f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
remaja

Perempuan dan Nasib Mimpi-mimpinya; Kisah Perempuan Remaja dalam Cengkraman Militer

“Dunia luar tak ada yang tahu tentang mereka. Tak ada yang memperhatikan nasib mereka. Mereka menjadi tawanan lingkungan hidup sendiri. Mereka menjadi buangan seakan tak punya masa lalu lagi.”

Begitulah kiranya sepenggal kisah suram dari perempuan remaja di Pulau Buru. Mereka menjadi buangan di negara sendiri dengan menyembunyikan identitas asli mereka; bukan tanpa sebab; melainkan karena ketidakmampuan dan juga hasutan dari serdadu Dai Nippon pada jamannya.

Mereka terpaksa harus hidup jauh dari keluarga, jauh dari peradaban dan terpencil. Kehidupan remaja yang semestinya bisa mereka dapatkan dengan penuh bahagia dan layak, harus kandas di tengah jalan. Mereka kubur dalam-dalam mimpi itu bersama dengan identitas mereka, hanya tinggal bayangan-bayangan kelam yang menyelimuti mereka.

Remaja perempuan dan impiannya

Manusia normalnya tak lepas dari yang namanya impian. Masing-masing kita pasti memiliki impian/ target yang akan kita capai, baik dalam jangka waktu pendek maupun panjang. Impian itu sudah kita bayangkan mungkin sejak masa kanak-kanak, kita membayangkan suatu saat nanti akan menjadi seperti apa.

Berandai-andai kelak akan menjadi seorang dokter yang bisa mengobati orang sakit, menjadi seorang guru karena suka dengan anak kecil, menjadi seorang polisi agar bisa mengatur lalu lintas, menjadi seorang pramugari agar bisa keliling dunia dan masih banyak lagi.

Masa depan adalah milik mereka yang percaya akan keindahan dari mimpi-mimpi mereka(Eleanor Roosevel).

Dan masa remaja adalah waktu yang tepat untuk kita mencari jati diri kita, karena pada masa ini kita sudah bukan anak kecil lagi; tetapi juga belum bisa memegang tanggungjawab yang besar. Periode ini bisa kita sebut dengan peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa, banyak perubahan-perubahan yang kita alami, mulai dari fisik, emosi, dan psikis.

Baca Juga  Gadis Kretek: Sebuah Refleksi

Kita mulai melihat bagaimana indahnya dunia luar dan terbang bebas dengan membawa sejuta impian. Mulai mengandaikan pendidikan tinggi, jabatan yang bagus, suami yang ideal dan juga kehidupan rumah tangga yang harmonis.

Namun dalam masyarakat, peran-peran yang perempuan hanya berputar di ranah domestik, seperti dalam kosa kata Jawa “dapur, sumur, kasur”, sementara kaum laki-laki menguasai peran-peran penting di dalam masyarakat. Perempuan tugasnya adalah mendidik anak, merawat dan mengelola kebersihan dan keindahan rumah. 

Momok itulah yang kemudian menjadi penghalang perempuan untuk mengejar mimpinya. Bahkan tak jarang perempuan yang bersekolah tinggi, mendapat pekerjaan yang bagus dipandang sebelah mata oleh masyarakat.

Sebatas janji

Dalam buku Pramoedya Anantha Toer yang berjudul Perempuan Remaja dalam Cengkraman Militer, diceritakan bagaimana pilunya kisah perempuan remaja jaman dahulu. Berawal dari sebuah “janji manis” serdadu Jepang kepada perempuan remaja untuk mengenyam pendidikan di Jepang. Namun janji itu hanya manis dimulut saja, tak sesuai dengan kenyatannya.

Banyak remaja yang rela berpisah dengan keluarga, merelakan masa mudanya untuk berkelana di negara orang dengan membawa harapan yang tinggi; menjadi manusia yang lebih berilmu dan berpengtahuan. Justru harus di hadang oleh kenyataan pahit yang tidak pernah mereka bayangkan sama sekali.

Masa muda mereka hancur ditangan serdadu Jepang, impian mereka sirna begitu saja. Mereka dipaksa untuk memasuki kekejian, kemesuman dan juga kehinaan.  Pagi, siang, malam mereka harus “melayani” para serdadu Jepang dan tak jarang juga mereka mendapat kekerasan baik secara fisik maupun psikis yang membuat mereka menderita.

Bisa kita lihat betapa susahnya perempuan jaman dahulu dalam menuntut ilmu. Kerena memang dulu pendidikan belum seperti sekarang, hanya laki-laki saja yang boleh mencari ilmu sedangkan perempuan tugasnya di dapur.

Baca Juga  Masjid (Tanpa) Kubah dan Menara

Para perempuan remaja itu menaruh harapan yang tinggi kepada Jepang ketika mereka mengimingi–imingi akan disekolahkan; namun yang mereka dapat hanyalah beban moral yang menghalangi mereka untuk bertemu dengan keluarga. Selain itu, mereka kehilangan cita-cita, kehormatan, dan harga diri. Impian mereka hanya sebatas bunga tidur saja, jika ada pilihan, mungkin mereka memilih tidak bangun dari tidur panjangnya yang indah.

Perempuan berhak menuntut ilmu

Dalam Islam perempuan juga mempunyai tanggung jawab yang sama dengan laki-laki, yaitu mengabdikan diri kepada Allah Swt. Sebagaimana dalam surat Ad-Dzariyat ayat 56: “dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKu.”.

Islam tidak melarang perempuan untuk menuntut ilmu, asalkan tidak meninggalkan kedudukan mulianya yang telah Allah berikan. Pada jaman Rasulullah Saw, perempuan mendapat kedudukan yang terhormat. Karena sebelumnya perempuan mendapatkan kedudukan yang sangat rendah dan hina. Saking hinanya hingga kelahiran seorang anak perempuan dianggap suatu aib dan harus membunuh anak itu semasa bayi,

Stigma yang beredar di masyarakat “perempuan itu jangan sekolah tinggi-tinggi nanti susah dapat jodoh” atau mungkin “ngapain sih harus sekolah S1, S2, S3 kalo ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga?” semestinya harus dihilangkan, kenapa? Karena dalam Islam sendiri kewajiban menuntut ilmu diperuntukkan bagi umatnya, baik laki-laki maupun perempuan.

Dan hal ini telah ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ 

“Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim.”

Perempuan berpendidikan bukan untuk menyaingi laki-laki namun untuk membangun generasi yang cerdas. Karena nantinya ketika sudah berumah tangga dan memiliki anak, Perempuan akan menjadi ibu bagi anak-anaknya; terlepas dia menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga. Tidaklah mudah menjadi Ibu sekaligus istri, maka diperlukannya ilmu.

Baca Juga  500 Dibalas 50.000
Untukmu,

Bersyukurlah masih memiliki keluarga yang mendukung segala aktivitas, memberikan fasilitas untuk mengasah segala kemampuan, menjadi tempat untuk pulang, sebagai tempat bercerita di kala bahagia maupun sedih. Kita masih bisa merasakan kehidupan yang nyaman jauh dari kata susah, mungkin kehidupan kita inilah yang orang laur inginkan.

Lihatlah berapa banyak anak yang putus pendidikannya karena masalah ekonomi keluarganya; berkeliaran di pinggir jalan raya membawa koran, tak jarang juga botol bekas mereka gunakan untuk mengiringi nyanyian mereka, di bawah terik matahari dengan pakaian yang tak layak.

Orang tua menaruh harapan kepada sang anak, mereka akan melakukan segala cara agar sang anak mendapat kehidupan yang layak. Hidup di dunia yang serba canggih ini memberikan kemudahan bagi kita dalam mencari ilmu. Banyak sekali kita jumpai situs-situs yang berisikan pembelajaran dari berbagai jenjang pendidikan.

Terakhir, pesan dari Imam Syafi’i yang sudah tidak asing lagi “Jika kamu tidak tahan terhadap penatnya belajar, maka kamu akan menanggung bahanya kebodohan.”

Bagikan
Post a Comment