjadi persoalan adalah, bahwa dalam bio memori seseorang yang sangat baik sekalipun akan ada pikiran jahat. Artinya, harus pula dikembangkan teknologi untuk memilah bio memori.

Baca Juga  Menolong Anak Yatim

Artinya, bio memeri yang telah diekstrak tersebut harus dapat diidentifikasi tiap macamnya. Harus dibuat kode-kode tertentu untuk menamai tiap variabel dari bio memori tersebut. Kemudian, pikiran bio memori yang dikehendaki baru dapat ditransfer ke pikiran seseorang. Lalu bio memori dengan kode-kode yang tidak dikehendaki dapat dimusnahkan. Supaya tidak disalahgunakan.

Saat ini, di masa kita, gaya pikiran seseorang hanya bisa dipelajari secara manual. Kemudian diingat-ingat dalam memori masing-masing. Atau dicatat. Masa kita adalah masa di mana untuk mewariskan sebuah pikiran, seseorang harus mengajarkan secara manual.

Bagaimana dengan kakek sepuh yang telah wafat di atas? Beliau hanya menjadi kenangan. Pikirannya yang brilian ikut dikubur bersama jasadnya. Saya hanya menyimpan beberapa ajaran beliau yang masih saya ingat. Dan itu juga tercampuri dengan pikiran saya sendiri. Pada akhirnya, pada masa kita, setiap orang harus mengembangkan pikiran masing-masing.

*) Penulis adalah alumni jurusan FAI Universitas Muhammadiyah Malang

Bagikan
Post tags:
Post a Comment