Menyelami Figur Bapak: Pahlawan dalam Kesunyian
Figur dan profil bapak itu misterius. Mungkin selama ini kita tahu bahwa bapak, atau sebutan lainnya seperti ayah, papa, abah, baba, atau lainnya; adalah sosok yang sering diasosiasikan dengan seorang yang tidak ekspresif. Kecenderungan diamnya seringkali dikaitkan oleh mayoritas laki-laki yang memang tak terlalu berekspresif seperti perempuan.
Bahkan, jumlah kata yang biasa diucapkan antara laki-laki dan perempuan yang terlewat timpang bedanya juga menjadi contoh mengapa sosok laki-laki itu tak cenderung mampu menjelaskan emosi atau perasaannya lewat kata-kata. Namun, untuk pertama kalinya, di malam ulang tahun itu, bapak—sosok yang sering saya sandingkan dengan kesunyian—itu menunjukkan rasa sayangnya.
Sebagai anak yang tumbuh dari keluarga yang kurang berekspresif terhadap banyak emosi, saya cukup sulit memahami emosi-emosi yang sering muncul oleh orang sekitar saya; termasuk keluarga. Kami sekeluarga—beranggotakan lima orang—bisa disebut jarang untuk mengobrol hal-hal serius; jangankan itu, hal basa-basi pun canggung.
Perhatian antara satu dan lainnya lebih sering ditunjukkan lewat perlakuan; sekedar mengangkat air galon tanpa disuruh, paham jam pulang malam jika sedang berada di luar, atau sekedar ingat membawa makanan pulang. Dan, terlepas dari basic skill itu, bapak melakukannya dengan susah payah sebab sembari menunjukkan perasaannya pada kami di rumah.
Pada malam ulang tahun itu, tidak lazim seperti ulang tahun sebelumnya, saya mendapatkan kata ucapan dari bapak untuk yang pertama kalinya saya dengar dengan jelas selama 20 tahun. Berisikan doa-doa singkat untuk terus semangat belajar, mencari makanan yang enak untuk hari spesial, dan beliau juga mengirimkan sejumlah uang untuk membuat perayaan kecil itu.
***
Saya sedikit canggung untuk perhatian yang bertubi-tubi diberikan itu. Perhatiannya bukan seperti yang biasanya di rumah ditunjukkan seperti act of service yang menjadi bahasa cinta utama keluarga kami; pertama kalinya juga, saya menangis oleh ucapan sederhana itu; karena akhirnya saya tahu bahwa bapak yang jarang minta ditelepon itu tidak canggung pertama kalinya untuk mengungkapkan doa-doa sembunyinya.
Kita lazim tahu bahwa laki-laki, selain kurang ekspresif, mereka juga canggung bercerita soal apa yang mereka rasakan. Susah, sedih, bahagia, atau bingung, tak dapat dilihat secara sekilas dari rautnya. Pun juga dengan bapak. Mungkin ini juga tipikal orang tua pada anaknya; mereka akan cenderung tertutup untuk masalah yang tak ada sangkut pautnya pada hubungan orang tua-anak.
Namun, yang sedikit berbeda dari sosok bapak dan soal sembunyi ialah bapak cenderung lebih rapi dalam diam. Tidak meledak pada waktunya sebagaimana jika ibu—ini ibu saya, ya—bila sudah ada ‘waktunya’, akan bercerita sendiri. Sosok pendiam itu seringkali jadi penyebab mengapa kita—sebagai anak—sering kabur untuk melihat wujud cintanya. Fenomena kecanggungan berbicara itu terkadang menjadi kekurangan bapak dari sosok bapak lainnya.
***
Di beberapa kesempatan, barangkali kita pernah bermimpi atau mengkhayal tentang sosok bapak impian kita. Misalnya dalam film “Sabtu Bersama Bapak”, saya menemukan figur impian saya mengenai laki-laki yang berkeluarga. Atau mungkin pembaca pernah membayangkan sosok bapak dengan privilese yang mulus, penuh perhatian, atau sosok bapak yang punya banyak waktu luang.Sosok bapak yang kita khayalkan itu memenuhi apa yang tidak dimiliki oleh sosok bapak milik kita sendiri.
Tetapi yang unik ialah, ketika kita terlalu takjub dan membandingkan apa yang kita bayangkan dari figur bapak itu, nyatanya sedikit mengaburkan pandangan kita pada kesempurnaan dan ketidaksempurnaan bapak. Figur bapak di dunia nyata tidaklah sempurna. Pun kalau sempurna, figur bapak yang sempurna bagi saya itu hanyalah sosok Luqman al-Hakim yang kisahnya dan nasihat-nasihatnya diabadikan dalam Surah Luqman (Surah ke-31).
Sebagai anak, kita mesti paham bahwa figur bapak akan terekspos bila kita menyelaminya dalam gelap. Masih banyak hal-hal yang tidak kita ketahui selama mereka memenuhi nafkah kita dari berbagai cara. Boleh, kita boleh kecewa pada bapak untuk hal-hal yang seringkali dilalaikan. Tetapi, bapak adalah bapak. Tanpanya, mungkin kita juga tak ada di dunia ini.
***
Bila bapak terlanjur membuat kita kecewa, tak ada salahnya sedikit mengikis canggung di depannya. Sosok bapak hanyalah manusia biasa yang penuh potensi berbuat salah dan egois; tetapi untuk mengetahui alasan di balik itu, mungkin kita perlu menyelami lagi sosok itu bersama kesunyiannya. Alasan-alasan terselubung dari tiap tingkah lakunya seringkali mampu menjadi penerang agar kita dapat melakukan rekonsiliasi dengannya; hasilnya, mungkin kita menjadi tahu mengenai perasaannya, emosi sesaatnya, kondisi hatinya, atau jauh lebih dari itu, kita bisa menyelamatkan bapak dari kesulitan yang ia lewati.
Kisah bapak yang kurang mampu berekspresif menyisakan anak-anak yang harus berpetualang mencari cintanya. Dari kebiasaannya hari-hari, sebagai sosok pencari nafkah, batas cinta dan kewajiban itu menjadi bias. Namun, bagi saya, apa yang telah dilakukan bapak dalam diam ialah mencoba menjadi jembatan hidup bagi saya dan adik-adik. Untuk kerja keras bapak, terima kasih yang pantas untuknya ialah hidup menjadi anak yang penuh cinta bagi semua orang; tanpa menyembunyikan dan canggung kembali.
Mahasiswa Manajemen Pendidikan UNY
