f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
surau

Merayu Tuhan di Surau Kakek

Malam ini hujan masih agak deras. Di hadapanku, segelas bandrek hangat mengepulkan asapnya. Ibu menghampiriku dan menyerahkan satu jaket tebal. Sedangkan bapak, aku mengamatinya dari balik jendela ruang tamu, bersiap naik ke surau. Aku memandanginya lekat dari ujung kepala hingga kaki. Tiba-tiba aku mengepalkan tangan, mengingat perlakuan bapak yang menurutku terlalu kasar kepada anaknya sendiri.

Aku sempat berontak ketika bapak menyeretku pulang, tadi sore. Aku bermain layang-layang hingga lupa bahwa senja hampir sempurna. Pada saat itu aku jengkel sekali melihat Firman. Dia memiliki layangan besar dengan kerangka yang paling unik di antara yang lain. Hanya karena itu, dia merasa berhak menerbangkan layangan sejauh mungkin. Dan dengan keangkuhannya, layangan itu akan menari, meliuk-liuk, seolah mencibir layangan kerdil yang berada di sekitarnya.

Saat bapak menjemputku, langit mendung dan sepertinya siap menurunkan hujan pertama setelah berbulan-bulan kemarau. Layang-layang milikku akhirnya diistirahatkan. Setelah puas memarahiku di rumah, bapak menyuruhku berganti pakaian dan segera naik ke surau. Namun, ibu melarangku, dia menyodorkan bandrek hangat dan meyuruhku beranjak setelah Isya karena hujan belum reda.

***

“Nak, kalau kamu udah besar, ibu ingin kamu seperti bapakmu.” Ibu berkata sambil menunjuk bapak, sedangkan tangan satunya mengelus rambutku. Di surau ada beberapa anak kecil belajar alifbata sejak Asar. Mereka akan salat Maghrib dan Isya bersama bapak. Jika malam Jumat, orang-orang di kampungku akan menyesaki surau. Dan bapak, dia bersila di tengah-tengah warga yang duduk melingkar.

“Setelah lulus SMP, aku ingin melanjutkan SMA, Bu. Bukan tinggal di pesantren seperti  yang bapak minta.” Aku berucap datar, khawatir ibu tersinggung.

Saat ini aku duduk di bangku kelas satu SMP. Awalnya, setelah lulus SD aku bakal diantar ke pesantren. Saat itu aku menolak dan pergi ke rumah kakek, menginap di sana bermingu-minggu. Akhirnya kedua orang tuaku luluh, membiarkan aku untuk lanjut sekolah. Tapi nyatanya, setelah lulus SMP aku bakal tetap diantar ke pesantren. Entahlah, teman-temanku sudah ada yang berniat  pindah sekolah ke luar kota dan melanjutkan kuliahnya.

Baca Juga  Memeluk Rasa

“Sttt…. Jangan dulu bicara,” desis ibu sambil meletakkan telunjuknya di bibirku.

Tatapanku fokus ke depan, melihat tetangga mulai berdatangan.

“Nak, coba kamu lihat. Orang-orang sudah bersiap untuk merayu Tuhan!” Ibu kembali berkata dengan suara lembutnya. Aku mengernyitkan dahi dan bertanya dengan nada heran, “Merayu Tuhan! Maksud ibu?”

Ibu tidak menjawab. Dia malah menyuruhku mengenakan baju putih dan sarung. Di luar azan Isya berkumandang. Setelah mengenakannya, sebelum aku pergi ke surau, ibu menghampiriku dan memakaikan kopiah hitam agak kemerahan seraya berkata, “Sekarang malam Jumat, Nak. Bergabunglah bersama orang-orang malam ini.” Aku hanya mengangguk dan masih bingung dengan ucapan ibu sebelumnya.

***

Hujan menyisakan gerimis. Aku berjalan pelan menuju surau yang mirip seperti rumah panggung. Surau itu merupakan warisan kakek, umurnya sudah sangat tua—terapit satu rumah di bagian utara dan kandang sapi di sebelah selatan—tapi tetap kokoh ditopang kayu jati dan masih bersahaja.

Ya, aku masih ingat betul ibu pernah menceritakan kenangan perihal surau. Mungkin itu salah satu alasan bapak dan ibu, tidak mengubah arsitektur surau ini seperti kebanyakan orang, yang rata-rata menggunakan batu-bata.

Aku menaiki anak tangga yang tidak terlalu tinggi. Tepat ketika berada di kerumunan orang, sambil menundukkan pandangan, aku membungkuk sesuai yang pernah bapak ajarkan padaku jika hendak bersalaman dengan orang yang lebih tua, apalagi orang itu berilmu dan berakhlak.

Setelah kami shalat Isya berjamaah, aku duduk di samping bapak. Dengan tenang, bapak mengucap salam dan memberi sedikit pembuka sebelum acara rutin malam Jumat dimulai. Di surau ini, aku memandangi ibu dari kejauhan. Kudapati dia tersenyum dari balik jendela yang kehitaman, aku membalas seyum itu malu-malu. Sungguh, tak pernah aku melihat senyum setulus itu dari bibir orang lain, kecuali ibuku sendiri. Senyuman yang pernah membuatku luluh ketika aku bersikeras agar bisa menyambung sekolah, hingga kuliah.

Baca Juga  Ayah Pahlawanku
***

Suara bising jangkrik mengerik, katak kembung menyahutnya dari berbagai arah. Orang-orang di sekitarku menyimak petuah-petuah yang disampaikan bapak. Mereka mendengarkannya penuh takzim. Aku acuh tak acuh dan terus berkutat memikirkan ucapan ibu barusan; bagaimana caranya merayu Tuhan di surau? Bukannya semua orang berlomba-lomba pergi ke Tanah Suci agar semakin dekat dengan Tuhan?

Baru sekarang aku mengikuti kegiatan ini. Biasanya aku hanya mengaji selepas maghrib hingga Isya. Setelah itu aku turun dari surau dan melanjutkan bacaan Alquran yang kurang fasih bersama ibu, di dalam rumah. Kulihat bapak mengambil satu kotak kecil, membuka dan mengambil isinya. Dia kemudian menyuruhku untuk melakukan hal yang sama. Aku memberikan kotak itu ke samping kanan dan seterusnya. Aku menatap apa yang sedang aku genggam. Orang-orang mengalihkan pandangan ke bawah setelah bapak memulainya dengan mengirim fatihah kepada sesepuh.

Seketika, aku mendapatkan sedikit getaran dari biji jagung dalam genggaman yang kelihatannya sudah bertahun-tahun tak pernah diganti. Entah ada berapa butir di tanganku. Kuamati di sekelilingku mulai menjatuhkan satu butir jagung disusul dengan bibir yang merapalkan bacaan. Bapak mendapatiku kebingungan. Aku balik menatapnya, meminta jawaban.

***

“Setiap kali menjatuhkan biji jagung, jangan lupa membaca satu salawat yang sudah bapak ajarkan sejak kamu kecil.” Bapak berbisik pelan dan melanjutkannya, “Lalu kamu bayangkan bahwa Tuhan sedang tersenyum padamu.” Sontak aku terkejut pada bisikan terakhirnya.

Mula-mula, aku mulai memejamkan mata. Segala sesuatu yang beranak-pinak di kepalaku lenyap. Aku menunduk, perlahan-lahan mulai menjatuhkan satu butir jagung sambil membaca salawat. Satu butir jatuh, satu getaran membuat hatiku sejuk, terus menerus seperti itu. Tiba-tiba, kurasakan jiwaku serasa melayang meyusuri koridor zig-zag, membawaku ke sebuah kehidupan antah-berantah, semuanya serba putih.

Baca Juga  Sayap-Sayap Malaikat (1)

Mataku tetap terpejam, sedangkan orang-orang sepertinya sudah berdiri membaca salawat bersama-sama. Aku masih di posisi semula, butir jagung digenggamanku tak kunjung habis, jatuh satu persatu. Keringat membasahi kening dan mengalir ke sekujur tubuh.

Saat ini pandanganku fokus pada titik pendar cahaya. Kepalaku semakin terasa pening. Aku mendengar lagi bisikan bapak masuk melewati gendang telinga kiri, “Kamu harus belajar banyak untuk merayu Tuhan, Nak.” Keringatku semakin deras mengalir.

***

Tanpa sengaja, dari cahaya yang kulihat, ada seseorang berpakaian putih. Dia mengulurkan tangan kepadaku. Aku sempat kebingungan, sejurus kemudian kuputuskan menggamitnya. Selepas itu, kurasakan bapak membopong tubuhku. Jagung itu terus saja aku jatuhkan sambil membaca salawat. Di sampingku, ibu mengusap dahiku dengan kain hangat. Di setiap usapannya, samar-samar kudengar ibu membaca salawat. Butir jagung dalam genggamanku tak kunjung habis.

Esok harinya, saat matahari baru saja meyapa penduduk desa, aku bangun dan bangkit dari ranjang. Aku masih penasaran dengan kejadian semalam. Langkah kaki yang agak lemas aku paksa untuk menuju halaman rumah. Aku berdiri seperti patung, melihat orang-orang pergi ke ladang dengan wajah bersinar.

Masih dalam keadaan bingung, aku mandi dan sarapan sebelum berangkat sekolah. Saat hendak sungkem sebelum berangkat sekolah, bapak dan ibu tersenyum padaku.

Bagikan
Post a Comment